Alhamdulillah, kita telah menyelesaikan 5 kaidah. Malam rabu lalu, kita selesaikan kaidah ke lima. Malam ini kita selesaikan kaidah ke enam. Kaidah dari hadits nabi. Hadits ini tidak tercantum di arbain, namun menurut Syaikh merupakan hadits pokok, membahas secara khusus persoalan sedekah. Keutamaan sedekah sangat banyak, namun hadits ini dipandang oleh Syaikh bisa wakili tentang sedekah.
Dari Abu Hurairah, Potongan haditsnya berbunyi, “Tidak berkurang harta itu dengan sedekah”. Kali ini beliau langsung mengutip firman Allah dalam surat Al Baqorah, yang jelaskan tetang keutamaan sedekah. Sebagian orang menempuh cara riba agar dapat harta berlipat ganda. Padahal riba tak datangkan kecuali kebinasaan, terkhusus pada hartanya. Sedekah menjanjikan keberkahan dan penambahan di sisi Allah.
Syaikh berkata, berkata wahid al amwal, Pemberi harta pada kita (ini adalah sifat Allah, dan bukan nama Allah),
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ٢٦١
Artinya:
“Perumpaman orang-orang yang menafkahkan hartanya mereka di jalan Allah adalah serupa dengan butir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada setiap butir seratus biji (700 biji). Allah (terus-menerus) melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karuniaNya) Lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah:261)
Ada sekitar 40 lebih ayat yang menyebutkan pemisalan dalam Alquran, salah satunya adalah ayat ini. Ayat ini salah satu yang menunjukan keberkahan bagi orang yang bersedekah. Ini sangat cocok dengan hadist kita. Hadits menjelaskan wahyu dan wahyu menjelaskan hadits. Sedekah bukan hanya tidak mengurangi harta, bahkan akan berlipat ganda di sisi Allah. Satu kebaikan akan dapat 10 pahala. Ini kaidah umum. Namun ada amalan yang pahalanya bukan 1 : 10, tapi dilipatgandakan. Yang paling jelas adalah tentang sedekah. mengeluarkan 1, akan dapat 700 kali lipat. Yang bisa tandiingi pahala sedekah hanyalah pahala sabar, “Sesungguhnya Allah membalas pahala orang bersabar tapa batas” (Qs. Az Zumar:10).
Syaikh berkata, bahwa kaidah ini seakan-akan meyerang kepada ‘hati-hati’ kita untuk merubah pandangan kita tentang harta benda. Kita menyangka ketika kita bersedekah maka harta akan berkurang. Padahal, Ini hanya pandangan secara kasat mata; kita keluarkan uang secara umum, maka kita mengetahui bahwa hartanya berpindah dari dirinya ke orang lain. Hal yang dilihat secara langsung oleh mata bahwa ia berkurang. Tapi kaidah ini mengatakan, bahwa harta yang kelihatannya berkurang secara fisik, hakekatnya akan kembali pada harta kita dengan bertambah banyak dan berberkah. Kadang dibedakan, ‘bertambah’ disaksikan oleh mata dan ‘berkah’ dirasakan oleh perasaan. Orang yang sedekah akan dapatkan penambahan materi dan non materi, yaitu bertambah harta dan berberkah hidupnya. Harta sedikit tapi beberkah jauh lebih baik dari pada harta yang banyak tapi tercabut berkahnya. Ketika Allah takdirkan kita tak memiliki keturunan yang banyak tapi sholeh adalah lebih berkah dari pada anak banyak tapi tak sholeh. Ilmu, kalau tak berberkah, maka tak berikan manfaat pada orang. Tapi ilmu tak banyak, tapi membuatnya lebih takut pada Allah, diamalkan, didakwahkan, dan bersabar dalam dakwah, maka ini lebih baik.
Jiwa kita memang telah dijadikan fitrahnya cinta harta, ini hukum umum. Manusiawi. Allah sebutkan ini dalam Al Quran, bahkan Allah sebutkan bukan hanya cinta, tapi sangat cinta.
