Dalam setiap awal perjalanan sebuah pernikahan, tentu tidak ada satu pihak pun yang mengharapkan hal lain selain kebahagiaan. Harapan pun dilambungkan, dan doa-doa terbaik dipanjatkan. Setiap pasangan tentu menghajatkan bahtera pernikahan yang perjalanannya dihiasi dengan berkah, sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Namun, pada kenyataannya, tidak dapat dipungkiri bahwa badai dan halangan kerap kali menjadi bumbu yang ikut mewarnai hari-hari dalam penyatuan dua insan tersebut. Ya, nyatanya, keindahan kehidupan pernikahan yang melulu terisi dengan hal yang manis-manis saja kadangkala seolah ilusi yang tidak pernah bisa terwujud selama-lamanya. Di dunia yang sebenarnya, tidak ada kehidupan bahagia yang berlangsung terus menerus tanpa adanya ujian-ujian yang kerap kali datang menerpa.
Pada titik itulah terkadang terjadi berbagai macam perubahan. Sosok yang di awal-awal pernikahan nampak begitu sempurna, perlahan-lahan mulai terlihat biasa, bahkan bermunculan sisi-sisi kekurangannya. Tutur kata yang idealnya senantiasa lembut berhiaskan sanjung puji dan kemesraan, ternyata bisa berubah menjadi begitu kasar dan menggores hati manakala ujian datang menjumpai. Dan hal ini, bagaimanapun merupakan sesuatu yang sangat memungkinkan untuk terjadi mengingat setiap kita adalah manusia biasa yang berpotensi terjatuh pada khilaf dan salah, bukan malaikat yang senantiasa taat dalam kebaikan yang seterusnya. Sehingga rasa cinta bisa saja berubah seketika menjadi benci, dan kasih sayang seolah tidak lagi mempan untuk menghalau segala tindakan buruk yang bisa saja muncul saat prahara rumah tangga datang menerpa. Bahkan pada pasangan yang nampak sangat ideal dan sempurna sekalipun. Pertanyaannya adalah; mengapa hal itu bisa terjadi padahal di awal pernikahan semuanya nampak begitu serasi?
Nah, syariat mengatur kita untuk hanya boleh menikah dengan nonmahram kita. Seseorang yang dekat ataupun jauhnya, bagaimanapun tetaplah orang asing pada hakikatnya. Seseorang yang pada awalnya sama sekali tidak terkait dengan kita, dan pada dasarnya kita tidak memiliki tanggungan atasnya. Seseorang yang sebelum akad itu terucap, nyatanya bukanlah siapa-siapa bagi diri kita. Fakta ini membuat bisa menjawab pertanyaan di atas: ya, mungkin itulah sebabnya mereka bisa begitu mudah untuk saling menyakiti.
Sebab dia hanyalah orang asing, seorang lelaki mungkin bisa tega untuk mengkhianati kepercayaan dan kesetiaan pasangannya. Tidak peduli pada tanggung jawabnya. Atau memilih untuk bungkam dan bercuek ria saat bahtera yang ia nakhodai tengah dirundung badai masalah.
Sebab dia hanyalah orang asing, seorang perempuan mungkin menjadi ringan untuk menaikkan suaranya di hadapan suaminya. Menjadi santai untuk melontarkan kata-kata kasar bahkan kata-kata kotor sekalipun. Menjadi mudah untuk berkeluh kesah atas kekurangan dunia yang ia dapatkan. Lalu kemudian tidak lagi peduli untuk menjadi ‘rumah untuk pulang’ bagi suaminya.
Namun, apakah permasalahannya menjadi sesederhana itu?
Nyatanya tidak.
Nyatanya, saat akad nikah digelar, ada setumpuk hak dan kewajiban yang secara otomatis tersemat kepada pasangan suami istri itu. Perjanjian agung itu telah mengubah banyak hal. Mengubah dua orang asing yang dipertemukan oleh takdir menjadi memiliki kepentingan untuk mengekalkan kebersamaan mereka hingga ke surga.
وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا (٢١)
“…dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu Perjanjian yang kuat.” (Q.S. An-Nisa: 21)
Lelaki itu harus menafkahi keluarga yang baru saja ia miliki. Perempuan itu harus taat kepada pemimpin rumah tangganya tanpa tapi –selama bukan maksiat kepada Allah. Dan ini memang bukan perkara mudah. Ada rupa-rupa ujian yang melekat padanya. Ia tidak seindah hiasan bunga-bunga saat walimah digelar. Mungkin bahkan ia bisa menjadi lebih perih dari tertusuk duri, rasa perih yang bisa mengintai kapan saja, sebab setan sangat bangga saat bisa menghancurkan sebuah rumah tangga. Godaannya untuk melunturkan sakinah itu mungkin akan selalu muncul di antara waktu shalat dengan waktu shalat yang lain. Muncul di antara prasangka. Muncul di antara ketidakpuasan. Muncul di antara candaan yang disikapi serius oleh pasangan. Muncul di antara sikap bermudah-mudah dalam menjaga kesucian diri dan hubungan. Muncul di antara hal-hal yang tidak pernah kita duga, sebelum kita memutuskan untuk menikahinya. Hingga mungkin terbersit dalam pikiran kita; ah, seandainya aku tak menikah dengannya…
Dan mungkin, rasa penyesalan itu menjadi celah yang begitu empuk untuk setan dan kelemahan kita, untuk menyakiti pasangan dan kembali lupa pada ikrar kita yang Allah menjadi saksinya. Tiba-tiba, kita kembali menjadi orang asing yang tak sengaja bertemu di persimpangan jalan.
Maka tak ada daya dan upaya selain atas pertolongan Allah. Dan sakinah itu berasal dari-Nya. Kita mohon kepadanya dalam segala ketidakberdayaan kita. Betapa rumah tangga yang rusak bisa membuat seseorang menjadi ingin hidup lebih singkat dan menjadi begitu suram dalam menjalani hari-harinya.
Dan cukuplah kesadaran akan betapa agungnya pernikahan itu, yang menjadi pegangan bagi kita untuk bertahan dalam badai yang menerpa. Yang menjadi sandaran saat kita merasa lelah.
Ada orang asing di sisi kita yang telah menyiapkan jemarinya untuk kita dekap bersama. Orang asing yang Allah perjumpakan dengan kita, bukan tanpa sebuah hikmah besar yang ada di baliknya. Dialah mungkin yang akan menjadi ladang untuk kita menuai syukur dan sabar bersama, menyusun satu demi satu batu bata untuk membangun peradaban, saat kemudian bibir kita dapat mengucap tentangnya: sungguh, aku ridha atas dirinya.
Oleh: Rifa’ah Ummu Fayyadh