Secara bahasa, pesantren tidak sepenuhnya merujuk pada kata dalam bahasa Arab. Sebutan untuk pelajar yang mencari ilmu bukan murid seperti dalam tradisi sufi, thalib atau tilmidz seperti dalam bahasa Arab, tapi santri yang berasal dari bahasa Sanskerta. San berarti orang baik, dan tra berarti suka menolong.
Sedangkan lembaga tempat belajar itu pun kemudian mengikuti akar kata santri dan menjadi pe-santri-an atau “pesantren”. Di Sumatra, pesantren disebut rangkang, meunasah, atau surau. Ini menunjukkan bahwa pendekatan dakwah para ulama yang permisif terhadap tradisi lokal.
Di Malaysia dan Thailand, lembaga ini dikenal dengan nama pondok. Kata ini merujuk pada bahasa Arab fundukyang berarti hotel atau penginapan, yang maksudnya adalah asrama. Jadi, meskipun istilah “pesantren” tidak memiliki akar kata dari tradisi Islam, tapi substansi pendidikannya tetap Islam.
Menurut KH. Imam Zarkasyi, dalam buku ‘Pekan Perkenalan Pondok Modern Gontor’, pesantren didefinisikan sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kiai sebagai sentral figurnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam di bawah bimbingan Kiai yang diikuti santri sebagai kegiatannya.
Ada empat ciri utama pesantren. Pertama, pondok harus berbentuk asrama. Dalam sebuah ceramah yang dibawakan oleh Ustadz Bachiar Nasir, bahwa Pesantren pada awalnya diinisiasi oleh seorang Kiyai yang menerima santrinya di rumah untuk belajar ilmu agama. Lama-kelamaan, santri semakin banyak berdatangan. Dan akhirnya, rumah sang Kiyai tidak cukup menampung lagi.
Langkah berikutnya adalah membuat asrama (boarding) untuk semua santrinya. Sebab banyak santri yang datang dari tempat yang jauh. Solusi pembangunannya adalah swadaya dari masyarakat sendiri. Dan akhirnya, berkembanglah menjadi sebuah institusi pendidikan.
Ciri yang kedua adalah kiai sebagai sentral figur yang berfungsi sebagai guru, pendidik, dan pembimbing. Hal tersebut sudah menjadi syarat utama. Sebab corak pendidikan pesantren adalah pendidikan Tradisional yang menekankan pada perbaikan individu. Dan dalam struktur masyarakat di zamannya, figur ulama, Kiyai, Habaib dan lain – lain adalah sosok sentral pemimpin agama. Sehingga masyarakat yang dibina, punya ketertarikan emosional untuk menjadikan anak-anak mereka mengikuti jejak pendidikan keilmuwannya.
Ciri ketiga, masjid sebagai pusat kegiatan. Ciri ini tidak bisa lepas sama sekali dari pesantren. Sebab pesantren menekankan pada pendidikan jiwa. Dan masjid adalah basisnya. Hal tersebut sama dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, yang pertama kali dalam dakwahnya di Madinah adalah masjid. Bukan Pasar. Karena masjid adalah pusat pendidikan sebenarnya, yang berperan bukan saja spiritual, tetapi juga tsaqofah.
Yang keempat, materi yang diajarkan tidak terbatas kepada kitab kuning saja. Meski demikian, Kitab Kuning adalah ciri utama dari Pesantren. Sebab karakter pendidikan utama di pesantren adalah mengkaji pendapat para ulama-ulama mutaqaddimin. Yang notabene semuanya berbahasa Arab.
Menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Penulis Peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization(INSIST), dengan catur-pusat inilah, pendidikan pesantren berfungsi sebagai “melting pot”, yaitu tempat untuk mengolah potensi-potensi dalam diri santri agar dapat berproses menjadi manusia seutuhnya (insan kamil).
Dengan demikian, karakter pendidikan pesantren bersifat menyeluruh. Artinya, seluruh potensi pikir dan zikir, rasa dan karsa, jiwa dan raga dikembangkan melalui berbagai media pendidikan yang terbentuk dalam suatu komunitas yang sengaja didesain secara integral untuk tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan pesantren pada hakekatnya seperti halnya tujuan kehidupan manusia di dunia ini adalah ibadah, yang spektrumnya seluas pengertian ibadah itu sendiri. Santri tidak hanya disiapkan untuk mengejar kehidupan dunia, tapi juga mempersiapkan kehidupan akhirat (Wallohu a’lam bi ash-Showab).
Disaadur dari http://pondokpesantrenhidayatussaalikin.blogspot.co.id/2016/04/peran-serta-dan-kontribusi-pesantren.html dengan perubahan.