Khutbah Jumat
Pelajaran dari Perang Uhud
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah
Marilah kita terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menambah kualitas ketaatan seraya memperbanyaknya dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ.
Bulan Syawal pada tahun ke-3 Hijriah menjadi saksi bisu pecahnya sebuah pertempuran dahsyat yang dikenal dengan nama Perang Uhud. Pertempuran ini pecah di lembah yang terletak di depan Bukit Uhud, tidak jauh dari kota Madinah. Latar belakang utamanya adalah keinginan kaum kafir Quraisy untuk membalas dendam atas kekalahan memalukan yang mereka alami pada Perang Badar setahun sebelumnya. Dengan kekuatan sekitar 3.000 prajurit, termasuk kavaleri dan tentara berbaju besi, kaum musyrikin berangkat menuju Madinah di bawah komando Abu Sufyan.
Di pihak Muslimin, Rasulullah ﷺ awalnya berniat untuk bertahan di dalam kota Madinah. Namun, setelah bermusyawarah dan melihat semangat para pemuda yang menginginkan pertempuran di luar kota, beliau akhirnya memutuskan untuk menyongsong musuh di kaki Bukit Uhud. Pasukan Muslim berjumlah sekitar 1.000 orang, namun di tengah jalan, tokoh munafiqin Abdullah bin Ubay melakukan pengkhianatan dengan menarik kembali 300 pengikutnya, sehingga tersisa 700 prajurit Muslim yang harus berhadapan dengan kekuatan musuh yang jauh lebih besar.
Strategi perang yang disusun Rasulullah ﷺ sangatlah brilian. Beliau menempatkan 50 orang pemanah handal di atas Bukit Rumaah (Bukit Pemanah) di bawah pimpinan Abdullah bin Jubair radhiyallahu ‘anhu. Pesan beliau sangat tegas: “Jangan meninggalkan posisi kalian dalam keadaan apa pun, baik kita menang maupun kalah, hingga ada perintah dariku.” Posisi ini sangat strategis karena berfungsi untuk melindungi garis belakang pasukan Muslim dari serangan kavaleri musuh yang dipimpin oleh Khalid bin Walid (yang saat itu belum memeluk Islam).
Pada fase awal pertempuran, pasukan Muslim berhasil memegang kendali. Meski kalah jumlah, keberanian dan keimanan mereka membuat pasukan Quraisy kocar-kacir hingga meninggalkan harta benda ghanimah di medan laga. Melihat musuh lari dan harta berserakan, mayoritas pasukan pemanah di atas bukit menganggap peperangan telah usai dan mengira kemenangan sudah di tangan. Sekitar 40 orang pemanah turun dari bukit.
Kaum muslimin rahimakumullah
Celah kosong di atas Bukit Rumaat ini langsung dibaca oleh Khalid bin Walid. Ia memutar balik pasukan kavaleri Quraisy dan menyerang pasukan Muslim dari arah belakang yang kini tak terlindungi. Situasi berbalik seketika; pasukan Muslim terjepit dari depan dan belakang. Kekacauan luar biasa terjadi hingga muncul isu bahwa Rasulullah ﷺ telah terbunuh, yang sempat meruntuhkan mental sebagian prajurit. Dalam kemelut ini, banyak sahabat gugur, termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu.
Rasulullah ﷺ sendiri mengalami luka-luka yang cukup parah; gigi seri beliau patah dan pelipis beliau terluka karena pecahan baju besi. Namun, para sahabat segera membentuk pagar manusia untuk melindungi beliau. Setelah situasi sedikit terkendali, pasukan Muslim mundur ke lereng bukit yang lebih tinggi untuk melakukan pertahanan. Pasukan Quraisy akhirnya memutuskan untuk kembali ke Mekkah tanpa benar-benar menghancurkan kaum Muslimin.
Perang ini berakhir dengan kesedihan yang mendalam bagi kaum Muslimin. Sekitar 70 syuhada gugur dan dimakamkan di medan Uhud. Meskipun secara militer ini dianggap sebagai ujian berat, peristiwa ini memberikan transformasi mental dan spiritual yang luar biasa bagi umat Islam di masa depan. Madinah tetap berdiri, dan pelajaran dari Uhud menjadi fondasi kuat bagi kemenangan-kemenangan besar setelahnya.
