BARANG SIAPA MENCONTOHKAN KEBAIKAN AKAN MENDAPATKAN PAHALA DARI ORANG YANG MENGIKUTINYA*)**)
Syaikh berkata, tidaklah seseorang melakukan perbuatan yang melanggar kehormatan saudaranya yang lebih besar akibatnya melebihi ketika ia membantu saudaranya melakukan maksiat. Bahkan terkadang, ia juga meyakinkan saudaranya bahwa maksiat itu sebagai hal sepele. Anehnya, kalau ada yang mau bantu kita untuk bermakisat, kita anggap bahwa teman itu adalah teman setia. Padahal orang seperti itu adalah orang yang jerumuskan kita pada maksiat. Bahkan ia sabarkan kita dan berkata, “Tak usah pusingkan maksiat ini, tak ada yang akan persoalkan, Tuhan akan ampuni kita”. Maka orang yang jadi pelopor maksiat, ia akan menanggung dosa dari orang yang mencontohnya. Ini adalah perkataan sebagian salaf. Perkataan ini, setau kami, yang pertama kutib adalah al-Imam al-Gazali,dalam Ihya Ulumuddin. Beliau pun cuma berkata, berkata sebagian salaf, termasuk syaikh umar saat menukil perkataan ini, juga hanya berkata begitu. Tak penting mengetahui siapa yang mengatakan, yang penting adalah substansinya, selama itu tak dinisbatkan kepada nabi. Kalau dinisbatkan pada nabi, maka perlu dicek dulu. Dari Al Mughirah, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sesungguhnya, dusta atas namaku, tak sama dengan dusta atas nama selainku. (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4). Namun kalau itu dikatakan bahwa dari salaf, dan tak diketahui bahwa siapa, maka tak mengapa. .
Jadi selama bukan atas nama nabi, salah kutib kadang adalah tak mengapa, namun yang terbaik adalah tabayyun siapa yang mengatakannya apalagi kalau perkataanya masih mungkin benar dan mungkin salah. Kadang ada perkataan yang sangat mashur namun perlu dicek kebenarannya. Contoh, “Kebenaran tanpa pegaturan yang bagus, akan dikalahkan oleh kebatilan yang teratur”. Ini banyak dinisbatkan pada Ali radhiallahu `anhu namun kalau dicari sanadnya dari Ali, belum didapatkan. Dalam musnad juga belum didapatkan. Wallahu alam. Namun sekali lagi, tak separah kalau penisbatan pada nabi.
Syaikh sebutkan sababul wurud hadits ini, bahwa pada awal siang, datang kaum yang menemui nabi dalam keadaan telanjang kaki dan pakaiannya tidak lengkap menutupi auratnya. Mereka waktu itu mengenakan pakaian kayak namr (seperti kulit harimau yang bergaris-garis, beda-beda warnanya). Ini untuk ungkapan untuk tunjukkan pakaiannya yang lusu, yang ada sebagian hitam dan sebagian putih, bukan karena coraknya begitu, tapi karena tuanya baju itu dan sudah sangat lusuh. Mereka membawa pedang. Kebanyakan kaum itu datang dari kabilah mudhor. Bahkan semuanya dari mudhor (salah satu kabilah di daerah Hijaz). Kabilah ini paling agungkan bulan rajab. Melihat penampilan mereka, maka berubah raut wajah nabi karena begitu kasian melihat kemiskinan mereka. Beliau masuk dulu di rumahnya lalu keluar lagi lalu beliau memerintahkan Bilal untuk adzan kemudian beliau sholat dan berkhutbah. Nampaknya waktu itu sudah mau masuk waktu sholat. Tak disebutkan itu kutbah khusus jumat, ied, atau yang lainnya. Tapi menurut ulama itu adalah khutbah yang insidental. Dimunculkan begitu saja. Tak ada waktu tertentu, hanya karena ada kebutuhan. Setelah sholat, beliau berdiri dan berkhutbah membaca firman Allah surah an-Nisa ayat pertama,. Kemudian beliau membaca setelahnya firman Allah dalam surah al Hasyr ayat 18, “Hai orang-orang yng beriman, bertakwalah pada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yng telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah pada Allah…”, untuk ingatkan pada manusia agar bertakwa dan ingat hari kiamat. Fungsinya untuk mengingatkan.
Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam waktu itu tak langsung mengatakan bersedekahlah. Beliau cuma berikan dua isyarat. Pertama, raut wajah beliau yang berubah. Biasanya murah senyum, namun saat melihat penampilan orang yang sangat miskin raut wajahnya berubah. Kedua, isyarat beliau adalah dengan firman Allah ini. Mengingatkan pada orang beriman untuk ingat bekalnya dan perbaharui ketakwaannya. Ini isyarat. Nabi tak hanya sekali dua kali lakuakan ini. Kadang tak tegas berkata lakukan ini, tapi ingin agar sahabatnya lakukan ini. Jadi seorang muslim harus ada kepekaan pada orang di sekitarnya. Beliau mau agar sahabatnya paham isyarat. Orang merdeka/cerdas itu harus paham dengan isyarat, bisa paham maksud dari orang yang lebih di atas darinya. Namun demikian, tak semua sahabat paham saat itu hingga ada orang yang pelopori kebaikan: bersedekah dengan dinarnya, dirhamnya, pekaiannya, dengan satu sho` gandum, kurma, dst. Nanti ada satu duluan baru yang lain ikutan, padahal awalnya hanya saling pandang memandang. Di beberapa riwayat, ketika belum ada sahabat yang paham, sempat berubah lagi wajah beliau menjadi lebih sedih sampai ada sahabat yang memulai kebaikan tersebut. poin pentingnya di sini, bukan ia yang paling banyak infaknya, namun ia yang pelopori. Sehingga dikatakan, “Keutamaan itu selalu ada pada orang yang memulai kebaikan walau mungkin orang yang belakangan lebih bagus”. Mungkin orang belakangan, lebih cerdas atau lebih banyak infaknya, tapi pahala yang paling banyak adalah orang yang memulai kebaikan. Karena mungkin orang yang belakangan akan mendapat pahala yang sempurna, namun orang yang memulai juga akan mendapatkan sebanyak orang yang mengikutinya.
Karena terinspirasi, sampai ada orang yang tak punya apa-apa, hanya punya sepotong kurma, ada juga yang datang dengan pundi-pundi hartanya, sampai-sampai telapak tangannya tak cukup lagi memegang pundi hartanya. Bahkan tangannya tak sanggup angkat beratnya harta untuk di infakkan. Terus begitu, sampai aku (Jadid bin Abdullah al-Fajri) melihat tumpukan pakain dan makanan sampai meninggi hingga aku melihat wajah nabi akhirnya bersinar-sinar bagaikan hilal/kemasan yang begitu mengkilaunya karena gembira. Awalnya murung karena lihat keadaan orang yang datang sangat melarat, dan agak terlambat respon sahabat, namun ketika ada yang memulai dan banyak yang ikut, maka seketika raut wajah beliau bersinar. Nabi adalah orang kulitya sangat putih sehingga kalau marah orang mudah tangkap. Rasulullah menanggapi kedaan ini, maka keluarlah sabda nabi yang sangat terkenal, diriwayatkan imam muslim, ”Barang siapa yang melakukan satu sunnah dalam Islam yaitu sunnah hasanah, Baginya pahala bagi kebaikan yang dilakukan dan juga akan mendapatkan pahala dari orang yang mengamalkan kebaikan itu setelahnya tanpa harus mengurangi pahala orang yang mengikuti”.
Jadi, kalau cuma ikut-ikutan berbuat baik, maka kita dapat 10 pahala, dan dia (orang yang menunjuki kita kebaikan) dapatkan pahala juga sebanyak itu tanpa mengurangi pahala kita. Dan sebalilknya, “Siapa yang lakukan satu sunnah yang tidak baik (sunah dalam makna bahasa, bermakna jalan/adat/pola hidup) maka baginya dosa, dan juga akan dapatkan dosa yang amalkan sesudah dia tanpa mengurangi dosa orang tersebut”. Mungkin masyarakat belum paham maksiat itu, lalu orang pada ikut, maka mereka berdosa dan dosa mereka diberikan pada anda juga tanpa mengurangi dosa mereka. Jadi ornag yang ikut-ikut berdosa, maka ia tak bisa berkata, “saya cuma ikut-ikutan.”
