Khutbah Jumat
Haji Bagi Yang Allah Mampukan
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral muslimin jama’ah Jumat yang berbahagia
Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang 5. Rukun-rukun tersebut adalah asas dan pondasi dasar keislaman seorang muslim. Jika rukunnya bermasalah, maka keislamannya pun ikut bermasalah.
Disebutkan dalam hadits tentang rukun islam ini. Rasulullah ﷺ bersabda,
الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah shallallahu alaihi wasallam, engkau mendirikan salat, engkau menunaikan zakat, engkau berpuasa Ramadan, dan engkau berhaji ke Baitullah jika engkau mampu bepergian kepadanya.’ (H.R. Muslim no. 8)
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kewajiban haji,
فِيهِ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ
Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqām Ibrāhim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam. (Q.S. Ali ‘Imran, Ayat 97)
Jama’ah Jumat yang sama mengharapkan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Haji adalah impian bagi setiap muslim dan muslimah. Haji adalah cita-cita bagi setiap kita yang ada di masjid ini dan di luar sana. Haji adalah dambaan setiap manusia yang merindukan baitullah dan syiar-syiar haji seperti mina, muzdalifah, arafah, dan seterusnya.
Tentunya kita semua mengharapkan bisa suatu saat melaksanakan haji. Bahkan bagi yang telah menunaikannya, bagi yang telah merasakannya, bagi yang telah menikmati indahnya dan kenikmatan haji, mereka tetap rindu kembali untuk melakukannya berkali-kali.
Keutamaan berhaji begitu sangat banyak, di antaranya adalah:
Pertama: Haji mabrur termasuk amalan yang paling utama
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata; Ditanyakan kepada Nabi ﷺ: “‘Amalan apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan rasul-Nya”. Kemudian ditanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad fii sabiilillah”. Kemudian ditanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Haji mabrur”.(HR. Bukhari no. 1519)
Kedua: Sebagai amalan yang menjadi sebab dosa terhapus. Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Siapa yang berhaji karena Allah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).
Ketiga: Balasan haji mabrur adalah surga. Rasulullah ﷺ bersabda,
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349).
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya saja. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim, 9/119)
Kaum muslimin rahimakumullah
Setelah mengetahui keutamaan haji, maka perlu kita ingatkan tentang perkara niat haji meski belum sempat berangkat, dan bahkan bagi yang telah melaksanakannya dianjurkan tetap berniat haji.
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَعَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ وَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ
“Barangsiapa berkeinginan untuk kebaikan namun belum melakukannya maka dicatatlah untuknya sebagai satu kebaikan, dan barangsiapa berkeinginan untuk suatu kebaikan lalu melakukannya maka dicatatlah untuknya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat. Dan barangsiapa berkeinginan untuk kejelekan namun belum mengerjakannya, maka tidak dicatat sebagai dosa, namun jika dia mengamalkannya maka ditulislah sebagai satu dosa untuknya.” (H.R. Muslim 130)
Ada banyak pelajaran dari hadis ini, namun kami akan menyebutkan khusus yang berkenaan dengan pembahasan haji.
Jamaah jumat rahimakumullah
Tentunya ibadah haji adalah suatu kebaikan, maka masuk dalam hadits tersebut. Jika seseorang berniat melakukannya namun belum sempat, belum mampu, dan belum bisa, maka akan mendapatkan pahala satu kebaikan. Apabila berniat haji dan melakukannya maka mendapatkan 10 kali lipat hingga 700 kali, bahkan tanpa batas.
Oleh karena itu, perlu untuk tetap berniat haji, tanamkan dalam hati, bulatkan tekad, azamkan dalam diri untuk melaksanakan haji, baik itu bagi yang belum pernah, dan juga yang telah pernah, agar tetap mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala, juga bisa saja dengan niat tersebut, Allah Ta’ala akan berangkatkan dalam waktu tahun berikutnya aamiin
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala
Pernahkah kita dengar berita tukang becak naik haji, tukang bubur naik haji, penjual kecil-kecilan, dan semacamnya naik haji? Mereka tentunya memiliki tekad yang kuat dan azam yang besar sehingga Allah Ta’ala memudahkan bagi mereka.
Betapa banyak orang memiliki harta yang melimpah, dan uang yang banyak, disertai badan yang kuat, dan jasad yang sehat, namun tidak memiliki niat berhaji, hingga masa tuanya belum sempat berhaji, na’udzubillah mindzalik.
Jamaah haji saat ini sudah berdatangan perrombongan, mereka adalah tamu-tamu Allah yang berhasil memenuhi panggilanNya, semoga suatu saat kita termasuk hamba-hambanNya yang diberikan kesempatan berkali-kali melaksanakan ibadah mulia ini.
Mari tetap terus berusaha menuju panggilan Allah untuk menunaikan rukun islam yang kelima ini. Jika sampai kita wafat, belum juga naik haji, maka semoga Allah Ta’ala mengganjar niat-niat baik kita.
Jamaah kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Demikian khutbah pertama ini, semoga Allah Ta’ala memberikan kita kesempatan berkali-kali mengunjungi haramain syarifain dan melaksanakan ibadah-ibadah mulia di sana, masih banyak hal tentang haji, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudari kita di Palestina, semoga Allah mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
