Dalam seminar Parenting Nasional yang diadakan oleh Sekolah Islam Terpadu Nurul Firkri Makassar di Hotel Sheraton, Jl. Landak Baru, Sabtu 19 Februari 2017, Bunda Hj. Neno Warisman memaparkan 5 cara untuk membentuk anak berkarakter Qur’ani. Mau tah ?, simak penjelasan berikut.
- Pembiasaan/kebiasaan
Dalam sebuah ungkapan peribahasa
Watch your thoughts, they become your words
Perhatikan Apa yang kita pikirkan , karena itu akan menjadi perkataan kita
Watch your words, they become your beliefs
Perhatikann Apa yang menjadi perkataan kita karena akan menjadi sebuah keyakinan
Watch your belief , they become your actions
Perhatikan apa yang kita yakini karena akan menjadi tindakan
Watch your actions, they become your habbits
Perhatikan Tindakanmu. Karena tindakan yang berulang-ulang akan menajdi kebiasaan
Watch your habits, they become your character
Perhatikan Kebiasaan karena akan menjadi sikap dan karakter
Watch your character, it becomes your destiny
Perhatikan karakter karena itu akan menjadi masa depanmu
Akhlak adalah produk pendidikan al-Qur’an, sehingga cara untuk merubah diri adalah dengan merubah cara berpikir lebih dulu. Kita harus memperbanyak berprasangka baik pada anak. Biasakan hidup dengan pola pikir yang benar. Karena pembiasaan itu adalah perjuangan. Hidup dengan cara yang benar, cara tidur, cara makan , cara bergaul yang benar. Membuat hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik.
- Perhatian
Kita pernah menganggap bahwa kita sudah banyak memberikan perhatian padahal sebenarnya. Indikator yang bisa dilihat bahwa kita telah memberikan perhatian kepada anak kita adalah ketika kita telah bisa mengetahui jalan pikiran dan jalan perasaan anak kita.
- Keteladanan
Keteladanan adalah kunci pendidikan anak di lingkungan keluarga. Keluarga merupakan lembaga pendidikan non formal peletak pondasi pendidikan anak. Karena Orang tua memegang peranan penting dalam pembentukan karakter anak. Sehingga orang tua-lah yang harus menjadi role model dalam membentuk karakter anak.
- Nasihat
“ad-Diinu Nasihhah”, Agama adalah nasihat, maka dari itu jangan pernah memiliki anak bila tidak tahu cara mendidik anak, jika tidak mau anak tersebut menjadi seorang penjahat. Seorang guru yang tidak bisa mendidik seorang murid hanya akan merusak masa depan anak dan menjadikannya sebagai perampok hidup bagi orng lain.
Nasihat pula harus diketahui momentumnya kapan ia diberikan. Sehingga tidak menjadi kebosanan dan salah waktu dan tempat. Tiap tempat dan waktu tentu ada nasihat yang tepat. Disitulah orang tua memberikan nasihatnya. Selain itu, menurutnya, nasihat tidak perlu panjang. Nasihat yang ringkas dan padat, akan lebih efektif, disbanding nasihat yang terlalu panjang bagi anak.
- Evaluasi dan sanksi
Hal ini juga diterapkan oleh Nabi Salallahu ‘alahi wassallam. Ada metode “Punish and Reward”. Salah satu cara efektif adalah untuk menerapkan ini adalah dengan menawarkan atau mendialog-kan sanksi kepada anak. Sanksi apa yang ia minta, jika anak tidak melakukan atau melaksanakan apa yang diperintahkan. Sehingga tidak ada unsur pemaksaan atau pembebanan, karena itu adalah keputusan bersama.
Ditulis oleh: Wahida Abu, S.Pd.I. (Guru KB dan TK Iman al-Qurbah Sudiang,Makassar)