Khutbah Idul Adha 1446 H/ 2025 M
“Totalitas Taat Tanpa Syarat”
(Khutbah id dalam dua bagian khutbah. Bagi yang ingin menyampaikannya dalam satu khutbah saja, maka cukup menggunakan bagian pertama)
Khutbah Pertama
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ (9x)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
الْحَمْدُ ِلِلّهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha Illallaah, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Walillaahil Hamd.
Hari ini adalah hari terakhir dari 10 hari pertama bulan zulhijjah, terkumpul padanya banyak keutamaan, dari segi keutamaan bulan zulhijjah itu sendiri sebagai bulan suci, dari sisi keutamaan hari-hari terbaik dalam setahun, dan di antara Ulama memandang inilah hari terbaik sepanjang tahun lebih utama dari hari arafah.
إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ
Dari Abdullah bin Qurth dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Sesungguhnya hari yang teragung di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah hari Nahr (Hari Raya Kurban), kemudian hari qarr (setelah hari Nahr).” (H.R. Abu Dawud 1765)
Selain itu, hari ini bertepatan dengan hari Jumat, hari yang penuh berkah, hari terbaik dalam sepekan yang memiliki keutamaan luar biasa dibandingkan hari-hari lainnya.
Ada suatu pembahasan fikih ketika hari id bertepatan dengan hari jumat, ada dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa orang yang telah melaksanakan shalat Id tetap wajib melaksanakan shalat Jumat, dengan alasan bahwa shalat Jumat adalah kewajiban yang tidak dapat digugurkan oleh shalat Id. Pendapat kedua, yang didukung oleh mayoritas ulama bahwa bagi mereka yang telah melaksanakan shalat Id, shalat Jumat tidak wajib, namun mereka tetap disarankan untuk melaksanakan shalat Jumat sebagai bentuk anjuran. Imam masjid tetap mengadakan shalat Jumat agar orang yang ingin melaksanakannya dapat hadir. Bagi mereka yang tidak melaksanakan shalat Jumat karena telah shalat id, maka menggantinya dengan shalat Zhuhur.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha Illallaah, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Walillaahil Hamd.
Nabi Ibrahim ‘alayhis salam adalah salah satu nabi ulul azmi dan diberi gelar Khalīlullāh (kekasih Allah) karena ketakwaan dan ketaatannya yang luar biasa. Dalam seluruh perjalanan hidupnya, beliau memperlihatkan ketaatan yang totaliltas tanpa syarat, bahkan ketika menghadapi perintah-perintah yang sangat berat secara logika dan perasaan manusia.
Berikut ini kisah-kisah utama Nabi Ibrahim ‘alayhis salam:
Pertama: Menegakkan Tauhid di Tengah Kaum Penyembah Berhala
Nabi Ibrahim ‘alayhis salam tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang menyembah berhala, bahkan ayahnya sendiri adalah pembuat patung. Namun, beliau tidak menunggu waktu lagi dan mencari jaminan keselamatan sebelum berdakwah. Beliau langsung memenuhi perintah Allah Ta’ala menyampaikan ajaran tauhid bahkan menghancurkan berhala-berhala yang mereka sembah. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَـٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَـٰكِفُونَ
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: ‘Patung-patung apakah ini yang kalian tekun menyembahnya?'” (QS. Al-Anbiya’: 52)
Ayat ini menunjukkan keberanian dan ketegasan Nabi Ibrahim ‘alayhis salam dalam mengkritik penyembahan berhala secara langsung kepada ayah dan kaumnya, sebagai bagian dari totalitas dakwah tauhid.
Kemudian ketika dibakar, beliau tidak takut dan tetap tenang karena keimanannya yang teguh, sehingga Allah Ta’ala mendinginkan api dan menyejukkan baginya. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
“Kami berfirman: ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim!'” (QS. Al-Anbiya’: 69)
Ayat ini menunjukkan keajaiban dan perlindungan Allah Ta’ala kepada Nabi Ibrahim ‘alayhis salam sebagai balasan atas totalitas ketaatannya dalam berdakwah, bahkan saat nyawanya terancam.
