Khutbah Jumat
Bulan Suci Dzulqa’dah
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah
Marilah kita terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menambah kualitas ketaatan seraya memperbanyaknya dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ.
Hari ini adalah Jumat terakhir di bulan Syawal, yang menandakan bahwa kita akan segera memasuki bulan Dzulqa’dah insyaallah, salah satu bulan haji yang agung. Pada tahun ini 1447 H bertepatan 2026 M, pemberangkatan kloter pertama jemaah haji Indonesia dijadwalkan pada 22 April 2026. Para jemaah mulai masuk asrama haji sejak 21 April, lalu diberangkatkan secara bertahap menuju Saudi, dan seluruh proses keberangkatan diperkirakan selesai pada 21 Mei 2026 insyaallah.
Allah Ta’ala berfirman,
ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌۭ مَّعْلُومَـٰت
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui” (QS. al-Baqarah: 197)
Ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Bulan-bulan haji adalah syawal, dzulqa’dah, dan sepuluh hari dzulhijjah.” (HR. Al-Bukhari) Artinya ihram untuk haji, ataupun umrah yang terikat dengan haji sudah bisa dimulai dari syawal dan dzulqa’dah.
Nama bulan Dzulqa’dah diambil dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata. Kata pertama adalah Dzu, yang artinya “pemilik” atau “yang punya”. Kata kedua adalah Al-Qa’dah atau Al-Qi’dah yang artinya “duduk” atau “berdiam diri”. Kalau digabungkan dan diartikan secara sederhana, Dzulqa’dah berarti “bulannya orang-orang yang duduk”. Nama ini diberikan bukan tanpa alasan, tapi sangat pas dengan kebiasaan orang-orang Arab zaman dahulu saat bulan kesebelas ini tiba.
Maksud dari kata “duduk” di sini adalah mereka berhenti melakukan aktivitas yang berat atau berbahaya di luar rumah. Di bulan ini, orang-orang Arab pada masa lalu sepakat untuk libur dari segala macam peperangan, perselisihan, atau bepergian jauh. Mereka lebih memilih untuk “duduk” tenang dan beristirahat di kampung halamannya masing-masing. Waktu istirahat dan damai ini mereka gunakan untuk mengumpulkan tenaga dan menyiapkan bekal, sebelum akhirnya berangkat menempuh perjalanan jauh untuk ibadah haji, dan persiapan ibadah qurban.
Dzulqa’dah sendiri merupakan salah satu dari empat bulan suci dalam Islam. Tiga di antaranya datang secara berurutan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, sedangkan Rajab datang secara terpisah. Bulan-bulan ini memiliki kedudukan istimewa, di mana kaum muslimin diperintahkan untuk lebih menjauhi kemaksiatan karena dosanya lebih besar, dan sebaliknya amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Keutamaan 4 bulan tersebut berada setelah keutamaan bulan Ramadan.
Karena itu, sudah selayaknya kita menyambut datangnya Dzulqa’dah dengan meningkatkan kualitas iman dan amal. Jadikan momen ini sebagai awal persiapan ruhani menuju hari-hari mulia, terlebih saat kaum muslimin mulai bergerak menuju ibadah haji dan ibadah qurban. Perbanyak ketaatan, jaga diri dari dosa, dan isi hari-hari dengan amal saleh, semoga Allah memberi kita bagian dalam keberkahan bulan-bulan suci ini, baik dengan berhaji maupun dengan amal kebaikan lainnya.
Kaum muslimin rahimakumullah
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)
Mengenai empat bulan yang dimaksud dan salah satunya bulan Dzulqa’dah bulan yang sesaat lagi akan datang insyaallah, telah disebutkan dalam hadits dari Abu Bakroh, Nabi ﷺ bersabda,
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram serta Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibnu ’Abbas radhiyallahu ‘anhumaa mengatakan,
ثُمَّ اخْتَصَّ مِنْ ذَلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَجَعَلَهُنَّ حُرُمًا وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِنَّ وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيهِنَّ أَعْظَمَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَالْأَجْرَ أَعْظَمَ
“Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif)
Kaum muslimin rahimakumullah
Sebagian Ulama berpandangan dianjurkannya umrah di bulan dzulqa’dah dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ berumrah empat kali dan seluruhnya beliau laksanakan di bulan dzulqa’dah, beliau setelah hijrah tidak pernah berumrah di selain bulan tersebut, yaitu:
Pertama: Umrah dari hudaibiyyah tahun 6 H.
Kedua: Umrah qadha’ tahun 7 H.
Ketiga: Umrah dari ji’ranah tempat beliau membagi ganimah perang Hunain tahun 8 H.
Keempat: Umrah dengan haji beliau tahun 10 H.
Kaum muslimin rahimakumullah
Terjadi banyak peristiwa besar di bulan dzulqa’dah, di antaranya Allah Ta’ala membuat janji dengan Nabi Musa ‘alaihissalam sebagaimana firmanNya,
وَوَٰعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَـٰثِينَ لَيْلَةًۭ وَأَتْمَمْنَـٰهَا بِعَشْرٍۢ فَتَمَّ مِيقَـٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Dan telah Kami janjikan kepada Musa sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi).” (QS. al-A’rāf: 142)
Kebanyakan mufassir berpendapat bahwa tiga puluh hari yang dimaksud adalah bulan dzulqa’dah, sedang sepuluh hari berikutnya adalah sepuluh hari dzulhijjah. Dengan demikian sempurnalah perhitungan 40 hari pada hari kurban. Pada saat itulah Allah berbicara dengan Nabi Musa ‘alaihissalam”. (Tafsir al-Ṭabari (10/414) dan Tafsir Ibn Kaṡīr (3/468))
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang bulan mulia Dzulqa’dah, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di tanah air ini, begitupun di Palestina, Sudan dan negeri lainnya, serta kebaikan untuk pemimpin negeri kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
