Islam berasal dari kata aslama-yuslimu-islaaman secara bahasa berarti keselamatan, kesejahteraan dan damai. Makna ini yang diisyaratkan Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam dalam sebuah hadits yang berbunyi:
“Seorang muslim adalah tatkala orang muslim yang lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR: Bukhari dan lainnya).
Dalam kesempatan kali kita akan membicarakan sedikit tentang khashaish Al-Islam yang diharapkan bisa membuka wawasan kita bagaimana sebenarnya Islam itu?
- Rabbaniyah
Agama Islam yang kita anut bersama adalah sebuah keyakinan yang berdasarkan ketuhanan. Maksudnya, semua ajaran yang ada dalam agama ini bersumber dari Ilah yang menciptakan kita semua. Ada yang langsung lewat ayat-ayat Al-Qur’an maupun lewat hadits-hadits Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam atau yang dipahami oleh salafus shaleh dari keduanya. Tidak ada dalam agama ini yang keluar dari keduanya. Tidak dibenarkan kita membikin yang baru dalam agama ini. Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam bersabda:
“Siapa yang membikin yang baru dalam perkara kami ini yang bukan merupakan bagian darinya maka ia ditolak”. (HR:Muslim)
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah. (QS. 42:21)
- Akhlakiyah
Maksud khashaish yang kedua ini adalah bahwa Islam memperkokoh dan sangat menjunjung tinggi akhlak yang mulia. Semua itu kita dapatkan dalam ajaran agama kita yang mulia ini. Kita ambil satu contoh, kita diajarkan agar selalu bersikap ramah pada semua orang dengan memberikan salam kepada siapapun yang kita temui baik yang lebih tua maupun yang lebih muda. Firman Allah SWT:
Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (QS. 4:86)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS. 24:27)
Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin.Dan jika dikatakan kepadamu “Kembali (saja)lah”, maka hendaklah kamu kembali.Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 24:28)
Ini adalah salah satu contoh, masih banyak contoh lain yang semua itu tertera dalam ajaran agama kita yang mulia ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam memberikan penegasan tentang tugas beliau:
“Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.“(HR:Ibnu Sa’d dan Bukhari dalam Adaul Mufrad).
- ‘Alamiyah
Kalau suatu agama berlaku untuk semua manusia, maka dengan sendirinya iapun bersifat ‘alamiyah (mendunia). Banyak kita temukan dalam Al-Qur’an seruan yang diawali dengan kata ……ya ayyuhannas (hai sekalian manusia). Kita tidak menemukan seruan dengan mengkhususkan kepada satu kelompok saja, seperti : Hai bangsa Arab dan yang lain sebagainya. Bahkan Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam memberikan penegasan tentang hal ini dalam sebuah hadits:
“Hai sekalian manusia, ketahuilah sesungguhnya tuhan kalian satu, ayah kalian satu. Ketahuilah, tidak ada kelebihan bagi orang arab terhadap orang ‘ajam (non arab), dan tiada pula kelebihan bangsa ‘ajam terhadap bangsa Arab, juga tidak ada kelebihan bagi yang (berkulit) merah terhadap orang yang (berkulit) hitam, juga tidak ada kelebihan bagi (yang berkulit) hitam terhadap orang yang berkulit merah kecuali dengan taqwa.“(HR:Ahmad 23536, Syu’abul Iman 5137)
Nabi Muhammad Shalallahu ‘alahi wassallam diutus kepada sekalian umat manusia. Firman Allah Subahanahu wata’ala:
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. 21:107)
4. Tasamuh
Di antara bukti ketinggian ajaran Islam adalah adanya kekhasan berupa sifat tasamuh (toleran) yang dimilikinya. Dalam Islam, tidak ada pemaksaan agama seperti yang terjadi dalam agama yang lain. Firman Allah Subahanahu wata’ala:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka sesunguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:256)
Walaupun ayat ini kemudian dinasakh (diganti) dengan firman Allah Subahanahu wata’ala:
Katakanlah kepada orang-orang Badwi yang tertinggal:”Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). (QS. 48:16)
Sejarah telah membuktikan hal ini. Tidak pernah seorangpun pemimpin Islam memaksakan ajaran agama ini kepada siapapun dan daerah apapun yang dikuasainya. Ingat cerita Umar bin Khaththab radiayallahu ‘anhu ketika datang ke kota Palestina setelah takluk dan tunduk ke dalam wilayah Islam. Ia hanya datang dengan mengendarai onta dan ditemani oleh seorang ajudan. Begitu sampai di kota Palestina beliau tetap membiarkan penganut agama lain untuk tetap beribadah sesuai agama dan keyakinan mereka masing-masing. Ingat juga cerita ‘Adi bin Hatim At-Tha’i yang merupakan penganut agama keristen yang panatik yang akhirnya menganut agama Islam dengan kerelaan hatinya sendiri. Ini karena sikap toleransi dari Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam yang tidak memaksakan ajaran agama Islam kepada para tawanan yang di antaranya adalah adik kandung (saudara perempuan) dari ‘Adi bin Hatim radiayallahu ‘anhu sendiri. Wallahu A’lam.
Referensi: Abu Amin Luthfi, Buletin Jum’at Ar-Risalah Tahun II No. 09 / Jum`at IV / 27 Shafar 1423 H -10 Mei 2002 M