Khutbah Jumat
Akhir Tahun Masehi
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah
Marilah kita terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menambah kualitas ketaatan seraya memperbanyaknya dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ
Pergantian tahun baru miladi atau masehi bukanlah sesuatu spesial yang perlu untuk kita berbahagia dan bersenang-senang bagaikan hari raya, bahkan itu sebagai peringatan bagi kita semua tentang usia semakin hari semakin berkurang dan mendekati hari kematian.
Begitu sangat menyedihkan beberapa fenomena terjadi bagi kaum muslimin yang biasa kita saksikan setiap tahunnya dalam pergantian tahun masehi ini, di antaranya:
Pertama: Tasyabbuh dengan orang-orang nonmuslim melalui berbagai simbol dan ritual khas mereka. Di antaranya kebiasaan meniup terompet yang merupakan kekhususan kaum Yahudi, penggunaan lonceng yang menjadi ciri khas kaum Nasrani, serta penyalaan api yang merupakan kekhususan kaum Majusi. Padahal, syariat Islam dengan tegas melarang kaum muslimin menyerupai mereka dalam perkara-perkara yang menjadi ciri khas agama dan peribadatan mereka.
Seorang muslim justru diperintahkan untuk menyelisihi mereka, menjaga identitas keimanannya, dan menampakkan keistimewaan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Menyerupai mereka dalam simbol, ritual, dan perayaan bukanlah perkara ringan, karena hal itu dapat mengikis jati diri keislaman serta membuka pintu pengagungan terhadap tradisi yang bertentangan dengan tauhid dan manhaj yang lurus.
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud 4031)
Kedua: Kebiasaan terjaga hingga larut malam yang berakibat terlambat bangun untuk menunaikan shalat subuh, bahkan tidak sedikit yang meninggalkannya sama sekali. Cukup kita saksikan setiap malam pergantian tahun masehi, bagaimana kondisi masjid-masjid pada waktu subuh; pemandangan ini terus berulang dari tahun ke tahun dan menjadi fenomena yang memprihatinkan di tengah kaum muslimin.
Padahal, shalat memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam, dengan keutamaan yang besar bagi orang yang menunaikannya, sekaligus ancaman yang sangat keras bagi mereka yang melalaikan dan meninggalkannya. Meninggalkan shalat bukan sekadar bentuk kelalaian, tetapi merupakan perkara besar yang dapat menyeret pelakunya kepada kerugian dunia dan akhirat.
Ketika penghuni neraka ditanya, apa yang memasukkan mereka ke dalam neraka, apa jawaban pertama mereka?
مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ
”Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” (Q.S. Al-Muddatstsir, Ayat 42)
قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ
Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat (Q.S. Al-Muddatstsir, Ayat 43)
Ketiga: Terjadinya kerusakan akhlak dan kemerosotan moral di tengah masyarakat. Aurat diumbar tanpa rasa malu, pergaulan bebas dianggap wajar, praktik pacaran dinormalisasi, hingga berujung pada perzinahan, na‘ūdzu billāhi min dzālik. Semua ini kerap tampak jelas pada momentum-momentum tertentu, termasuk pergantian tahun masehi, yang menjadi ajang pelampiasan hawa nafsu tanpa kendali.
Padahal, Allah Ta‘ālā telah melarang segala jalan yang mengantarkan kepada perzinahan, bukan hanya perbuatan zina itu sendiri. Larangan tersebut mencakup ucapan penuh rayuan kepada lawan jenis yang bukan pasangan sah, sentuhan terhadap yang bukan mahram, berpelukan, berciuman, berduaan, hingga segala bentuk interaksi yang membuka pintu kepada perbuatan keji tersebut, wal-‘iyādzu billāh. Seorang muslim dituntut untuk menjaga kehormatan diri dan menutup seluruh celah yang dapat menyeretnya kepada dosa besar.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. Al-Isra’, Ayat 32)
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Keempat: Perilaku boros dalam menghamburkan harta, berpesta pora, dan menghabiskan uang dalam jumlah besar hanya untuk kesenangan sesaat yang sama sekali tidak membawa manfaat, baik bagi kehidupan dunia terlebih lagi bagi akhirat. Waktu dan harta yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kebaikan justru terbuang pada hal-hal yang melalaikan dan menjauhkan dari ketaatan.
