Khutbah Jumat
Hubungan Terlarang
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin rahimakumullah
Mari terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan serta memperbanyak shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ.
Pada kesempatan khutbah kali ini, izinkan kami selaku khatib untuk membawakan tentang hubungan terlarang, peristiwa sangat menjijikkan, kejadian perzinaan yang merupakan dosa besar merebak di tengah umat manusia.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. [Qs. Al-Isra’: 32]
Imam Al-Qurtubi rahimahullah berkata, para ulama menyatakan, “Ini lebih kuat dari pada sekadar mengatakan ‘janganlah berzina’, karena makna ayat tersebut adalah jangan mendekati zina.” (Tafsir al Qurthuby 10:253)
Langkah-langkah menuju perzinaan sering kali dimulai dari tindakan atau situasi yang tampaknya sepele, tetapi secara bertahap dapat membuka pintu ke arah perbuatan zina. Dalam Islam, penting untuk menghindari semua hal yang dapat menjadi pintu masuk menuju zina.
Berikut beberapa faktor yang dapat membawa seseorang kepada perzinaan:
Pertama: Pandangan yang Tidak Dijaga
Pandangan mata adalah salah satu pintu menuju zina. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 30-31, yang menginstruksikan pria dan wanita untuk menundukkan pandangan mereka. Ketika seseorang tidak menjaga pandangannya dan terus melihat hal-hal yang haram, termasuk aurat lawan jenis, ini bisa membangkitkan nafsu dan keinginan yang tidak sesuai dengan syariat.
Kedua: Berkhalwat (Berduaan)
Berkhalwat, yaitu berduaan antara pria dan wanita tanpa kehadiran mahram, merupakan salah satu langkah menuju zina. Rasulullah ﷺ bersabda
لَا يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا
“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita, karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua.” (HR. Ahmad)
Ketiga: Berlebihan dalam Komunikasi
Komunikasi yang tidak perlu, baik secara langsung maupun melalui media sosial atau pesan teks, bisa menjadi pintu menuju perzinaan jika dilakukan tanpa batasan yang jelas. Ketika komunikasi menjadi terlalu intim, genit, atau melibatkan pembicaraan yang menggoda, maka ini bisa mengarah pada hubungan yang lebih jauh.
Keempat: Pergaulan Bebas
Pergaulan bebas tanpa memperhatikan batasan syariah, seperti bercampur baur antara pria dan wanita tanpa menjaga adab dan hijab, bisa mendorong seseorang menuju zina. Ketika batas-batas antara pria dan wanita tidak dihormati, dan hubungan antara mereka menjadi terlalu santai, maka godaan untuk melakukan hal yang lebih jauh semakin besar.
Kelima: Memakai Pakaian yang Tidak Sopan
Berpakaian yang tidak sesuai dengan syariat, seperti berpakaian yang menampakkan aurat atau menarik perhatian secara berlebihan, dapat menjadi langkah awal menuju perzinaan. Hal ini bisa mengundang pandangan yang tidak terjaga, memicu nafsu, dan menimbulkan ketertarikan yang tidak sehat.
Keenam: Konten yang Tidak Senonoh
Mengonsumsi konten yang tidak islami, seperti menonton film atau gambar yang tidak senonoh, mendengarkan musik yang mengandung lirik vulgar, atau terlibat dalam konten pornografi, dapat memicu nafsu seksual. Konten semacam ini bisa membentuk kebiasaan yang buruk, mengurangi sensitivitas moral, dan mendorong seseorang untuk melakukan zina.
Ketujuh: Mengabaikan Lingkungan dan Teman yang Baik
Lingkungan dan teman-teman sangat mempengaruhi perilaku seseorang. Berteman dengan orang-orang yang terbiasa melanggar syariat atau berada dalam lingkungan yang permisif terhadap pergaulan bebas akan meningkatkan risiko tergoda melakukan zina. Oleh karena itu, Islam menganjurkan agar seseorang memilih teman yang baik, yang bisa mengingatkan dalam kebaikan.
Kedelapan: Kurangnya Iman dan Takwa
Iman yang lemah dan kurangnya takwa kepada Allah Ta’ala dapat menjadi penyebab seseorang lebih mudah terjerumus ke dalam perzinaan. Ketika iman dan takwa tidak kuat, seseorang cenderung mengabaikan larangan-larangan Allah, termasuk dalam hal menjaga kesucian diri.
Jama’ah jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala
Tentunya untuk pencegahan menuju zina maka perlu menghindari hal-hal yang kita sebutkan baru saja, karena jika tidak maka sungguh akibat zina sangatlah buruk, di antaranya:
Pertama: Penghancuran Nilai Keluarga
Zina merusak fondasi keluarga yang seharusnya dibangun di atas komitmen, cinta, dan kesetiaan. Keluarga adalah unit sosial dasar dalam Islam, dan zina menghancurkan kepercayaan serta menghancurkan hubungan pernikahan yang sah. Ini bisa berujung pada perceraian dan anak-anak yang kehilangan dukungan emosional yang stabil.
Kedua: Kerusakan Moral dan Etika
Zina sebagai pelanggaran terhadap nilai-nilai moral, baik dalam agama Islam maupun dalam banyak budaya lain. Ini menciptakan degradasi moral dalam masyarakat, di mana norma-norma etika dan perilaku yang baik mulai terkikis.
Ketiga: Meningkatnya Penyakit Menular Seksual
Zina, khususnya jika dilakukan tanpa hubungan yang sah, meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS, gonore, dan sifilis. Akibatnya, kesehatan masyarakat menjadi terancam.
Keempat: Meningkatnya Kehamilan di Luar Nikah
Kehamilan yang terjadi di luar pernikahan seringkali berdampak negatif, terutama bagi perempuan, seperti stigma sosial, pengabaian tanggung jawab oleh pihak pria, hingga lahirnya anak-anak tanpa kejelasan hak asuh atau dukungan keluarga.
Kelima: Menurunnya Harga Diri dan Rasa Bersalah
Pelaku zina, terutama yang memiliki kesadaran agama, sering kali merasa bersalah dan malu. Ini dapat menyebabkan gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, dan hilangnya harga diri.
Keenam: Konsekuensi Psikologis
Zina sering menimbulkan rasa bersalah, penyesalan, dan tekanan mental, terutama jika pelakunya memahami larangan agama dan sosial. Ini juga bisa memicu konflik batin, merusak kedamaian jiwa dan kehidupan spiritual.
Ketujuh: Hukuman di Dunia
Dalam ajaran Islam, pelaku zina yang terbukti dapat dikenakan hukuman yang berat, seperti cambuk atau rajam. Selain hukuman fisik, pelaku zina juga kehilangan kehormatan di mata masyarakat, yang bisa berujung pada pengucilan sosial dan hilangnya reputasi baik.
Kedelapan: Sanksi Akhirat:
Dalam Islam, zina sebagai dosa besar, dan jika pelakunya tidak bertaubat, ia akan mendapatkan hukuman di akhirat. Pelaku zina yang tidak bertaubat dan tidak diterima taubatnya oleh Allah maka akan mendapatkan azab yang pedih di hari kiamat.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Demikian khutbah pertama, masih sangat banyak hal tentang perzinaan dan langkah menujunya serta akibat yang ditimbulkannya, semoga Allah menjauhkan kita semua dari keburukan, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudari kita di Palestina, semoga Allah mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