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta” (Al ‘Adiat: 8)
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمّ
“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan” (Al Fajr:20)
Sebenarnya klaua dipikirkan, mengapa kita begitu membesarkan harta yang bahkan mungkin kita tidak manfaatkan. Allah menegaskan dalam Surah At Humazah,
الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ
“Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung”
Ia puas jika hitung-hitung hartanya. Ia simpan, lihat, dan kagum sendiri, allau dihitung-hitung, Tujuh keturunan tidak habis-habis tapi tidak juga dimanfatakan, tapi ia sudah sangat puas dengan itu. Padahal itu tak akan di bawah pergi. Itu akan dimanfaatkan oleh orang lain. Begitulah orang yang telah dilupakan oleh Allah tentang hakikat harta tesebut. Kecintaan yang berlebihan adalah dari syaitan. Kita dibuat cinta harta dan berat menginfakkannya. Dan syaitan akan hadir berpesan untuk mencegah kita untuk tidak berinfak walau telah ada lintasan pikiran atau niat.
“Setan men-janjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 267-268)
Kalau mau hartamu tetap terjaga, tidak miskin, konsep syaitan adalah bakhil. Ini alternatif syaitan. Sayang, kita sering lebih parcayai konsep kaya dan miskin yang diajarkan syaitan padahal Allah telah sebutkan sebaliknya. Maka datang dalil Alquran dan sunnah untuk motivasi kita bahwa Allah akan ganti dengan yang lebih baik dan lebih banyak. Contohnya kaidah ini, “Tidak akan berkurang harta dengan sedekah” . Sebagaimana juga kata beliau kelanjutan ayat 268 dalam surah Al Baqarah tadi.
Uslub quran, yang tidak bagus duu didahulukan lalu sebutkan baiknya agar baiknya diingat dan yang tdiak bagsunya dilupakan. “jangan katakan ini, tapi katakan yang begini”. Di sini Allah sebutkan Bagaimana setan, lalu bagaimana Allah. Setan yang tidak baik, lalu lupakan itu. Sebaliknya, ingatlah, camkanlah, dan kerjakanlah, apa yang Allah perintahkan.
Bagiamana janji Allah? Perhatikan, Allah tak langsung janjikan ‘al ghinah’ atau ‘al fadhel’, yang terbaik bagi orang yang bersedekah adalah magfirah Allah. Terlepas banyaknya keutamaan sedekah, maka yang harus jadi harapan terbesar, bukan agar harta jadi 10 kali lipat, tapi dengan sedekah, kita dpatkan magfirah dari Allah. Ini adalah pahala yang sangat mulia kalau dapat magfirah, pengampunan dari Allah. Baru setelah itu, Allah mengatakan, ‘wafadla’ atau karunia atau harta sebagai ganti dari Allah. Perhatikan bahwa Allah sebutkan dulu ‘magfirah’ baru ‘fadhla’. Hingga Allah akhiri ayat tersebut dengan berkata,”Allah Maha Luas Pemberiannya dan Maha Mengetahui Segala Sesuatu”.
Apa sebenarnya makna berkurang yang Allah nafikan dalam hadits tadi? Kita melihat secara jujur bahwa tatkala infakkan harta tidak bertkurang? Dan apa keutamaan bagi orang yang bersedekah? Syikah berkata, hakekatnya secara sederhana, sedekah dan infak dalam kebaikan secara umum, tak akan kurangi harta dalam seluruh sisinya; seandainya ditakdirkan ia akan berkurang dari satu sisi, maka ia akan bertambah dari beberapa sisi yang lain. Pertambahan harta tak hanya dilihat dari satu sudut pandang saja, tapi harus dari banyak sisi. Karena sedekah akan memberkahi harta kita dan akan menambahnya. Jadi tak sekedar berkah, tapi menambah harta. Ia juga akan cegah diri kita dari dari hal yang tidak baik; musibah penyakit dan apa saja yang kita mau hindari dan tak mau tertimpa. Dan akan membuka bagi orang yang bersedekah pintu reski yang lain. Hartanya mungkin berkurang, tapi reskinya bertambah; dapat kehormatan di sisi manusia, diridhoi oleh Allah, sebab urusannya akan mudah. Maka apakah kita harus mempersoalkan kurangnya harta kita, dibandigkan balasan yang banyak dari sisi yang lain? Inilah persoalnnnya, setan ingatkan kita akan hal yang satu sisi saja.
