Khutbah Jumat
Keutamaan dan Adab Pernikahan
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah
Marilah kita terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menambah kualitas ketaatan seraya memperbanyaknya dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ.
Kita kini telah berada di pertengahan bulan Syawal 1447 H, yang berarti separuh bulan ini telah kita lewati. Momen silaturahmi dan ziarah juga telah berlalu. Alhamdulillah, banyak kaum muslimin yang sudah menyelesaikan puasa Syawal mereka. Bagi yang belum, dianjurkan untuk segera menuntaskannya. Sementara itu, kegiatan sekolah, pesantren, pekerjaan, dan perkantoran pun telah kembali berjalan sejak beberapa hari yang lalu.
Ada sebuah kebiasaan baik di kalangan kaum muslimin untuk memilih bulan Syawal sebagai waktu pelaksanaan pernikahan, baik untuk dirinya, anaknya, maupun kerabat lainnya. Kebiasaan ini didasarkan pada dalil yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi ﷺ, yang menceritakan praktik dan anjuran terkait pernikahan di bulan Syawal.
تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللهِ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي؟ قَالَ: وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ
“Rasulullah ﷺ menikahiku di bulan syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula, maka isteri-isteri Rasulullah ﷺ yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah dahulu suka menikahkan para wanita di bulan syawal” (HR. Muslim 1423)
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,
فِيهِ اسْتِحْبابُ التَّزْوِيجِ وَالتَّزَوُّجِ وَالدُّخُولِ فِي شَوّالٍ، وَقَدْ نَصَّ أصْحابُنا عَلى اسْتِحْبابِهِ، وَاسْتَدَلُّوا بِهَذا الحَدِيثِ، وَقَصَدَتْ عائِشَةُ بِهَذا الكَلامِ رَدَّ ما كانَتِ الجاهِلِيَّةُ عَلَيْهِ، وَما يَتَخَيَّلُهُ بَعْضُ العَوامِّ اليَوْمَ مِن كَراهَةِ التَّزَوُّجِ وَالتَّزْوِيجِ وَالدُّخُولِ فِي شَوّالٍ، وَهَذا باطِلٌ لا أصْلَ لَهُ، وَهُوَ مِن آثارِ الجاهِلِيَّةِ، كانُوا يَتَطَيَّرُونَ بِذَلِكَ لِما فِي اسْمِ شَوّالٍ مِنَ الإشالَةِ وَالرَّفْعِ
“Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menikahkan, menikah, dan membangun rumah tangga pada bulan Syawal. Para ulama kami (ulama syafi’iyyah) telah menegaskan anjuran tersebut, berdalil dengan hadits ini. Aisyah ketika menceritakan hal ini bermaksud membantah apa yang diyakini masyarakat jahiliyyah dahulu dan anggapan takhayul sebagian orang awam pada masa kini yang menyatakan kemakruhan menikah, menikahkan, dan membangun rumah tangga di bulan Syawwal. Ini adalah batil, tidak ada dasarnya. Ini termasuk peninggalan jahiliyyah yang menganggap sial hal itu, dikarenakan penamaan syawal dari kata al-isyalah dan ar-raf’u (yang bermakna ketidakberuntungan menurut mereka)” (Syarh Shahih Muslim 9/209).
Kaum muslimin rahimakumullah,
Pada kesempatan khutbah kali ini, kami selaku khatib tidak akan membahas secara panjang lebar tentang fikih pernikahan, namun akan menyoroti beberapa keutamaan dan adab yang perlu diperhatikan oleh calon mempelai, para wali, serta para hadirin.
Pernikahan adalah ibadah terpanjang yang dijalani seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Di dalamnya terdapat banyak keutamaan, baik yang bersifat duniawi maupun lebih-lebih keutamaan ukhrawi. Di antara keutamaannya adalah:
Pertama: Mendapatkan sakinah mawaddah warahmah. Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar-Rum: 21)
Kedua: Mendapatkan separuh agama. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis sebagian ulama menguatkannya,
إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي
“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi, dan Al-Albany dalam silsilah shahihah no.625)
Ketiga: Mendapatkan jalan benar, halal, dan pahala pada kenikmatan melampiaskan syahwat dan lebih menundukkan dosa kemaluan serta pandangan. Rasulullah ﷺ bersabda,
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki kemampuan, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (Muttafaqun ‘Alaihi, HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400).
Dan masih banyak keutamaan lainnya.
Kaum muslimin rahimakumullah
Di antara hal yang penting untuk disimak bagi calon mempelai:
Pertama: Dalam memilih calon, jika terdapat kelebihan yang banyak seperti keindahan wajah dan fisik, kekayaan, kedudukan, keturunan, pendidikan, dan seterusnya maka sungguh kenikmatan di atas kenikmatan, namun yang penting dari semua itu adalah baiknya agama serta akhlaknya.
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi.” (Muttafaqun ‘Alaihi, HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1446)
Kedua: Tidak melakukan hal terlarang sebelum sah, seperti berduaan di dunia maya maupun nyata, begitu pun bersentuhan, dan dokumentasi sebelum terjadinya akad nikah atau istilahnya prewedding, dan hal-hal yang belum halal lainnya hendaknya dijauhi agar Allah Ta’ala memberkahinya setelah akad.
Jamaah jumat yang semoga dirahmati Allah Ta’ala
Di antara hal yang penting untuk disimak bagi wali calon mempelai:
Pertama: Ingatlah pesan Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ
“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” (HR. Tirmidzi no.1085. dan lainnya).
Kedua: Permudahlah mahar dan biaya acara, Rasulullah ﷺ bersabda,
خَيْرُ الصَّدَاقِ أَيْسَرَهُ
“Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah.”
خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ
“Sebaik-baik nikah adalah yang paling mudah.” (HR. Abu Daud dan lainnya)
Sebuah kisah menarik diceritakan oleh seorang syekh bahwa ada kabilah di arab saudi yang sepakat pada mahar dan biaya pernikahan yang sederhana, jika di atas biaya kesepakatan itu maka mereka akan sepakat untuk tidak menghadiri walimah, maka Allah Ta’ala pun berkahi kabilah tersebut.
Jama’ah Jumat yang berbahagia
Di antara yang penting untuk disimak bagi tamu, undangan, hadirin:
Pertama: Jangan lupa mendoakan mempelai,
بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ
“Semoga Allah memberkahimu ketika bahagia dan ketika susah dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Abu Daud, no. 2130; Tirmidzi, no. 1091, dan lainnya)
Kedua: Sebisa mungkin tidak campur baur antara laki-laki dan wanita, jangan melampiaskan dan menikmati pandangan kepada hadirin lawan jenis, menahan lisan, dan hendaknya tidak berhias berlebihan sehingga semua mata tertuju padanya.
Terakhir dengan maraknya pernikahan apalagi di bulan syawal, saling membantulah dan memberikan hadiah. Namun ingat bahwa amplop pernikahan bukanlah utang yang harus dibayar sejumlah yang pernah orang berikan kepada kita saat mengadakan walimahan.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang adab dan keutamaan pernikahan, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di tanah air ini, begitupun di Palestina, Sudan dan negeri lainnya, serta kebaikan untuk pemimpin negeri kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