Kaum muslimin rahimakumullah
Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari Perang Uhud:
Pertama: Pentingnya Prinsip Musyawarah
Hal ini terlihat jelas ketika Rasulullah ﷺ bermusyawarah dengan para sahabatnya mengenai apakah akan melawan kaum musyrikin di luar atau di dalam Madinah, dan beliau mengambil keputusan berdasarkan pendapat hasil musyawarah meskipun seorang nabi yang menerima wahyu, menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keterbukaan dalam menerima pendapat, menghargai pandangan orang lain, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama atas keputusan yang diambil.
Kedua: Keteguhan dan Keberanian
Keteguhan Rasulullah ﷺ tampak nyata di medan tempur meskipun Abdullah bin Ubay bin Salul menarik diri dengan membawa sepertiga pasukan. Peristiwa ini terjadi di tengah perjalanan menuju medan Uhud, yang tentu menjadi ujian berat bagi kaum muslimin karena berkurangnya kekuatan secara signifikan. Namun, Rasulullah ﷺ tetap melanjutkan perjalanan tanpa ragu, menata kembali barisan, serta meneguhkan hati para sahabat agar tidak goyah menghadapi musuh yang jumlahnya lebih besar.
Ketiga: Kepemimpinan Militer yang Baik
Rasulullah ﷺ menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa dan berpesan kepada para sahabatnya dari pasukan pemanah agar tidak meninggalkan posisi mereka dalam kondisi apa pun. Beliau memberikan arahan tersebut sebagai bagian dari pengaturan strategi yang matang, demi menjaga keteraturan barisan dan menghadapi berbagai kemungkinan di medan tempur. Pesan ini menggambarkan perhatian beliau terhadap detail serta pentingnya koordinasi dan ketertiban dalam setiap langkah perjuangan.
Jama’ah jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala
Keempat: Kesabaran dalam Menghadapi Kesulitan
Hal ini terlihat jelas pada kesabaran Nabi Muhammad ﷺ dan sikap beliau yang tidak berputus asa atas luka serta kesedihan yang menimpa dirinya dan para sahabat, juga atas hilangnya kemenangan yang sudah hampir diraih di awal hari namun berbalik menjadi ujian di akhir hari. Di tengah kondisi tersebut, beliau tetap tegar, menguatkan para sahabat, serta tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan, bahkan terus menanamkan harapan dan kepercayaan kepada pertolongan Allah.
Kelima: Ujian sebagai Sunnatullah
Ujian berupa jiwa, harta, dan keluarga merupakan sunnatullah, ketetapan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang saleh. Hal ini tampak dalam berbagai peristiwa yang dialami oleh kaum beriman, di mana mereka diuji dengan berbagai bentuk kesulitan dan kehilangan sebagai bagian dari perjalanan iman. Ujian tersebut datang silih berganti, mengiringi kehidupan mereka dalam berbagai keadaan, baik saat lapang maupun sempit.
Keenam: Penghiburan bagi Orang Beriman dan Hikmah di Balik Peristiwa
Allah ﷻ berfirman:
إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ * وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ * أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ * وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَلْقَوْهُ فَقَدْ رَأَيْتُمُوهُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang kafir. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. Dan kamu benar-benar mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; maka (sekarang) kamu sungguh, telah melihatnya dan kamu menyaksikannya. (QS. Surah Ali Imran ayat 140-143)
Jika musuh saja tetap gigih meski berada di atas kebatilan, maka orang beriman jauh lebih pantas untuk tidak merasa lemah karena mereka memegang kebenaran dan memiliki harapan dari kesudahan yang baik surga Allah Ta’ala.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang pelajaran seputar perang uhud, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di tanah air ini, begitupun di Palestina, Sudan dan negeri lainnya, serta kebaikan untuk pemimpin negeri kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