Kedua: Diperintahkan Menyembelih Ismail Putra Kesayangannya
Perintah Allah Ta’ala agar Nabi Ibrahim ‘alayhis salam menyembelih putranya adalah salah satu ujian paling berat yang pernah diberikan kepada manusia. Namun, Nabi Ibrahim ‘alayhis salam taat total tanpa meminta penangguhan, alasan, atau tawaran lain. Allah Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Ayat ini menunjukkan puncak ketaatan tanpa syarat dari Nabi Ibrahim ‘alayhis salam dan putranya, Nabi Ismail ‘alayhis salam. Keduanya menerima perintah Allah tanpa ragu, tanpa syarat, dengan penuh kesabaran serta kepasrahan sehingga Allah menggantikannya dengan hewan kurban dan menjadi syari’at hingga hari kiamat
وَفَدَيْنَـٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 107)
Ketiga: Meninggalkan Hajar dan Ismail di Lembah Tandus (Mekah)
Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan istrinya Hajar dan anaknya Ismail ‘alayhimus salam jami’an di sebuah lembah tandus, tanpa air, tumbuhan, atau penduduk. Beliau tidak bertanya “kenapa?”, dan tidak meminta syarat dari Allah. Allah Ta’ala berfirman terkait doa beliau,
رَبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْــئِدَةًۭ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat…” (QS. Ibrahim: 37)
Ayat ini menggambarkan ketaatan mutlak Nabi Ibrahim ‘alayhis salam yang meninggalkan keluarganya di tempat yang tandus hanya karena perintah Allah Ta’ala, sekaligus menunjukkan doa yang penuh kasih dan kepasrahan, sehingga menjadilah Mekah tempat yang datang berbagai keberkahan kepadanya seperti buah-buahan dan lainnya dari penjuru dunia.
Keempat: Mendirikan Ka’bah Bersama Nabi Ismail
Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alayhimas salam untuk membangun Baitullah (Ka’bah) di tempat yang sunyi dan gersang. Tanpa ragu atau menunggu bantuan, mereka mulai mendirikannya dan bahkan berdoa agar ibadah ini diterima. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِيمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَـٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amal kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'” (QS. Al-Baqarah: 127)
Ayat ini menegaskan ketaatan keduanya dalam menjalankan perintah Allah membangun Ka’bah, serta kerendahan hati mereka yang tetap berdoa agar amal tersebut diterima, meskipun itu adalah tugas besar yang diperintahkan langsung oleh Allah.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha Illallaah, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Walillaahil Hamd.
Dari berbagai kisah Nabi Ibrahim ‘alayhis salām yang luar biasa ini, kita belajar bahwa ketaatan kepada Allah harus dilakukan dengan totalitas dan tanpa syarat. Nabi Ibrahim tidak menunggu kepastian, tidak meminta jaminan, tidak menawar perintah, bahkan ketika diperintah untuk meninggalkan keluarganya di padang tandus atau menyembelih anaknya sendiri. Semua itu beliau lakukan semata-mata karena iman dan keyakinannya kepada Allah Ta‘ala.
Bagi akal manusia yang terbatas, perintah-perintah itu mungkin terasa tidak masuk akal, dan bagi nafsu, terasa sangat berat, namun justru di balik semua itu terdapat hikmah yang dalam dan kebaikan yang agung.
Oleh karena itu, bagi kita hari ini, pelajaran besarnya adalah: taat kepada Allah dan Rasul-Nya harus didasari oleh keimanan yang kokoh, bukan oleh kenyamanan syahwat, logika manusia, atau kepentingan dunia. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, semakin besar pula kesiapannya untuk melaksanakan perintah Allah. Inilah esensi dari penghambaan sejati.
Kaum muslimin Jama’ah shalat id yang berbahagia rahimakumullah
Hari ini dan 3 hari berikutnya, yaitu 10, 11, 12, dan 13, seorang muslim tidaklah diperkenankan berpuasa, kecuali jamaah haji pada hari tasyriq yang tidak mendapatkan hadyu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ
“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada dua hari, yaitu pada hari Idul Adha dan Idul Fithri.” (HR Muslim 1138)
Dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhum keduanya berkata,
لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ
“Tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari tasyriq kecuali bagi siapa yang tidak mendapatkan Hadyu”. (HR Al Bukhari no. 1997, dan 1998)
Kaum muslimin rahimakumullah
Berdzikir kepada Allah Ta’ala dilakukan setiap hari, tapi untuk hari-hari mulia ini, dimulai dari awal masuknya bulan Dzulhijjah beberapa hari lalu dan terlebih lagi di hari ini serta 3 hari ke depan, lebih ditekankan untuk memperbanyak berdzikir kepada Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya,
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan.” (Qs Al-Baqarah: 203)
Dzikir yang dimaksud adalah dzikir apa saja yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, seperti takbir mutlaq dan muqayyad.
