Khutbah Jumat
Usman bin Affan radhiyallahu ‘anhu
Khutbah Pertama
,الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَبَارِكْ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah jumat yang sama berbahagia
Sungguh suatu kenikmatan yang luar biasa tatkala Allah Ta’ala memilih sahabat-sahabat mulia menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, merekalah generasi terbaik yang pernah ada di ummat ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kitab shahih al bukhari dan shahih muslim rahimahumallahu:
إِنَّ خَيْرَكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik kalian adalah yang hidup pada zamanku (para sahabatku) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang setelah mereka”. [HR Al Bukhari 2651 dan Muslim 2535].
Salah satu sosok sahabat mulia yang seharusnya kita ketahui tentang peri kehidupan beliau adalah sahabat ‘Utsmãn bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu.
Jamaah Jumat yang berbahagia
Ada 8 point yang ingin kami sampaikan insyaallah berkaitan dengan sisi-sisi kehidupan beliau radhiyallahu ‘anhu:
Pertama:
Nama beliau secara lengkap adalah ‘Utsmãn bin ‘Affãn bin Abil ‘Ãsh bin Umayyah bin ‘Abdi Syams bin ‘Abdi Manãf, nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di ‘Abdu Manãf.
Beliau lahir (576 M), beberapa tahun setelah lahirnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam (43SH/571 M). Kunniyah beliau Abu ‘Amr, tapi setelah lahirnya ‘Abdullah anak beliau dari Ruqayyah bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam, kuniyah beliau berubah menjadi Abu ‘Abdillah.
Kedua:
‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu masuk islam sebab dakwah Abu Bakr as shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah laki-laki ke empat yang masuk islam setelah Abu Bakr, Ali, dan Zaid bin Hâritsah radhiyallahu ‘anhum. Beliau tidak pernah sujud pada berhala sekalipun, dan tidak pernah minum khamr sekalipun, baik itu di masa jahiliyah maupun masa keislaman.
Ketiga:
‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu menikahi Ruqayyah bintu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian setelah Ruqayyah wafat, ‘Utsman menikahi Ummu Kultsum bintu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan sebab inilah ‘Utsman dijuluki dengan dzunnûroin pemilik 2 cahaya.
Keempat:
‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat yang telah membeli sumur rūmah yang lebih dikenal dengan sumur utsman. Sumur Utsman (Arab: بئر عثمان) atau Sumur Rumah adalah sebuah sumur bersejarah di Madinah, Arab Saudi. Sumur ini terletak di sekitar Wadi al-Aqiq di daerah Azhari, yaitu kurang lebih 3,5 kilometer dari Masjid Nabawi atau sekitar 1 kilometer dari Masjid Qiblatain. Sumur ini sekarang berada di bawah tanggungjawab Kantor Pengairan dan Pertanian, yang dengannya beliau memiliki rekening dan hotel atas nama beliau.
Sejarahnya adalah ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam mulai masuk Madinah, beliau tidak mendapati air yang dapat digunakan selain air sumur Rumah. Tetapi sumur itu milik seorang Yahudi, dan tidak boleh seorang pun mengambilnya kecuali dengan membayarnya. Lalu Nabi berkata: Barangsiapa membeli sumur Rumah, lalu menjadikan gayungnya bersama-sama dengan gayung kaum muslimin untuk sebuah kebaikan, maka darinya ia akan mendapatkan surga. Maka didatangilah orang Yahudi itu oleh Utsman bin Affan, tetapi ia tidak ingin menjual seluruhnya, maka Utsman pun membelinya separuhnya dan diperuntukkan bagi kaum muslimin. Yahudi itu berkata: sehari buat kamu, dan sehari lagi menjadi hakku. Ketika giliran harinya Utsman, kaum muslimin pun mengambilnya untuk mencukupi kebutuhan mereka selama dua hari, hingga si Yahudi itu mengeluh: Engkau telah merusak hak sumurku ini. Lalu, Utsman pun akhirnya membeli separuh sisanya lagi, dan diperuntukkan bagi orang-orang kaya, miskin dan yang sedang dalam perjalanan.
