Wasiat ketiga, Allah Subahanahu wata’ala berfirman,
يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ١٦
- (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui
Ibn Katsir mengomentari ayat ini, “Sekalipun perbuatan tersebut seberat biji sawi, tersembunyi dant tertutup di dalam batu besar, atau di dalam hutan belantara di kolong langit dan bumi, maka sesungguhnya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Karena bagi Allah tidak ada yang tersembunyi dari-Nya meski seberat dzarrah baik yang ada di langit atau yang ada di bumi.
Al-Qurthubi berkata, “Diriwayatkan bahwa anak Luqman bertanya kepada ayahnya tentang biji yang jatuh di kedalaman laut. Apakah diketahui oleh Allah ?”. Luqman menjawabnya dengan ayat ini, “Hai anakku, sesungguhnya jika ada seada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
Wasiat keempat, Luqman kembali menasihati putranya dan berkata,
يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٧
- Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)
Ibnu Katsir mengomentari ayat ini, “Dirikanlah shalat yaitu dengan semua ketentuannya, kewajibannya, dan waktunya, mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran sebatas kemampuan dan usahamu. Bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Karena mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran pasti mengalami penyiksaan dari orang lain, sehingga ia diperintahkan untuk bersabar. Firman Allah, “Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal – hal yang diwajibkan (oleh) Allah SWT”. Yaitu, bahwa bersabar atas kejahatan manusia termasuk hal – hal yang diwajibkan oleh Allah.
Al-Qurthubi berkata, “Secara dzhahir – wallohu a’lam – firman Allah, “Sesungguhnya yang demikian,” menunjukkan kepada mendirikan shalat, mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran, bersabar atas penderitaan dan musibah, dan semuanya merupakan hal – hal yang diwajibkan oleh Allah”.
Wasiat Kelima,
وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ ١٨
- Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri
As-Sha’ru berarti memalingkan. Awalnya, istilah ini berarti suatu penyakit yang ada pada leher unta yang membuat lehernya membengkok dari kepalanya. Kemudian ia diumpamakan bagi orang sombong dengannya.
Ibn Katsir berkata, “Jangan sombong sehingga menghina hamba – hamba Allah dan memalingkan mukamu dari mereka ketika berbicara dengan anda.”
Al-Qurthubi menyebutkan, “Jangan sampai anda memalingkan muka dari orang lain karena sombong, ujub, dan menghina mereka. Ini adalah tafsir Ibn Abbas dan Jamaah yang lain. Maksudnya, pandanglah mereka dengan kasih sayang dan perhatian. Apabila orang paling kecil berbicara, maka dengarkanlah hingga ia menyelesaikan pembicaraannya.” Begitulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Sombong adalah pernyakit hati untuk diletakkan pada posisi yang mulia, dan memandang remeh orang lain karena unsur – unsur duniawi, seperti harta dan jabatan. Padahal Allah SWT sama sekali tidak melihat unsur fisik tersebut.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuh-tubuh kalian dan tidak pula kepada bentuk-bentuk rupa kalian, tetapi Dia melihat hati-hati kalian. (HR Muslim [2564/33) dari Abu Hurairah RA).
Karena itu dalam setiap shalat, kita berdoa kepada Allah agar dibersihkan dari penyakit hati tersebut.
“Ya Allah, bersihkanlah hatiku dengan air salju dan es, dan bersihkanlah hatiku dari kesalahan-kesalahan, sebagaimana baju dibersihkan dari kotoran
Wasiat keenam, Allah SWT berfiman,
وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ١٩
- Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai
Al-Qurthubi berkata, “Ketika Luqman telah melarang anaknya dari akhlaq tercela, maka ia menjelaskan akhlaq mulia yang selayaknya dipraktikkan. Allah berfirman, “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan”. Artinya pertengahannya. Al-Qashdu (pertengahan) yaitu antara cepat dan lambat.
Allah SWT memuji sifat seperti ini dengan menyebutkannya di QS. Al-Furqan: 63,
وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا ٦٣
- Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan
Sebab berjalan dengan terburu – buru akan menyebabkan wibawa seorang mu’min akan hilang. Dan terburu – buru adalah dari syaithan.
Firman Allah, “Dan lunakkanlah suaramu”, al-Qurthubi berkata, “Maksudnya kurangilah volumenya. Jangan memaksa mengangkat suara, ambil volume suaramu seperlunya saja. Karena suara keras melebihi yang dibutuhkan akan memaksa dan mengganggu. Dan maksud dari semua itu adalah tawadhu’.
Firman Allah, “Sesungguhnya seburuk – buruk suara adalah suara keledai”. Al-Qurthubi berkata, “Yaitu yang paling jelek dan yang paling buruk. Himar (keledai) merupakan permisalan (contoh) untuk sesuatu yang sangat jelek dan aib, begitu juga suaranya. Ayat ini sebagai dalil atas jeleknya mengangkat suara ketika berbicara dan meminta, sehingga sama jeleknya dengan keledai, karena suaranya keras.
Dalam Shahih Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kalian mendengar lengkingan keledai, maka berlindunglah kepada Allah dari setean, karena melihat setan”.
Diriwayatkan bahwa tidaklah keledai melengking dan anjing menggonggong kecuali ia melihat setan. Sufyan ats-Tsauri berkata, “Lolongan semua binatang adalah tasbih, kecuali lengkingan keledai.”
Demikianlah enam wasiat Lukman kepada putranya. Semoga bisa menjadi pelajaran dan diajarkan kepada generasi muslim (wallohu a’lam bi as-showab).
Syamsuar Hamka (Kepala KB & TK Iman al-Qurbah)
Referensi: Jamal Abdurrahman, Cara Nabi Menyiapkan Generasi, Surabaya: Pustaka eLBA, 2009