Takbir mutlaq kapan saja, mulai masuknya magrib malam pertama bulan Dzulhijjah hingga terbenamnya matahari tanggal 13 Dzulhijjah.
Adapun takbir muqayyad maka terikat, setiap selesai shalat fardhu 5 waktu, dimulai setelah shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah hari Arafah hingga shalat ashar tanggal 13 Dzulhijjah.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha Illallaah, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Walillaahil Hamd.
Perlu juga diingatkan ketika makan dan minum diniatkan untuk memperkuat beribadah, jangan asal mengenyangkan perut. Rasulullah ﷺ bersabda,
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ
“Hari-hari tasyriq adalah hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah.” (HR Muslim 1141)
Kemudian memperbanyak doa bukan sekedar doa kebaikan dunia namun kebaikan dunia dan terlebih kebaikan akhirat dan dijauhkan dari neraka, sebagaimana yang Allah sebutkan di antara ayat-ayat haji, yaitu doa sapu jagat
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (Q.S. Al-Baqarah, Ayat 201)
Begitu juga dzikir-dzikir lainnya yang dianjurkan untuk kita membacanya dalam aktifitas keseharian kita, seperti dzikir pagi petang, dzikir ketika masuk masjid, keluar masjid, dzikir saat naik kendaraan, dan seterusnya.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha Illallaah, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Walillaahil Hamd.
Sebagai penutup, mari kita memperbanyak doa kepada Allah Ta’ala
Ya Allah, jagalah para pemimpin kami, berikanlah selalu kepada mereka hidayah dan petunjukMu dalam memimpin bangsa ini, lindungilah negeri ini dari segala mara bahaya dan musibah, jadikanlah negeri kami negeri baldatun thayyibah, baldatun aminah muthmainnah, dan negeri yang senantiasa tercukupi, dan terhindar dari ketakutan dan kelaparan. Begitu juga negeri kaum muslimin lainnya, khususnya palestina saat ini.
Ya Allah, jadikanlah pemuda pemudi di antara kami menjadi manusia-manusia yang tangguh tumbuh taat kepada-Mu agar kekuatan fisik dan berpikir mereka digunakan dalam kebaikan, ketaatan, dan perbaikan pada ummat ini.
Ya Allah, sayangilah kedua orangtua kami, jagalah mereka yang masih hidup, dan rahmatilah mereka yang telah meninggal dunia, berilah kami taufiq untuk senantiasa menjadi anak-anak yang shalih dan berbakti, merekalah yang telah berjuang untuk kehidupan kami, jagalah mereka, rahmatilah mereka.
Ya Allah, bantulah kami membimbing anak-anak kami, keturunan kami, jadikanlah mereka anak-cucu yang bisa membanggakan kami di dunia terlebih lagi di akhirat.
Ya Allah, mudahkanlah urusan para jomblowan jomblowati kami dalam menuju pernikahan, berikanlah keturunan di antara kami yang telah menikah bagi yang belum memilikinya.
Ya Allah, jadikanlah kami yang telah Engkau karuniai pasangan yang sah menjadi pasangan yang Engkau ridhai, masukanlah kami semua ke dalam surga firdaus-Mu. Berikanlah kami keberkahan selalu dalam kehidupan rumah tangga kami.
Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, berkahilah kami, jagalah kami, jauhkanlah kami dari neraka-Mu, dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu. Berikanlah pertolongan kepada hamba-hamba-Mu yang lemah, balaslah kebaikan orang-orang baik dan dermawan kami, berikanlah curahan rahmat-Mu kepada kaum muslimin dan muslimat yang telah mendahului kami, dan matikanlah kami semuanya dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin, aamiin, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ (7x)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسࣲ وَ ٰحِدَةࣲ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالࣰا كَثِیرࣰا وَنِسَاۤءࣰۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِی تَسَاۤءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَیۡكُمۡ رَقِیبࣰا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