Kaum muslimin rahimakumullah
Kelima:
‘Utsman bin ‘Affan adalah sahabat mulia ketiga setelah Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhum, dan di antara 10 sahabat yang dijamin masuk surga.
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ
Dari Abdurrahman bin ‘Auf dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Az Zubair masuk surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga, Sa’ad masuk surga, Sa’id masuk surga dan Abu Ubaidah bin Jarah masuk surga.”
[HR Abu Dawud 4649, At Tirmidzi 3747, dan Ibnu Majah 133].
Keenam:
‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang malaikat malu kepadanya
أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُضْطَجِعًا فِي بَيْتِي كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهِ فَاسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ كَذَلِكَ فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَوَّى ثِيَابَهُ قَالَ مُحَمَّدٌ وَلَا أَقُولُ ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ فَلَمَّا خَرَجَ قَالَتْ عَائِشَةُ دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ ثِيَابَكَ فَقَالَ أَلَا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ
Bahwa ‘Aisyah berkata; ‘Pada suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berbaring di rumah saya dengan membiarkan kedua pahanya atau kedua betisnya terbuka. Tak lama kemudian, Abu Bakar minta izin kepada Rasulullah untuk masuk ke dalam rumah beliau. Maka Rasulullah pun mempersilahkannya untuk masuk dalam kondisi beliau tetap seperti itu dan terus berbincang-bincang (tentang suatu hal). Lalu Umar bin Khaththab datang dan meminta izin kepada Rasulullah untuk masuk ke dalam rumah beliau. Maka Rasulullah pun mempersilahkannya untuk masuk dalam kondisi beliau tetap seperti itu dan terus berbincang-bincang (tentang suatu hal). Kemudian Utsman bin Affan datang dan meminta izin kepada beliau untuk masuk ke dalam rumah beliau. Maka Rasulullah pun mempersilahkannya untuk masuk seraya mengambil posisi duduk dan membetulkan pakaiannya. Muhammad (perawi hadits) berkata; Saya tidak mengatakan hal itu pada hari yang sama. Lalu Utsman masuk dan langsung bercakap-cakap dengan beliau tentang berbagai hal. Setelah Utsman keluar dari rumah, Aisyah bertanya; “Ya Rasulullah, tadi ketika Abu Bakar masuk ke rumah engkau tidak terlihat tergesa-gesa untuk menyambutnya. Kemudian ketika Umar datang dan masuk, engkaupun menyambutnya dengan biasa-biasa saja. Akan tetapi ketika Utsman bin Affan datang dan masuk ke rumah maka engkau segera bangkit dari pembaringan dan langsung mengambil posisi duduk sambil membetulkan pakaian engkau. Sebenarnya ada apa dengan hal ini semua ya Rasulullah’?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Hai Aisyah, bagaimana mungkin aku tidak merasa malu kepada seseorang yang para malaikat saja merasa malu kepadanya?.” [HR Muslim 4414].
Ketujuh:
‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu adalah khalifah ketiga kaum muslimin setelah Abu Bakr dan ‘Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhumaa. Mulai menjabat khilafah 23 Hijriah setelah wafatnya ‘Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu. Pada zaman khilafah beliau kaum muslimin semakin banyak, al quran dibukukan dikumpulkan menjadi satu mushaf yang dikenal dengan mushaf utsmani. Beliau menjabat khilafah selama 12 tahun lamanya.
Kedelapan:
‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu wafat pada tahun 35 Hijriah di Madinah, dan dikebumikan di baqi’. Beliau wafat dalam keadaan syahid sebagaimana gelar yang diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai syahid.
Jama’ah Jumat rahimakumullah
Demikian khutbah pertama kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati kita semuanya
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرِ الرَّحِيمِ
Khutbah kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
أَمَّا بَعْدُ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