Kata syaikh, keadaan waktu itu, sahabat berlomba dalam kebaikan, sebatas kemampuan mereka dan keutamaan perbuatan ini menjadikan nabi menyebutkan pada kita yang juga menjadi kaidah yang berlaku bukan untuk orang itu saja, tapi sampai hari kiamat. Sangat melekat hadist ini pada hati para sahabat. Perhatikan lafadz dan ungkapan dalam hadits ini. “Barang siapa yang lakukan sunnah yang baik dalam Islam”, artinya melakukan satu jalan yang diridhoi oleh Allah yang telah ada dalilnya yang ditunjukan dalam pokok agama, lalu diikuti, maka ia dapatkan pahala tesebut.
Hadits ini kadang dipelsetkan menjadi dalil tentang adanya bid`ah hasanah. Dalil ini tentang sunnah hasanah dan sunnah sayyi`ah, bukan bid`ah hasanah dan bid`ah sayyi`ah. Bagaimana ada sunnah tapi dikatakan buruk? Bukan sunnah menurut ulama kita, namun maksudnya sunnah menurut bahasa arab (contoh, adat, jalan hidup). Sunnah yang baik ditandai dengan adanya dalil bahwa itu bagus. Apa sunnah baik dari orang ini? Berifaq dan sedekah. Banyak dalil yang sebutkan keutamaan sedekah dan infaq. Contoh sunnah sayyi`ah? Dosa pertama kali terjadi di bumi adalah membunuh, yaitu oleh anak Adam. Maka anak Adam yang membunuh, telah mencontohkan sunnah membunuh. Baik atau buruk telah ditentukan oleh dalil. Jadi bukan ibadah yang belum ada aturannya, lalu ibadah baru itu diklaim jadi ibadah yang bagus. Bagaimana kita tau itu bagus kalau tak ada dalilnya. Kebaikan dan keburukan ditau kalau ada dalilnya. Jadi tak nyambung kalau hadist ini dijadikan dalil adanya bid`ah hasanah.
Disebutkan dengan kaidah ini untuk diketahui kalau sunnah ini, seperti apa yang dicontohkan oleh sahabat, adalah amalan yang telah ada contohnya dari nabi. Kebaikan dikatakan baik karena telah ada dalilnya bahwa ia adalah kebaikan. Syaikh kutib pekataan Imam Syafi’i dalam al-I`tishom, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang lakukan bid’ah yang sesat lalu diikuti, maka jelas berdosa”. Sunnah lawannya bid`ah. Maka yang dimaksudkan sunnah hasanah adalah bukan bid`ah.
Perkataan Abdullah bin Mas’ud, termasuk tafsir salaf yang sangat teliti. Surat al-Infithor ayat 5, “Setiap jiwa sudah mengetahui apa yang telah ia lakukan dan apa yang tak sempat ia lakukan. Abdullah bin Mas’ud menafsirkannya, “’Apa yang telah ia persembahkan’ bermakna yaitu dari sunnah kebaikan (sholeh) yang diamalkan setelahnya (diikuti orang lain), maka ia akan dapatkan pahala sempurna tanpa harus kurangi pahala dari orang yang mengikuti”. Dan makna dari maa akhrat, “Apa yang dilakukan dari sunnah yang buruk lalu diikuti orang lain, maka baginya dosa tanpa mengurangi dosa orang yang melakukannya.” Jadi dosa pengikut juga sempurna, namun dosa yang pelopori lebih banyak.
Kesimpulan awal, keutamaan orang yang pelopori kebaikan. Mungkin kita tau bahwa itu kebaikan, namun hanya butuh contoh. Kadang kita tau itu baik, namun kita lihat orang belum lakukan. Atau mungkin orang beralasan, orang lebih berilmu saja tak lakukan apalagi saya. Namun tatkala kita mulai, maka orang pun akan ikuti.
*) Ditulis oleh Andi Muh. Akhyar, S.Pd., M.Sc.
**) Catatan kajian kitab’ Kawaid Nabawiyah’ setiap malam Rabu oleh ust.Yusran Anshar, Lc.,M.A. @masjid Anas Bin Malik STIBA Makassar