Sesungguhnya, tambahan yang didapatkan dengan sedekah yang dilakukan, secara kuantitas dan kualitas. Bagiamana secara kuantitas? Dengan dibukakannya pintu-pintu reski yang mungkin tak pernah diduga sebelumnya, tak pernah terbetik sebelumnya. Para dermawan berkata, saya telah lupakan sedekah itu, yang digambarkan nabi shallallahu `alaihi wasallam, ”Orang bersedekah, ia sembunyikan, ia tak bayangkan, sampai-sampai tangan kirinya tak tau apa yang diinfakkan tangan kanannya (Muttafaqun `alaih)”. Atau mungkin harta tak bertambah, tapi utang atau tanggungan berkurang.
Kisah pemuda yang mengatakan, “Saya telah bersedekah pagi ini sebanyak 300 real (1 real = 3000-an)”. Pemuda itu bersedekah di pagi hari dan memang ada isyarat bahwa berpagi-pagi dalam bersedekah dan melakukan kebaikan secara umum adalah bagus. Nabi berkata dalam hadits riwayat Abu Daud
اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)
Pemuda ini bersedekah 300 real pada pagi harinya. Namun belum terbenam matahari, tiba-tiba orang yang ia punya utang padanya berkata, “Wahai fulan, anggap saja sudah selesai utangmu itu dan sudah ada yang bayarkan”. Diketahui bahwa utangnya 3000 real. Uang pemuda itu berkurang 300 real setelah disedekahkan tapi utangnya dikurangi oleh Allah. Bebannya berkurang 10 kali lipat. Kata syaikh, “Subehanallah yang menjanjikan dan mengembalikan dengan keutamaan yang besar. Salam salawat pada yang bersabda, “Tidak berkurang harta dengan sedekah”.”
Adapun secara kualitasnya, Allah akan turunkan keberkahan pada sisa hartamu, Allah akan jaga. Kadang orang yang menahan hartanya, justru ada cara allah untuk memusnahkan hartanya. Maka ini seperti doa malaikat yang satu, “Ya Allah, jadikanlah kebinasaan bagi orang yang kikir pada hartanya”. Mugkin harta tidak banyak, tapi cukup. Ada orang yang banyak hartanya tapi kebutuhannya banyak juga. Ada orang yang hartanya pas-pasan, tapi cukup, qona`ah, hartanya berberkah. Ia tak akan dipaksa untuk berbelanja. Tak ada sesuatu yang paksa ia untuk membelanjakan uangnya berlebihan. Beda orang yang hartanya tak berberkah, ia harus kelaurakn untuk ini dan itu sehingga ia tak pernah merasa cukup. sedekah karena Allah tidak akan habiskan harta sama sekali. Dan tak akan menguranginya berdasar nash dari hadits babi dan ini sudah kita sakisakan dengan mata dan pengalaman yang membuktikannya. Ini semua keutamaannya. Ini baru kita bicarakan tentang benda. Belum lagi pahala yang dijanjikan pada orang yang bersedekah di surga. Yaitu akan dapat pahala, kebaikan, ketinggian derajat di sisi Allah.
Termasuk dengan keberkahan harta, kita akan digantikan dengan yang lebih bermanfaat, lebih banyak, lebih baik. Firman Allah dalam surah saba`, “Apa yang kamu infakkan dari sesuatu, maka Allah yag akan menggantikannya”. Ini sebagaimana hadits tadi, Dua malaikat yang datang. Malaikat satu mengatakan, “berikan pada yang bersedekah, gantinya”. Malaikat yang lain, “yang tidak bersedekah kebinasaan dari hartanya”. Dan ini semua akan menutupi segala yang berkurang dari harta yang kita belikan. Jadi kadang penggantinya tak bersifat materi, tapi kadang non materil yang lebih bermanfaat. Bahkan kadang ada orang yang mulia, orang yang sangat baik, orang yang sholeh, mereka itu kalau bersedekah, ia menyaksiakan langsung kebenaran sabda nabi, ‘hartanya tak berkurang’. Tadinya, hartanya 10.000 lalu ia berinfaq 5000 misalnya, tapi hartanya tetap 10.000. Al faqih adi berkata, “Saya diinformasikan dari orang yang saya percayai, disebutkan oleh imam Al Munawi, dalam fadul qodir. Orang berkata, “Saya telah bersedekah dari 20 dirham perak yang saya miliki, lalu dikeluarkan sebanyak 1 dirham, tapi ketika ditimbang, peraknya masih 20 dirham”. Saya dapat info itu dan saya juga telah merasakannya sendiri. Ini pembuktian langsung dari sabda nabi, bahwa harta tak berkurang bila disedekahkan.
