Khutbah Jumat
Pelajaran dari Perang Mu’tah
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah
Marilah kita terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menambah kualitas ketaatan seraya memperbanyaknya dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ
Jumadal ula adalah bulan di mana terjadi perang mu’tah tahun ke 8 hijriah, yaitu peperangan yang terjadi pada masa Rasul ﷺ antara kaum muslimin dan bangsa Romawi negara terbesar pada masa itu. Pada hari ini kita ingin berhenti sejenak untuk mengambil beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari peperangan yang penuh hikmah tersebut.
Barang siapa yang merenungi secara mendalam peristiwa Perang Mu’tah, ia akan mengetahui dengan yakin bahwa keimanan kepada Allah, keberanian dalam berjihad di jalan Allah, dan memohon kemenangan hanya dari Allah-lah yang mampu membangun kejayaan, membalikkan keadaan, mengubah cara pandang, serta memecahkan segala belenggu.
Jika tidak demikian, maka 3.000 pasukan muslim menghadapi 200.000 pasukan kafir yang berarti satu orang muslim menghadapi sekitar tujuh puluh musuh adalah sebuah petualangan militer yang dianggap sebagai tindakan menyerahkan diri kepada kematian, dan dalam aturan militer merupakan tindakan bunuh diri.
Itu adalah keberanian yang belum pernah disaksikan oleh sejarah dan tidak pernah terlihat tandingannya di dunia. Bahkan bangsa Romawi dan para sekutu dari kabilah-kabilah bayaran mereka tidak menyangka bahwa mereka akan melihat tingkat keteguhan, ketahanan, kegagahan, serta keberanian luar biasa seperti yang mereka saksikan pada kaum muslimin.
Kaum muslimin mengguncang mereka dengan serangan-serangan yang dahsyat, menimbulkan luka dan kerugian besar pada harta maupun jiwa mereka, serta memberikan pelajaran yang tidak akan mereka lupakan. Kaum muslimin benar-benar menunjukkan perjuangan terbaik dalam peperangan tersebut.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Mereka (Romawi dan sekutunya) akhirnya menyadari bahwa yang menanamkan keberanian pada hati kaum muslimin adalah keimanan mereka kepada Allah, tawakal mereka kepada-Nya, dan keyakinan mereka terhadap pertolongan-Nya.
Peperangan ini menjadi pembuka jalan bagi mereka untuk akhirnya masuk Islam, setelah melihat pada diri para sahabat radhiyallahu ‘anhum keimanan, kekuatan, ketabahan, ibadah, serta keteguhan hati yang luar biasa. Tidak mengherankan, karena iman mampu membuat keajaiban, meninggikan semangat, dan mendorong hati untuk rindu bertemu Allah.
Allah ﷻ berfirman:
قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
“Sungguh telah ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kalian pada dua golongan yang saling berhadapan; satu golongan berperang di jalan Allah dan satu lagi golongan kafir. Mereka (golongan kafir) melihat orang-orang mukmin dua kali lipat dari jumlah mereka secara kasat mata. Dan Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki pandangan.” (QS. Ali ‘Imran: 13)
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ ingin memberi pelajaran kepada para pengkhianat itu, yaitu orang-orang yang telah berkhianat terhadap utusan khusus yang membawa surat dari beliau kepada Raja Bushrā. Mereka menangkap utusan tersebut, mengikatnya, lalu memenggal lehernya.
Nabi ﷺ ingin menghukum mereka agar mereka mengetahui bahwa agama ini memiliki para pembela yang siap mempertahankannya, membela kehormatannya, dan membela para pemiliknya. Juga agar para pelaku kezaliman itu sadar bahwa dalam Islam ada para pahlawan yang tidak membiarkan darah kaum muslimin hilang sia-sia tanpa tuntutan dan tanpa hukuman.
