Khutbah Jumat
Memilih Pemimpin & Wakil Rakyat
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Sebentar lagi di negeri kita insyaallah akan diadakan pemilihan umum untuk pemimpin dan wakil rakyat masa depan bangsa Indonesia, di negeri tercinta sistem yang digunakan adalah pemungutan suara dari setiap kita anak bangsa, semua berhak memilih, kaya, miskin, pedagang, pegawai, pengangguran, pekerja, anak muda, orang tua, laki-laki, dan wanita, tanpa memandang warna kulit serta suku pemilih.
Setiap calon pastinya tidak ada yang sempurna, maka dalam pemilihan nantinya, kita memilih yang lebih banyak mashlahatnya dan lebih sedikit mafsadatnya. Oleh karena itu pada khutbah jumat ini, izinkan kami selaku khatib membawakan tema khutbah seputar kriteria calon pemimpin dan wakil rakyat yang layak dan pantas menahkodai dan mewakili kita di lembaga-lembaga pemerintahan, berikut di antaranya:
Pertama: Keteladanan
Tentunya sosok pemimpin terbaik sepanjang zaman adalah Rasulullah ﷺ, beliau adalah teladan dalam segala hal melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan, terutama dalam kepemimpinan. Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah. [Qs. Al-Ahzab: 21]
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur. [Qs. Al-Qalam: 4]
Maka kriteria pertama dan utama adalah melihat keteladanan seorang calon pemimpin baik ibadahnya kepada Rabbnya atau pun muamalahnya sesama makhluk, terutama dalam hal kewajiban shalat dan akhlak yang baik terhadap manusia lainnya, begitupun memperhatikan hal lainnya dengan mengerjakan kewajiban dan sunnah, meninggalkan yang haram, makruh, dan perkara yang sia-sia.
Kedua: Perbaikan
Selain dari keteladanan dalam ibadah dan muamalah, termasuk yang paling penting dalam kriteria memilih pemimpin dan wakil rakyat adalah terlihat darinya keinginan dan semangat dalam melakukan perbaikan, tidak hanya menjadi figur yang disegani dalam kewibawaannya, namun juga melakukan ishlah di tengah-tengah ummat dan bangsa. Allah Ta’ala berfirman ketika menyebutkan perkataan Nabi Shalih ‘alaihissalam kepada kaumnya,
وَلَا تُطِيعُوٓاْ أَمۡرَ ٱلۡمُسۡرِفِينَ
dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampaui batas
ٱلَّذِينَ يُفۡسِدُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا يُصۡلِحُونَ
yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan.” (Qs. Asy-Syu’ara: 151-152)
Jangan sampai saat memimpin dan menjadi wakil rakyat tidak membuahkan hasil dan perubahan yang signifikan untuk kepentingan rakyat, bukan hanya sekedar keteladanan namun juga adalah pembaruan dari hal buruk kepada kebaikan, dan yang baik menjadi lebih baik.
Ketiga: Kesederhanaan
Kriteria selanjutnya yaitu melihat dari kehidupannya sehari-hari, kesederhanaan bukanlah berarti tidak memiliki harta atau fakir miskin, namun kesederhanaan di sini maksudnya adalah rendah hati dan tidak terlihat berfoya-foya dan bermewah-mewahan serta menyombongkan diri, agar nantinya saat mendapatkan kekuatan, kekuasaan, dan jabatan tidak semena-mena sehingga mengambil uang rakyat dan negara yang bukan haknya, dan menganggap semua itu sebagai penentu kemuliaan, padahal Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Qs. Al-Hujurat: 13)
Keempat: Jujur
Perlunya memperhatikan dalam kejujurannya, bukan seorang pendusta maupun seorang munafik, tapi yang sesuai perkataan dengan perbuatannya, memiliki rekam yang baik, tidak sekedar memerintah ini dan itu, namun pada hal yang bisa ia terjun langsung kelapangan ia akan lakukan, agar tidak termasuk dalam golongan firman Allah Ta’ala,
كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ
sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Qs. Ash-Shaf: 3)
Kelima: Amanah, adil, dan memudahkan urusan rakyat.
Memilih yang amanah dan adil, berpihak kepada kepentingan rakyat, bukan untuk dirinya sendiri, tidak berkhianat dan berat sebelah, bahkan kepada orang yang ia benci sekalipun tetaplah harus berlaku adil, Allah Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَـَٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Ma’idah: 8)
Sosok yang diharapkan adalah yang takut khawatir terhadap dirinya ketika melakukan penghianatan dan ketidak adilan, serta berharap berkeinginan mendapatkan gelar di sisi Allah Ta’ala sebagai pemimpin yang adil. Rasulullah ﷺ bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ …
“Ada tujuh golongan yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil” (HR Bukhari dan Muslim).
Terdapat juga sebuah hadis doa Rasulullah ﷺ untuk yang diamahi mengembang tugas urusan umat, Rasulullah ﷺ bersabda,
اللَّهُمَّ مَن وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَشَقَّ عليهم، فَاشْقُقْ عليه، وَمَن وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَرَفَقَ بهِمْ، فَارْفُقْ بهِ
Ya Allah, siapa saja yang diamanahi mengurusi urusan umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah ia. Siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu ia menyayangi mereka, maka sayangilah ia (HR Muslim no. 1828).
Jama’ah jumat yang mulia
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang memilih pemimpin dan wakil rakyat, semoga Allah Ta’ala mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
