Khutbah Jumat
Kembalinya Jamaah Haji
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah.
Marilah kita terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan memperbanyak ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ
Kepulangan jamaah haji adalah momentum perubahan dan peningkatan iman. Kembalinya jamaah haji ke tanah air bukan hanya soal pulang dari perjalanan jauh. Lebih dari itu, ini adalah momen besar untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki iman. Mereka kembali membawa semangat baru, ketakwaan yang lebih dalam, dan pengalaman ruhani yang luar biasa. Seolah pulang bukan hanya dengan koper, tapi juga dengan hati yang sudah dibersihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an,
وَأَتِمُّوا۟ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah…” (QS. Al-Baqarah: 196)
Ini jadi pengingat bahwa haji bukan akhir dari ibadah, melainkan awal dari perubahan hidup yang sesungguhnya, jika benar kita berhaji dan umrah karena Allah, maka sepulangnya kita dari tanah suci ke tanah air akan menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Bagi pribadi jamaah haji, sepulang dari tanah suci, seorang muslim diharapkan menjaga kemabruran hajinya. Caranya? Dengan menjaga ibadahnya, memperbaiki akhlaknya, dan menjadi contoh baik di lingkungan sekitar. Jangan sampai semangat ibadah itu hanya terasa di Makkah, Madinah, Arafah, Mina dan Muzdalifah, tapi hilang begitu sampai rumah.
Rasulullah ﷺ bersabda,
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Haji yang mabrur tidak ada balasan lain selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tapi, pertanyaannya: apakah kita termasuk yang mabrur? Karena haji mabrur itu bukan cuma soal ritual yang sah, tapi juga perubahan yang nyata. Beberapa tanda-tanda haji mabrur, di antaranya:
Pertama: Ibadah makin baik, rajin salat berjamaah, senang puasa sunnah, lebih dekat dengan Al-Qur’an. Ibadah bukan beban, tapi kebutuhan.
Kedua: Akhlak makin lembut, mudah senyum, sabar, rendah hati, tidak mudah marah. Perubahan akhlak ini terlihat bahkan dalam hal kecil sehari-hari.
Ketiga: Jauhi maksiat, kalau dulu mungkin suka lalai atau bahkan maksiat, setelah haji dia lebih hati-hati menjaga diri.
Keempat: Semangat berbagi, peduli dengan tetangga, ringan tangan membantu, dan makin semangat bersedekah.
Kelima: Jadi contoh di masyarakat, perilaku, ucapan, dan kehadirannya jadi berkah. Tidak hanya punya gelar “haji” di KTP, tapi betul-betul mencerminkan sikap seorang yang sudah berhaji.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Adapun peran keluarga dan masyarakat dalam menyambut jamaah haji, kehadiran seorang haji bisa jadi inspirasi. Mereka bisa menularkan nilai sabar, ikhlas, dan semangat ibadah. Jadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya iman, karena keberkahan seorang haji bisa menular ke seluruh isi rumah.
Untuk masyarakat, jangan hanya menyambut dengan pesta atau lainnya, tapi iringi dengan doa dan semangat untuk ikut berubah. Artinya, kita harus saling menularkan kebaikan. Masyarakat bisa menjadikan para haji sebagai sumber motivasi spiritual. Ajak mereka sharing pengalaman, beri mereka ruang untuk berbicara tentang pengorbanan harta, tenaga, waktu, kekhusyuan, keindahan, dan kenikmatan rohani saat di tanah suci, agar semangat hajinya menular ke yang lain.
Kemudian kadang, ada kecenderungan memuja gelar “haji” secara berlebihan. Padahal, haji bukan simbol status sosial. Mari fokus pada esensi dan inti ibadah haji. Nilai kemabruran jauh lebih berharga daripada gelar. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Haji adalah sekolah kehidupan. Penuh pengorbanan, karena harus mengorbankan harta, waktu, tenaga, dan kesabaran. Penuh pelajaran, karena di sana kita belajar tawadhu’, persamaan derajat, ketekunan, dan penuh harapan, agar ibadah kita diterima oleh Allah.
Oleh karena itu, mari kita jadikan momen ini sebagai titik balik, untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Sambut para haji bukan hanya dengan tangan terbuka, senyum yang lebar, tangis yang mengharukan, tapi juga dengan semangat memperbaiki diri.
Semoga Allah menerima amal ibadah para jamaah haji, menjadikan kita bagian dari orang-orang yang istiqamah, dan memampukan kita semua untuk berhaji di tahun-tahun mendatang, aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Jama’ah Jumat yang berbahagia
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang hal-hal yang perlu diperhatikan setelah kembalinya jamaah haji, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di Palestina, dan kebaikan untuk pemimpin kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