Ketika kaum muslimin terkejut melihat besarnya jumlah dan kuatnya persenjataan musuh, mereka memutuskan untuk tetap menghadapi mereka apa pun akibatnya. Sebab, pada akhirnya mereka hanya berada di antara dua kebaikan: menang atau mati syahid. Kedua-duanya bagi mereka adalah kemenangan dan keberhasilan. Adapun mundur tanpa perjumpaan dengan musuh, itu bukan akhlak para pahlawan dan bukan sifat para lelaki sejati. Bagi para pencari surga, tidak ada ruang untuk mundur:
Allah Ta‘ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ * وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian berjumpa dengan pasukan musuh, maka teguhkanlah hati kalian, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung. Taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berselisih, karena hal itu akan melemahkan kalian dan menghilangkan kekuatan kalian. Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 45–46)
Wahai hamba-hamba Allah, jama’ah jumat rahimakumullah
Di antara faedah besar yang kita petik dari peperangan ini adalah bahwa umat ini adalah umat yang hidup, umat yang terus melahirkan generasi, umat yang tidak akan pernah mati.
Nabi ﷺ telah menunjuk tiga panglima dalam peperangan ini untuk membawa bendera dan memimpin pasukan. Namun ketika ketiga panglima yang ditunjuk Rasulullah ﷺ tersebut syahid gugur, umat ini tetap tidak kehabisan pemimpin baru yang tampil memimpin mereka. Sebab umat ini memiliki keberadaan historis yang tidak akan terputus, dan akan terus hadir hingga hari kiamat. Bila seorang pemimpin wafat, muncul pemimpin lain menggantikannya; bila seorang ksatria gugur, akan bangkit ksatria lainnya. Karena Allah Ta‘ala telah menjamin kemenangan bagi agama ini.
Meskipun para musuh berusaha memeranginya, membunuh para pengusungnya, dan berupaya menghapus jejaknya, cahaya Islam tetap akan tampak, pengaruhnya akan terus menyebar, dan penyebarannya akan semakin luas, baik dengan kemuliaan seorang yang dimuliakan maupun kehinaan seorang yang dihinakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَنْ يَبْرَحَ هَذَا الدِّينُ قَائِمًا يَقَاتِلُ عَلَيْهِ عِصَابَةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
“Agama ini akan senantiasa tegak, dan akan selalu ada sekelompok kaum muslimin yang berperang membelanya hingga hari kiamat.” (HR. Muslim)
Ketika tiga panglima yang ditunjuk oleh Rasulullah ﷺ telah gugur, muncullah setelah mereka seorang pemimpin yang matang, pejuang yang dikenal, pahlawan yang perkasa, singa yang pemberani, pedang Allah yang terhunus. Padahal keislamannya ketika itu belum genap tiga bulan. Namun Allah Ta‘ala menghendaki dialah yang menjadi pahlawan dalam pertempuran tersebut, singa dalam peristiwa besar itu, dan pengibar panji yang telah diikat oleh Rasulullah ﷺ.
Setelah para panglima yang tiga itu gugur, panji peperangan sempat dipegang oleh Tsābit bin Arqam. Namun Tsābit radhiyallāhu ‘anhu mengetahui kadar dirinya dan memahami kemampuan militernya. Ia pun menolak memegang bendera tersebut, karena ia tahu bahwa ia tidak mampu memberikan haknya, maka ia berkata kepada Khālid bin al-Walīd: “Ambillah panji ini wahai Abu Sulaiman.” Khālid menjawab: “Aku tidak akan mengambilnya. Engkau lebih berhak memegangnya karena engkau lebih dahulu masuk Islam dan lebih tua usiamu.” Tsābit berkata: “Ambillah wahai Khālid. Demi Allah, aku tidak memegangnya melainkan hanya untuk menyerahkannya kepadamu. Engkaulah yang lebih menguasai strategi dan seni peperangan daripadaku.” Akhirnya Khālid bin al-Walīd radhiyallāhu ‘anhu pun mengambil panji tersebut.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Sesungguhnya umat ini adalah umat yang terus melahirkan generasi. Jika seorang pemimpin wafat atau seorang panglima gugur, maka setelahnya akan muncul orang yang siap mengangkat panji kembali. Rasulullah ﷺ wafat, lalu datang Abu Bakar. Abu Bakar wafat, lalu datang Umar. Umar dibunuh, lalu datang Utsman. Utsman dibunuh, lalu datang Ali, dan seterusnya hingga Allah mewariskan bumi dan seluruh makhluk yang ada di atasnya.
