Khutbah Jumat
Islam dan Lingkungan Hidup
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah.
Marilah kita terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan memperbanyak ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian seluruh manusia terhadap kelestarian lingkungan. Melalui peringatan ini, masyarakat diajak untuk menjaga kebersihan, mengurangi pencemaran, menghemat sumber daya alam, serta berperan aktif dalam upaya pelestarian bumi, sehingga menjadi lingkungan yang sehat, lestari, dan berkelanjutan.
Dalam ajaran Islam, lingkungan hidup memiliki kedudukan yang sangat penting karena merupakan bagian dari ciptaan Allah Ta’ala yang harus dijaga dan dilestarikan. Konsep dasar ini berangkat dari pemahaman bahwa manusia bukanlah pemilik bumi, melainkan sebagai khalifah (pemimpin sekaligus penjaga) di muka bumi. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi…” (QS. Al-Baqarah: 30).
Ayat ini menegaskan bahwa manusia diberi amanah untuk mengelola bumi dengan penuh tanggung jawab, bukan untuk merusaknya. Oleh karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi juga merupakan bentuk ibadah kepada Allah.
Konsep menjaga lingkungan dalam Islam juga erat kaitannya dengan larangan melakukan fasad yaitu kerusakan. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56).
Ayat ini menunjukkan bahwa bumi telah diciptakan dalam keadaan seimbang dan baik, sehingga setiap tindakan manusia yang merusak keseimbangan tersebut, seperti pencemaran, penebangan liar, atau eksploitasi berlebihan, termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam. Dengan demikian, menjaga lingkungan berarti menjaga keseimbangan alam yang telah Allah tetapkan.
Kaum muslimin rahimakumullah
Selain itu, Islam juga mengajarkan prinsip keseimbangan (mizan) dalam kehidupan, termasuk dalam pemanfaatan sumber daya alam. Allah Ta’ala berfirman:
وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ * أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ
“Dan Dia telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keseimbangan), supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu” (QS. Ar-Rahman: 7–8).
Prinsip keseimbangan ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh berlebihan dalam menggunakan sumber daya alam. Eksploitasi yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, seperti perubahan iklim, krisis air, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, Islam mendorong gaya hidup sederhana dan tidak boros dalam menggunakan sumber daya.
Larangan berlebih-lebihan juga ditegaskan dalam firman Allah:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan” (QS. Al-A’raf: 31).
Ayat ini tidak hanya mengatur pola konsumsi makanan, tetapi juga mencerminkan prinsip umum dalam penggunaan sumber daya alam. Gaya hidup konsumtif dan boros dapat berdampak besar terhadap lingkungan, seperti peningkatan limbah dan polusi. Dengan menerapkan prinsip kesederhanaan, umat Islam dapat berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Kaum muslimin rahimakumullah
Dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ juga banyak ditemukan ajaran tentang kepedulian terhadap lingkungan. Salah satunya adalah:
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
“Jika terjadi kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada benih tanaman, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, maka tanamlah.” (HR. Ahmad).
Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya menanam dan menjaga keberlangsungan kehidupan, bahkan dalam keadaan genting sekalipun. Ini menjadi simbol kuat bahwa menjaga lingkungan adalah amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Selain itu, Rasulullah ﷺ juga melarang perusakan lingkungan bahkan dalam kondisi perang. Dalam hadis disebutkan bahwa beliau melarang menebang pohon secara sembarangan dan merusak tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai kehidupan dan keseimbangan alam.
Bahkan, memberi makan hewan dan menjaga kelestarian makhluk hidup lainnya juga dianggap sebagai amal kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perhatian Islam terhadap lingkungan juga terlihat dalam konsep kebersihan, yang merupakan bagian dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
“Kesucian adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim).
Kebersihan lingkungan mencerminkan kualitas keimanan seseorang. Oleh karena itu, menjaga kebersihan air, udara, dan tanah menjadi tanggung jawab setiap individu. Membuat lingkungan kotor, membuang sampah sembarangan, atau mencemari air termasuk perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Jama’ah jumat yang berbahagia
Selanjutnya, Islam juga mengajarkan konsep ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, seperti hemat air. Rasulullah ﷺ sendiri memberi contoh dengan menggunakan air secukupnya saat berwudhu, bahkan ketika berada di sungai yang mengalir.
Ini menunjukkan bahwa pemborosan sumber daya, sekecil apa pun, tetap tidak dianjurkan dalam Islam. Prinsip ini sangat relevan dengan kondisi saat ini di mana banyak daerah mengalami krisis air bersih akibat penggunaan yang berlebihan.
Kesadaran untuk menjaga lingkungan juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata, seperti menanam pohon, mengurangi penggunaan plastik, menjaga kebersihan lingkungan, serta tidak merusak alam. Semua ini merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Dalam konteks modern, menjaga lingkungan juga berarti ikut berkontribusi dalam mengatasi masalah global seperti perubahan iklim dan pencemaran.
Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang sangat peduli terhadap lingkungan hidup. Ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah dan sesama manusia, tetapi juga dengan alam. Dengan memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran tersebut, umat Islam dapat berperan aktif dalam menjaga kelestarian bumi.
Jama’ah Jumat yang berbahagia
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang lingkungan hidup, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di Palestina, dan kebaikan untuk pemimpin kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
