Khutbah Idul Adha 1447 H/ 2026 M
“Menyalakan Ruh Udhiyah, Membangkitkan Peradaban Umat”
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ (9x)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah shalat idul adha yang berbahagia
Hari ini adalah hari terakhir dari 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, terkumpul padanya banyak keutamaan. Dari segi keutamaan bulan Dzlhijjah itu sendiri sebagai bulan suci, dari sisi keutamaan hari-hari terbaik dalam setahun, dan di antara ulama memandang inilah hari terbaik sepanjang tahun, bahkan lebih utama dari hari Arafah.
إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ
Dari Abdullah bin Qurth dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Sesungguhnya hari yang teragung di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah hari Nahr (Hari Raya Kurban), kemudian hari Qarr (setelah hari Nahr).” (H.R. Abu Dawud 1765)
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha Illallaah, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Walillaahil Hamd
Udhiyah bukan sekadar penyembelihan hewan kurban, melainkan manifestasi nyata dari ketaatan dan penghambaan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia adalah simbol pengorbanan total yang berakar dari kisah agung Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam. Allah Ta’ala berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡیَ قَالَ یَـٰبُنَیَّ إِنِّیۤ أَرَىٰ فِی ٱلۡمَنَامِ أَنِّیۤ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ یَـٰۤأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِیۤ إِن شَاۤءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِینَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'” (QS. As-Saffat: 102)
Ayat ini menggambarkan puncak keikhlasan dan kepatuhan, yang kemudian menjadi dasar disyariatkannya ibadah kurban. Ruh udhiyah yang lahir dari kisah ini adalah ruh taat, pasrah, dan rela mengorbankan sesuatu yang dicintai demi keridhaan Allah. Dalam konteks kehidupan modern, nilai ini menjadi kunci untuk membangun manusia yang tangguh secara spiritual dan berintegritas secara moral.
Lebih dari itu, Allah Ta’ala menegaskan bahwa esensi kurban bukanlah pada daging atau darahnya, melainkan pada ketakwaan yang melandasinya:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menegaskan bahwa ruh udhiyah adalah ruh keikhlasan. Dalam peradaban umat, nilai ini sangat penting karena ia melahirkan tindakan yang bersih dari riya’, pencitraan, atau kepentingan duniawi semata. Ketika umat Islam membangun segala aktivitasnya di atas ketakwaan, maka peradaban yang lahir bukan hanya maju, tetapi juga bermartabat.
Kaum muslimin rahimakumullah
Selain sebagai bentuk ibadah individual, udhiyah juga merupakan instrumen sosial yang kuat. Keutamaan kurban sebagai ibadah yang memiliki dampak luas. Daging kurban yang dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan masyarakat luas menjadi simbol pemerataan dan kepedulian sosial. Inilah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang adil dan penuh kasih sayang.
Allah Ta’ala berfirman,
قُلۡ إِنَّ صَلَاتِی وَنُسُكِی وَمَحۡیَایَ وَمَمَاتِی لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
“Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam” (QS. Al-An’am: 162)
Ayat ini sering dijadikan landasan dalam memahami totalitas penghambaan, memperluas makna udhiyah dari sekadar ritual tahunan menjadi prinsip hidup. Setiap aspek kehidupan seorang Muslim sejatinya adalah “kurban” dalam arti pengabdian total kepada Allah. Jika ini diterapkan secara kolektif, maka akan lahir peradaban yang berlandaskan nilai ilahiyah.
Kaum muslimin rahimakumullah
Ruh udhiyah juga melatih jiwa untuk melawan sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ وَجَد سَعَةً فلم يُضَحِّ فلا يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنا
“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki), tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini memberikan peringatan keras tentang pentingnya berbagi dan berkorban. Dalam konteks peradaban, sifat dermawan dan kepedulian sosial adalah pilar utama dalam membangun masyarakat yang kuat. Kikir dan egoisme adalah penyakit yang dapat meruntuhkan bangunan sosial umat.
Lebih jauh, udhiyah mengajarkan keseimbangan antara spiritualitas dan sosialitas. Islam tidak hanya menekankan hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Semangat berbagi dalam kurban adalah bentuk nyata dari ayat ini. Ketika umat Islam saling membantu dan peduli, maka mereka membentuk jaringan sosial yang kokoh. Inilah dasar lahirnya peradaban yang tidak rapuh oleh konflik internal.
Dalam perspektif pembangunan umat, ruh udhiyah juga melahirkan kepemimpinan yang amanah. Pemimpin yang memahami hakikat pengorbanan akan memimpin dengan hati, bukan hanya dengan kekuasaan. Ia rela mengorbankan kepentingan pribadi demi kesejahteraan rakyatnya. Sejarah mencatat bahwa kejayaan umat Islam di masa lalu tidak lepas dari pemimpin yang memiliki jiwa pengorbanan tinggi.
Jama’ah shalat id yang dimuliakan Allah Ta’ala
Selain itu, udhiyah juga berfungsi sebagai sarana pendidikan generasi. Anak-anak yang diajak memahami makna kurban akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak egois dan lebih peduli terhadap sesama. Mereka belajar bahwa kebahagiaan bukan hanya pada memiliki, tetapi juga pada memberi. Ini adalah investasi jangka panjang dalam membangun peradaban umat.
Menghidupkan ruh udhiyah berarti memperluas maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Kurban tidak hanya berupa hewan, tetapi juga waktu, tenaga, pikiran, bahkan ego pribadi demi kebaikan bersama. Seorang guru yang mengorbankan waktunya untuk mendidik, seorang pemimpin yang mengorbankan kenyamanannya demi rakyat, atau seorang relawan yang membantu tanpa pamrih, semuanya adalah manifestasi dari ruh udhiyah.