Cerita yang disebutkan imam Dzahabih rahimahullah. Diantara fungsi sedekah adalah Allah jadi sebab yang akan mencegah kamu dari musibah atau penyakit yang menimpamu. Beliau kutib dari imam dzahabi dalam Siyar A`lamin Nubala. Walaupun sebenarnya, kutipan beliau ini pernah disebutkan sebelumnya oleh imam Al Baihaqi dalam Syuabul iman (Imam Dzahabi abad ke 8 H sedangkan Imam Al Baihaqi di Abab ke 5 H). Ada seseorang bertanya pada Abdullah Bin Mubarak tentang satu lukanya yang tak kunjung sembuh, selalu keluarkan darah di lututnya. Selama 7 tahunan tidak sembuh. Ia telah berobat dengan berbagai macam terapi dan obat. Ia sudah tanya banyak dokter tapi tak juga bermanfaat. Lalu ia daaing pada ‘dokter hati’, imam Abdullah bin Mubarak, beliau berkata, ”Pergi kamu ke tempat yang tempat orang yag butuh air. Di sana, galilah sumur dan jadikan sumur itu sumur umum yng orang akan ambil manfaat dari airnya. Semoga nanti akan muncul mata air di situ. Dan kalau sudah muncul mata air, maka Allah akan hentikan darah yang megalir di lukamu itu.”
Orang ini mengerjakan anjuran imam abdullah bin Mubarak dan subahanallah, setelah itu tak lama ia sembuh. Dengan sedekah sumur, maka beliau sembuh dari lukanya. Ini memang diantara fungsi sedekah walau riwayatnya dikhtilafkan, oleh imam abu daud, sebagian menghasankan, tapi insyallah secara makna, keberkahan sedekah, kita bisa disembuhkan oleh Allah. Ini juga adalah kebaikan yang dipercepat oleh Allah. Cerita ini, imam baihaqi menyebutkan, tapi Syaikh Al Bani melemahkan kisah ini dengan adanya elemahan sah seorang perawinya. Namun kisah yang selain hadits, apalagi terkenal dari ulama yang terpercaya maka resikonya, tak seberat kalau kita sebutkan hadits lemah apalagi bila rak bertetangan dnegan dalail yang kuat.
Namun kisah yang bisa jadi pengganti kalau kita ragu dengan kisah Abdulah Bin Mubarak pada abad ke dua Hijriyah tersebut, Ada riwayat al ternatif dari imam Al Baihaqi. Kata beliau, ini dialami langsung oleh guru saya Imam Al Hakim, penulis kitab Al Mustadadrak al shohihain. Beliau pernah bengkak di wajah beliau di waktu yang lama. Sudah berobat dan tak sembuh. Beliau datang pada imam Abu Ismail As Shabuni, penulis Akidah Salaf Wa Ashabul Hadits dan minta didoakan di mejelis beliau pada hari jumat. Beliau berkata, Kita doakan agar iman hakim semoga ia disembuhkan di wajah belaiu. Ada wanita yang dengarkan itu dan beliau minta izin untuk pulang dengan menulis kertas. Ia pulang ke rumahnya dan berdoa. Beliau istirahat, tidur. Dalam tidur, beliau mimpi melihat nabi dan nabi memberikan arahan. Mimpi melihat Nabi adalah kebenaran, selama apa yang kita saksikan adalah sebagaimana wajah dan ciri-cirinya yang disebutkan dalam hadits karena setan tak bisa serupai Nabi. Disampaikan pada Imam Al Hakim agar dapat menggali sumur yang bisa dimanfatakan oleh orang banyak. Ia sampaikan pada imam Ashobuni dan selanjutnya disampaikan pada imam Al Hakim. Beliau amalkan mimpi itu, maka beliau sembuh. Beliau buktikan bahwa dengan fungsi sedekah, beliau disembuhkan oleh Allah. Jangankan berikan minum pada manusia, beri minum anjing saja, pelaku maksiat maksiat diampuni oleh Allah dan di jamin surga.
*) Ditulis oleh Andi Muh. Akhyar, S.Pd., M.Sc.
**) Catatan ta`lim malam rabu, masjid Anas Bin Malik STIBA Makassar oleh ust. Yusran Anshar, Lc.,M.A.