Dalam Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat besar. Sehingga dalam peradaban islam, ilmu sangat berkembang pesat. Kita bisa melihat bagaimana kondisi kehidupan sebelum datangnya Islam, dan perubahan yang terjadi setelah datangnya Islam.
Islam datang mengembangkan Ilmu Pengetahuan. Generasi-generasi yang lahir diasuh oleh warna pendidikan islam sangat mencintai ilmu pengetahuan. Tak heran, jika peradaban Islam pula berkembang, seiring dengan perkembangan kemajuan ilmu.
Dalam sejarah kita bisa melihat, bagaiaman Baghdad yang menjadi Ibukota kekhalifahan Abbasiyah menjadi pusat ilmu pengetahuan. Universitas terbaik saat itu ada di Baghdad. Ada pusat penelitian yang didatangi oleh para pelajar-pelajar dari Eropa. Pusat penelitian yang dikenal dengan istilah ‘al-Hambra’ di jantung kota Baghdad, Irak.
Selain itu kita juga mengenal ada Andalusia. Yang juga tak kalah majunya. Andalusia adalah kota yang tertata dengan rapi, saat Benua Eropa belum menemukan aspal dan sabun mandi.
Tentu tidak lain, semua itu karena berkembangnya pandangan yang jelas tentang ilmu. Sehingga umat islam sadar, betapa pentingnya ilmu pengetahuan. Ilmu dikembangkan bukan untuk tujuan kekuasaan, tetapi betul-betul untuk memajukan peradaban kemanusiaan.
Dampaknya kita bisa lihat. Ilmu pengetahuan dalam islam, tidak pernah bertolak belakang dengan spirit agama. Justru agama berkembang, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan di zaman islam.
Konsep ilmu dalam peradaban islam disalurkan dan di-transferkan melalui proses yang sakral salam majelis ilmu. Di majelis ilmu, para guru dan ulama mengarahkan dan membimbing para muridnya. Dan para murid pun datang dengan sukarela dan ikhlas.
Majelis ilmu mengajarkan berbagai macam ilmu yang dituangkan dalam kitab-kitab para ulama. Setiap orang yang selesai dari satu pembahasan kitab, akan berpindah kepada pembahasan kitab yang lain. Begitulah seterusnya, sampai ia memiliki tsaqofah yang kuat dalam berbagai cabang ilmu agama.
Salah satu institusi pendidikan Islam yang terkenal di masa kejayaan Islam adalah Kittab. Kittab, berasal dari kata maktab, yaitu kataba yang berarti menulis atau tempat menulis. Pada awalnya kuttab berfungsi sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak namun ketika Islam mulai berkembang pelajaran ditekankan pada penghafalan Al-Qur’an.
Kuttab dalam bentuk awalnya hanya berupa ruangan di rumah seorang guru. Sejalan dengan meluasnya wilayah kekuasaan kaum muslimin, bertambah pulalah jumlah penduduk yang memeluk Islam. Ketika itu kuttab-kuttab yang hanyamengambil tempat di ruangan rumah guru mulai dirasakan tidak memadai untuk menampung anak-anak yang jumlahnya makin besar. Kondisi yang demikian inimendorong para guru dan orang tua mencari tempat lain yang lebih lapang, yaitu sudut-sudut masjid (bilik-bilik yang berhubungan dengan masjid). Selain dari kuttab-kuttab yang diadakan di dalam masjid, terdapat pula kuttab-kuttab Umum dalam bentuk madrasah yang mempunyai gedung sendiri dan dapat menampung ribuan murid. Pada akhir abad pertama hijriah mulai timbul jenis kuttab yang disamping memberikan pelajaran menulis dan membaca, juga mengajarkan membaca Al-Qur’an dan pokok-pokok ajaran agama, juga pengetahuan dasar lainnya. Dengan demikian kuttab tersebut berkembang menjadi lembaga pendidikan dasar yang bersifat formal.[1]
Selain Kuttab, banyak lagi institusi pendidikan Islam yang lain, seperti halaqah, Qusur, Masjid dan lain-lain. Semua institusi tersebut melahirkan para ulama-ulama yang mewarisi kerja kenabian. Menjaga umat dan memelihara umat dari berbagai macam makar dan penghancuran. Institusi tersebut membangun kekuatan bangunan masyarakat Islam.
Dan semua itu, tentu lahir dari spirit dari ayat yang pertama kali turun. Iqra’!. Sebuah ayat yang mengubah corak warna dunia kini. (Wallohu a’lam bi ash-showab)
[1] Lihat: http://psikologip.blogspot.co.id/2012/01/lembaga-pendidikan-pada-masa-abassiyah.html