Khutbah Jumat
Belajar dari Surah al Kafirun
Khutbah Pertama
,الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَبَارِكْ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah Jumat yang sama berbahagia
Surah al-Kafirun adalah surah yang agung, surah yang berada pada urutan 109 al-Quran, surah yang berisi tentang penyebutan kata kafir kepada orang-orang yang belum masuk islam, begitu juga penyebutan pelepasan diri dari penyembahan kepada selain Allah, dan penyebutan hakikat toleransi dalam agama kita.
Apa rahasia, apa pelajaran, apa faidah yang bisa kita petik dari surah yang mulia ini, surah yang yang memiliki 6 ayat ini?
Jama’ah kaum muslimin rahimakumullah
Mari kita mulai,
أَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّیۡطَـٰنِ ٱلرَّجِیمِ
Aku berlindung kepada Allah Ta’ala dari godaan setan yang terkutuk
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir!
لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,
وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,
وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.
لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ
Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
(Qs. Al Kafirun: 1-6)
Berikut beberapa pelajaran penting dari surah mulia ini:
- Sebab turunnya surah mulia ini saat orang-orang kafir meminta Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk menyembah Tuhan mereka dalam satu tahun, kemudian mereka akan menyembah Allah selama satu tahun, lalu turunlah surah ini.
- Orang-orang kafir yang dimaksud adalah semua orang kafir, baik mereka yang hidup di zaman Nabi maupun yang hidup setelah wafatnya beliau sampai hari kiamat. Dan perlu diperhatikan bahwa penamaan kafir datangnya dari Allah Ta’ala bagi yang tidak memeluk agama Islam.
- Katakanlah kepada orang-orang kafir dengan lantang dan jelas, “Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah,” yakni bebaskan dirimu dari apa yang mereka sembah selain Allah secara lahir dan batin. “Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah,” karena tidak adanya keikhlasan kalian dalam menyembah Allah. Ibadah kalian disertai kesyirikan sehingga tidak patut disebut sebagai ibadah. (Tafsir As Sa’di)
- Aku tidak menyebah apa yang kalian sembah, yaitu berhala-berhala dan sembahan-sembahan yang tidak berguna tidak memberi mudharat sedikitpun, dari bebatuan, pepohonan, kuburan, dan sembahan lainnya, selama-lamanya sampai kapanpun.
- Bagaimana pun seorang hamba menyembah Allah, dengan berusaha semaksimal mungkin dan berupaya sekuat tenaga, maka dia musyrik jika mempersekutukan Allah dalam peribadatan.
- Pengulangan “Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah, dan kalian bukan penyembah apa yang aku sembah” sebanyak dua kali menunjukkan betapa pentingnya urusan ini, agar seseorang menjauhi kesyirikan sejauh-jauhnya dan hanya menyembah kepada Allah Ta’ala semata
- Bagi kalian agama kalian yang sangat berusaha mempertahankannya yang sangat penuh dengan keraguan, dan bagiku agamaku agama islam yang murni tanpa ada keraguan dan kesyirikan di dalamnya
- “Lakum dinukum waliyadin Bagi kalian agama kalian, bagiku agamaku” inilah toleransi sesungguhnya dalam agama islam. Seperti halnya, sebuah kalimat bijak “Toleransi itu: anda minum teh dan saya minum kopi, kita sama-sama menikmati minuman favorit kita, tanpa harus memasukan teh anda ke dalam kopi saya.”
Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah
Demikian khutbah pertama, semoga Allah Ta’ala selalu memberikan kepada kita kenyamanan dalam tauhid dan perlindungan dari syirik. Aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرِ الرَّحِيمِ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
أَمَّا بَعْدُ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