Realitanya, tidak sedikit harta yang berhamburan dalam berbagai bentuk pesta pora dan huru-hara, dihabiskan untuk perbuatan maksiat, mendatangi tempat-tempat hiburan yang mahal, serta berbagai bentuk pemborosan lainnya. Padahal, sikap boros merupakan perbuatan tercela yang menunjukkan lemahnya rasa syukur dan minimnya kesadaran akan amanah harta yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta‘ālā.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيرًا
Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (Q.S. Al-Isra’, Ayat 26)
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.(Q.S. Al-Isra’, Ayat 27)
Kelima: Menyia-nyiakan waktu, padahal hakikat diri manusia itu sendiri adalah waktu. Setiap detik yang berlalu merupakan bagian dari usia yang tidak akan pernah kembali; ketika satu hari terlewati, maka berkurang pula sebagian dari jatah hidup yang Allah Ta‘ālā tetapkan bagi seorang hamba.
Seorang muslim yang berakal seharusnya menyadari bahwa waktu adalah modal terbesar dalam kehidupan. Ia akan dimintai pertanggungjawaban atas umurnya, ke mana dihabiskan dan untuk apa digunakan. Maka menyia-nyiakan waktu dalam perkara yang sia-sia dan melalaikan, terlebih pada momen-momen tertentu, merupakan kerugian nyata yang akan disesali ketika waktu telah habis dan kesempatan tidak lagi tersisa.
Imam Al Hasan Al Basri mengatakan,
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ، وَيُوشِكُ إِذَا ذَهَبَ بَعْضُكَ أَنْ يَذْهَبَ كُلُّكَ
“Wahai Anak Adam, Sesungguhnya Anda adalah hari-hari, jika pergi satu hari maka bagian darimu ikut pergi, dan hampir saja ketika bagian darimu telah pergi maka pergilah seluruh dirimu.” [Fashlul khithãb fiz zuhd war roqõiq wal ãdãb 3/609]
Keenam: Membahayakan dan mengganggu orang lain, minimal dengan merusak ketenangan serta mengganggu waktu istirahat mereka. Kebisingan, keramaian, dan berbagai bentuk huru-hara yang terjadi sering kali menghilangkan hak orang lain untuk mendapatkan ketenteraman, khususnya pada waktu malam yang semestinya digunakan untuk beristirahat dan mempersiapkan diri beribadah.
Padahal, Islam sangat menekankan prinsip tidak membahayakan dan tidak mengganggu orang lain dalam bentuk apa pun. Mengganggu ketenangan sesama merupakan perbuatan tercela dan bertentangan dengan adab seorang muslim, karena seorang mukmin sejati adalah dia yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan perbuatannya. Oleh karena itu, segala aktivitas yang menimbulkan mudarat bagi orang lain, meskipun dianggap sepele, tetap termasuk bentuk pelanggaran terhadap nilai-nilai akhlak Islam.
المُسْلِمُ مَن سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِن لِسانِهِ ويَدِهِ
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Kesimpulannya bahwa kerusakan yang kerap terjadi pada malam tahun baru masehi mencakup beberapa bidang penting. Dalam bidang akidah, terjadi tasyabbuh dengan non-muslim melalui simbol dan ritual perayaan yang bukan berasal dari Islam. Dalam bidang ibadah, banyak kaum muslimin melalaikan kewajiban, khususnya shalat Subuh, akibat begadang dan hura-hura. Dalam bidang akhlak dan moral, marak pergaulan bebas, pembukaan aurat, serta jalan-jalan menuju perzinahan. Dalam bidang sosial, muncul gangguan keamanan dan ketenteraman masyarakat. Dalam bidang harta, terjadi pemborosan untuk kesenangan sesaat. Sedangkan dalam bidang waktu, usia disia-siakan dalam perkara yang melalaikan, padahal setiap hari yang berlalu berarti berkurangnya bagian dari diri manusia.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang akhir tahun masehi, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di tanah air ini, begitupun di Palestina, Sudan dan negeri lainnya, serta kebaikan untuk pemimpin negeri kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
