Ada yang ajaib dari rasa cinta yang muncul tiba-tiba. Ialah saat pasangan yang telah menikah mengetahui bahwa telah tumbuh janin di rahim sang istri. Perlahan tapi pasti rasa cinta itu datang kepada calon bayi yang tengah berkembang tersebut, bahkan sebelum calon orang tuanya menatap langsung pada sosoknya yang masih berada di alam rahim.
Dan tentu kita semua tahu, betapa tidak mudahnya menjalani masa kehamilan, kemudian melahirkan yang rasa sakitnya konon setara dengan patahnya sekian ruas tulang secara bersamaan. Rasa sakit yang melebihi ambang batas yang sedianya ditanggung oleh kaum wanita yang kadang diidentikkan dengan kelemahan. Namun, lihatlah senyum sumringah yang seketika muncul pada wajah seorang wanita yang baru saja melahirkan itu! Kadang ia ditingkahi pula dengan tangisan haru yang menyeruak mengharu biru. Seketika kebahagiaan membuncah, hormon oksitosin terpacu dan menutupi segala nyeri dan pedih yang beberapa waktu lalu telah memuncak. Rindu pada sosok yang dikandung berbulan-bulan itupun tuntas dalam satu episode kelahiran. Segala kelelahan yang telah dilalui –lelah, lelah yang bertambah-tambah itu, sedemikian sirna dengan menatap wajah polos sang bayi. Itulah cinta.
Demikian pula dengan peran sang ayah. Dengan rela ia menguras tenaganya, membanting tulang untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah sebagai nafkah untuk istri dan anak-anaknya. Ditinggalkannya masa muda yang penuh kebebasan waktu dan materi. Ditahannya keinginan-keinginannya sendiri. Dan selelah-lelahnya ia saat pulang dari bekerja itu akan seketika sirna saat disambut hangat dengan senyum dan celotehan si kecil. Segala penat dan capek terlupakan sejenak. Ia bahkan rela kembali mengembangkan pelukan dan gendongannya meski telah pegal seluruh raga, demi menuntaskan rindu yang terjeda di waktu bekerja kepada sang ananda. Dan, itu pula cinta.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan rasa cinta yang menjadi fitrah bagi setiap orang tua itu kepada anak-anak mereka. Sehingga pengorbanan yang dilakukan menjadi terasa ringan demi melihat kebaikan kepada para ananda. Segala bentuk kasih sayang dan perlindungan kepada mereka rela kita curahkan sebegitu rupa. Bahkan ingatlah masa-masa ketika mereka jatuh sakit, seketika rasanya para orang tua rela rasa sakit itu berpindah saja kepada dirinya agar berkurang beban yang harus ditanggung oleh si anak. Kekuatan yang diluar kebiasaan pun seketika muncul, ayah dan bunda menjadi sanggup menggendong sekian kilo anaknya sepanjang malam, untuk memberikannya rasa nyaman. Menggelontorkan sekian rupiah pun tidak lagi dipikirkan asalkan si anak segera sembuh dari penyakitnya.
Tapi, apakah cukup sampai di situ?
Duhai, ayah dan bunda… Cobalah tatap dalam-dalam wajah si kecil saat ia sedang terlelap. Lihatlah betapa polosnya ia dan betapa ia adalah anugerah yang sangat besar bagi kita. Sungguh, ia tidak dapat memilih dari rahim siapa dan dari keluarga macam apa ia dilahirkan. Di luar sana, mungkin ada begitu banyak pasangan lain yang sangat menginginkan hadirnya seorang anak dalam rumah tangga mereka, namun Allah belum menakdirkannya.
Maknailah bahwa dalam setiap episode kelahirannya adalah awal dari sebuah tanggung jawab besar, dunia dan akhirat. Bagaimana kita bertanggung jawab atas kebutuhan raganya, terlebih lagi kebutuhan jiwanya. Seorang anak lahir dengan fitrah kebenaran, dan semoga kita dapat mendidik dan membesarkannya dengan menjaga fitrah itu, hingga kelak tuntas peran kita sebagai orang tua.
Betapa banyak dari kita yang saat ini merasa cukup dengan sekadar menjaga ketercukupan anak-anaknya dalam ranah materi, namun abai dari memberikan pendidikan ruhiyah. Bahkan, terkadang para orang tua menganggap tanggung jawabnya telah tuntas dengan –meminjam istilah pakar parenting Elly Risman; ‘men-subkontrakkan’ pendidikan anak-anak mereka kepada guru-gurunya di sekolah, seolah dengan itu tugasnya sebagai orang tua telah selesai. Padahal, sekali-kali tidak!
Duhai ayah dan bunda, jangan sampai kelak kita menjadi orang-orang yang menghalangi anak-anak kita dari kebenaran hanya karena ketidaktahuan kita. Sungguh, setiap anak berhak dibesarkan oleh para orang tua yang shalih, yang juga bertanggung jawab untuk mendidik anaknya hingga turut pula memiliki keshalihan yang sama.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam salah satu karyanya mengutip perkataan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, “Didiklah anakmu! Karena kamu akan ditanya tentangnya; pendidikan apa yang telah kamu berikan kepadanya? Dan pengajaran apa yang telah kamu berikan kepadanya? Dan, anakmu akan ditanya tentang perbuatan bakti dan kepatuhannya kepadamu.” (Diriwayatkan dari Ibnu Abid Dun-ya dan al-Baihaqi)
Maka wujud cinta para orang tua itu sudah sepatutnya diejawantahkan dalam bentuk pendidikan terbaik kepada anak-anaknya. Bukankah kita bukan hanya menginginkan anak-anak yang sehat fisiknya dan kuat raganya, bukan hanya anak-anak yang cerdas dalam ilmu-ilmu dunia sehingga membanggakan kita lewat deretan piala-piala mereka. Namun lebih dari itu, anak-anak yang sampai pada derajat sebagai anak yang shalih, sebab merekalah aset utama yang bukan hanya akan memuliakan kita di dunia, namun juga menjadi amal jariyah yang meringankan beban kita di alam barzakh dan pada perjalanan panjang menuju kampung akhirat. Yakni melalui doa-doa kebaikan yang mereka panjatkan dengan sepenuh hatinya, dengan keimanannya, untuk kita ibu dan ayahnya. Demikianlah setulus cinta para orang tua yang berbalas dengan kebahagiaan, bukan hanya di dunia, namun hingga ke akhirat kelak.
Oleh: Rifa’ah Ummu Fayyadh