Kebangkitan peradaban umat sangat bergantung pada sejauh mana nilai-nilai udhiyah diinternalisasi. Jika umat Islam mampu menghidupkan kembali semangat keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial, maka tidak diragukan lagi bahwa mereka akan kembali menjadi pelopor peradaban dunia yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا رَحۡمَةࣰ لِّلۡعَـٰلَمِینَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Dengan menyalakan ruh udhiyah dalam hati dan kehidupan, kita tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga sedang membangun kembali fondasi peradaban yang kuat, beradab, dan diridhai oleh Allah Ta’ala.
Kaum muslimin Jama’ah shalat id yang berbahagia rahimakumullah
Hari ini dan 3 hari berikutnya, yaitu 10, 11, 12, dan 13, seorang muslim tidaklah diperkenankan berpuasa, kecuali jamaah haji pada hari tasyriq yang tidak mendapatkan hadyu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ
“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada dua hari, yaitu pada hari Idul Adha dan Idul Fithri.” (HR Muslim 1138)
Dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhum keduanya berkata,
لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ
“Tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari tasyriq kecuali bagi siapa yang tidak mendapatkan Hadyu”. (HR Al Bukhari no. 1997, dan 1998)
Kaum muslimin rahimakumullah
Berdzikir kepada Allah Ta’ala dilakukan setiap hari, tapi untuk hari-hari mulia ini, dimulai dari awal masuknya bulan Dzulhijjah beberapa hari lalu dan terlebih lagi di hari ini serta 3 hari ke depan, lebih ditekankan untuk memperbanyak berdzikir kepada Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya,
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan.” (Qs Al-Baqarah: 203)
Dzikir yang dimaksud adalah dzikir apa saja yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, seperti takbir mutlaq dan muqayyad.
Takbir mutlaq kapan saja, mulai masuknya magrib malam pertama bulan Dzulhijjah hingga terbenamnya matahari tanggal 13 Dzulhijjah.
Adapun takbir muqayyad maka terikat, setiap selesai shalat fardhu 5 waktu, dimulai setelah shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah hari Arafah hingga shalat ashar tanggal 13 Dzulhijjah.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha Illallaah, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Walillaahil Hamd.
Perlu juga diingatkan ketika makan dan minum diniatkan untuk memperkuat beribadah, jangan asal mengenyangkan perut. Rasulullah ﷺ bersabda,
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ
“Hari-hari tasyriq adalah hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah.” (HR Muslim 1141)
Kemudian memperbanyak doa bukan sekedar doa kebaikan dunia namun kebaikan dunia dan terlebih kebaikan akhirat dan dijauhkan dari neraka, sebagaimana yang Allah sebutkan di antara ayat-ayat haji, yaitu doa sapu jagat
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (Q.S. Al-Baqarah, Ayat 201)
Begitu juga dzikir-dzikir lainnya yang dianjurkan untuk kita membacanya dalam aktifitas keseharian kita, seperti dzikir pagi petang, dzikir ketika masuk masjid, keluar masjid, dzikir saat naik kendaraan, dan seterusnya.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha Illallaah, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Walillaahil Hamd.
Sebagai penutup, mari kita memperbanyak doa kepada Allah Ta’ala
Ya Allah, jagalah para pemimpin kami, berikanlah selalu kepada mereka hidayah dan petunjukMu dalam memimpin bangsa ini, lindungilah negeri ini dari segala mara bahaya dan musibah, jadikanlah negeri kami negeri baldatun thayyibah, baldatun aminah muthmainnah, dan negeri yang senantiasa tercukupi, dan terhindar dari ketakutan dan kelaparan. Begitu juga negeri kaum muslimin lainnya, khususnya palestina saat ini.
Ya Allah, jadikanlah pemuda pemudi di antara kami menjadi manusia-manusia yang tangguh tumbuh taat kepada-Mu agar kekuatan fisik dan berpikir mereka digunakan dalam kebaikan, ketaatan, dan perbaikan pada ummat ini.
Ya Allah, sayangilah kedua orangtua kami, jagalah mereka yang masih hidup, dan rahmatilah mereka yang telah meninggal dunia, berilah kami taufiq untuk senantiasa menjadi anak-anak yang shalih dan berbakti, merekalah yang telah berjuang untuk kehidupan kami, jagalah mereka, rahmatilah mereka.
Ya Allah, bantulah kami membimbing anak-anak kami, keturunan kami, jadikanlah mereka anak-cucu yang bisa membanggakan kami di dunia terlebih lagi di akhirat.
Ya Allah, mudahkanlah urusan para jomblowan jomblowati kami dalam menuju pernikahan, berikanlah keturunan di antara kami yang telah menikah bagi yang belum memilikinya.
Ya Allah, jadikanlah kami yang telah Engkau karuniai pasangan yang sah menjadi pasangan yang Engkau ridhai, masukanlah kami semua ke dalam surga firdaus-Mu. Berikanlah kami keberkahan selalu dalam kehidupan rumah tangga kami.
Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, berkahilah kami, jagalah kami, jauhkanlah kami dari neraka-Mu, dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu. Berikanlah pertolongan kepada hamba-hamba-Mu yang lemah, balaslah kebaikan orang-orang baik dan dermawan kami, berikanlah curahan rahmat-Mu kepada kaum muslimin dan muslimat yang telah mendahului kami, dan matikanlah kami semuanya dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin, aamiin, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسࣲ وَ ٰحِدَةࣲ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالࣰا كَثِیرࣰا وَنِسَاۤءࣰۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِی تَسَاۤءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَیۡكُمۡ رَقِیبࣰا
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ (7x)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