Allah Ta‘ala berfirman:
كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Allah telah menetapkan: Aku dan para rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.”
(QS. Al-Mujādalah: 21)
Di antara pelajaran agung yang kita ambil dari peperangan ini adalah bahwa seorang muslim harus menjalin hubungan yang kuat dengan Allah, dan tidak boleh menggantungkan diri kepada manusia atau makhluk apa pun, meskipun mereka memiliki kedudukan dan keutamaan yang tinggi.
Pelajaran ini dapat kita ambil dari tidak ikut sertanya Rasulullah ﷺ secara langsung dalam peperangan ini. Beliau yang mempersiapkan pasukan, membagi tugas, memilih para panglima, dan mengatur seluruh urusan, namun beliau ﷺ tidak keluar memimpin perang secara fisik dan tidak turut serta bersamanya para sahabat.
Dalam hal ini terdapat pelajaran besar bagi kaum muslimin agar mereka memperkuat hubungan dengan Allah, Rabb semesta alam; agar mereka memiliki ikatan yang kuat kepada-Nya dan kepada jalan-Nya yang lurus; dan agar seorang makhluk tidak menggantungkan dirinya kepada makhluk lain seperti dirinya. Allah berfirman:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
“Muhammad hanyalah seorang rasul; telah berlalu sebelumnya rasul-rasul yang lain. Apakah jika dia wafat atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang? Barang siapa berbalik ke belakang, ia tidak akan membahayakan Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
(QS. Ali ‘Imran: 144)
Demikianlah Nabi ﷺ mendidik para sahabatnya agar bergantung kepada Allah, bukan kepada sosok. Beliau menganjurkan mereka untuk berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ, bukan bergantung kepada pribadi dan jasad beliau. Nabi ﷺ bersabda kepada para sahabatnya sebagai nasihat dan wasiat:
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemimpin), walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyi. Sesungguhnya siapa yang hidup di antara kalian (setelahku) akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafā’ Rasyidīn yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah ia (sunnah itu) dengan gigi geraham kalian.”
Dalam nasihat yang agung ini, Rasulullah ﷺ memberi isyarat bahwa beliau akan pergi meninggalkan dunia ini, seakan-akan itu adalah nasihat perpisahan.
Dengan cara ini beliau menggantungkan mereka kepada Allah dan sunnahnya, bukan kepada pribadi beliau. Oleh sebab itu, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu berkata kepada manusia pada hari wafatnya Rasulullah ﷺ:
أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ
“Wahai manusia, barang siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Barang siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak mati.”
Kaum muslimin rahimakumullah
Sesungguhnya Islam tidak akan mati dengan wafatnya seseorang, dan tidak akan berakhir dengan terbunuhnya seseorang. Seandainya Islam akan berakhir dengan wafatnya seorang tokoh, tentu ia akan berakhir dengan wafatnya Rasulullah ﷺ.
Seandainya Islam akan musnah karena sebuah gelombang penyerangan atau peperangan, tentu ia akan berakhir pada Perang Riddah, ketika banyak kabilah murtad dari Islam dan hanya sedikit yang tetap teguh. Namun agama Allah tetap kekal, syariat-Nya tetap menang, dan cahaya-Nya tetap tampak, meskipun orang-orang musyrik membencinya, orang-orang kafir membencinya, dan orang-orang munafik membencinya.
Allah Ta‘ala berfirman:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk memenangkan agama itu atas seluruh agama, walaupun orang-orang musyrik membencinya.”
(QS. At-Taubah: 33)
Wajib bagi seorang muslim untuk menggantungkan hatinya hanya kepada Allah Ta‘ala. Hendaknya ia menaruh harapan, kepercayaan, dan tawakalnya hanya kepada-Nya, serta memutus ketergantungannya kepada makhluk. Karena hati, bila menggantungkan diri pada makhluk, ia akan melemah dan mundur.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang pelajaran dari perang mu’tah, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di Palestina, Sudan dan negeri lainnya, serta kebaikan untuk pemimpin negeri kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia

