Ketika dalam misi dakwah di sebuah kabupaten minoritas muslim, saya menawarkan program pembelajaran al-Qur’an kepada Pemerintah untuk masyarakat. Setelah membuat surat izin untuk diajukan ke pemerintah setempat, ternyata kepala KUA-nya sendiri mencurigai program tersebut. Ia khawatir, katanya nanti akan ada ajaran yang ‘mencurigakan’ yang diajarkan, sehingga ia merasa perlu untuk membatasi ruang gerak kami. Meski tidak menyampaikannya kepada masyarakat secara langsung, namun terlihat kecurigaan dan sikap yang tidak yang kurang ‘supportif’. Akhirnya, program tersebut belum bisa disosialisasikan secara luas. Meski pada akhirnya saya tidak habis pikir, seorang kepala Kantor KUA, di tengah jumlah minoritas, masih terlalu mempersoalkan masalah yang tidak penting, seperti persoalan ‘tampilan’. Padahal mayoritas masyarakat muslim yang ia pimpin tidak pernah mendapatkan pembinaan keislaman dengan baik.
Persis dengan peristiwa itu. Di tempat yang lain. Saat membawa program yang sama, ada beberapa pihak yang kurang respect. Bahkan tidak mendukung sama sekali. Tapi, saya teringat dengan satu kalimat dengan seorang ustadz dalam satu majelisnya. Bahwa, ‘dalam berdakwah pasti kita akan menemui tantangan’. Bahkan Beliau mengatakan, bahwa berdakwah yang benar itu kalau sudah mendapat tantangan. Kalau belum, berarti belum berdakwah namanya.
Dakwah yang mulus-mulus bukanlah perjuangan, katanya. Karena kemenangan bukan persoalan akhir. Kemenangan bukanlah ketika kita telah sampai di puncak dunia. Akan tetapi kemenangan adalah ketika kita mampu untuk terus berjuang di saat kalah ataupun menang.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fusshilat: 30)
Pertarungan selalu menghasilkan orang yang kalah dan menang. Tapi bukan persoalan menang atau kalah. Persoalannya adalah konsistensi untuk menetapi jalan para pemenang. Jika kita menang, apakah kita bisa untuk terus mampu menjadi pemenang. Dan jika pun kita kalah, apakah kita masih berambisi untuk meraih puncak tertinggi sebagai bagian dari kemenangan. Ataukah setelah kalah, kita mundur dan pupus harapan.
Kita teringat dengan kalamullah,
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS. Muhammad: 7)
Yang kita ingin peroleh dalam perlombaan adalah kemenangan. Tapi, tidak cukup dengan kemenangan. Sebab, setelah kemenangan kita masih membutuhkan keteguhan, untuk tetap istiqamah dalam kemenangan.
Karena memang, hanya dengan ujian, orang-orang yang jujur akan diketahui. Jika dalam kondisi yang normal mungkin Semua orang bisa mengaku dengan kesungguhannya dalam dakwah dan perjuangan. Namun tidak dengan ujian dan tantangan. Dengan tantangan, akan terlihat siapa orang-orang yang akan mundur secara teratur dan siapa yang tetap teguh di atas jalan pengorbanan.
Dakwah Meminta Seluruh yang Kita Miliki
Perjuangan tidak hanya akan meminta pengorbanan harta. Akan tetapi, sampai jiwa dan seluruh yang kita miliki. Dalam hal ini Allah taala berfirman,
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. As-Shaff: 11)
Siapa yang bersantai di saat waktu luangnya, ia akan didatangi oleh mimpinya, yang mengajaknya untuk beristirahat dan menikmati seharian waktunya dalam kesia-siaan. Siapa yang tidak memiliki kehendak yang tinggi, akan dipatahkan oleh aral terjal melintang. Hingga semangatnya akan pudar melihat tantangan. Ghirahnya akan luntur dan berlumut seiring berlalunya waktu. Hingga ia tertinggal, di saat orang-orang telah berlari menuju masa depannya. Saat diseru untuk segera bangkit, ia hanya melambaikan tangan dan tetap tidak beranjak dari kursi malasnya. Berharap dengan harapan kosong. Mimpinya membawanya ke alam fana.
Perumpamaan meraka, sama dengan orang yang diajak untuk bepergian. Pada saat yang sama awan mendung dan ia menolak untuk bergegas. Alasannya karena “Hari ini, hujan menghalangi kita untuk bekerja”. Tetapi ketika cerah, ia mengatakan “ini adalah waktu yang tepat untuk bersenang-senang. Kapan lagi waktu ini akan kita dapati”. Itulah kata-kata yang lahir dari mental kerdil. Pemimpi-pemimpi ulung di siang bolong. Mengharapkan fajar kemenangan terbit. Namun masih asyik menikmati kasurnya di subuh buta. Jika diseru, ia adalah orang yang paling keras mempertahankan argumennya. Membenarkan sikap yang ditempuhnya. Karena mereka sebenarnya berada di atas kelalaian.
Tanyakan kepada setiap orang yang tidak berusaha. Tanyakan Kepada setiap orang yang bersantai, di saat manusia telah keluar dari rumahnya dengan harapan, sebagaimana tawakkal seekor burung keluar dari sarangnya mencari rezeki di pagi hari. Tanyakan kepada setiap mereka.
Diantara mereka ada yang bermimpi menjadi seorang yang kaya-raya dengan harta bendanya yang melimpah. Diantara mereka ada yang bermimpi untuk menjadi seorang yang terkenal. Populer di mata manusia. Dan diantara mereka ada yang menginginkan kekuasaan, agar semua orang segan terhadapnya.
Katakanlah, bahwa “mimpi saja tidak cukup!”, Ia harus dibuktikan dengan amal. Karena itulah Al- Imam, Hasan Al Bashri mengatakan,
“Al Imanu, laisa bittamanni wattahalli, walakinna al-iimaan. Maa waqa’a fii qalbii, washaddaqa bi al-amal”. (Iman, bukan dengan angan-angan dan khayalan. Akan tetapi iman adalah apa yang menghujam dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan.)
Hal yang berbeda dengan orang yang bermental pemenang. Jika Hujan, mereka akan berkata, “hujan bukan penghambat perjalanan kita, namun ia dalah pelengkap perjalanan”. Seorang pejuang sejati adalah mereka yang merasakan segarnya guyuran hujan di malam hari saat pulang dari kajian malam di kampus. Merasakan letihnya mendorong kendaraan yang kempes atau kehabisan bahan bakar untuk menghadiri liqo’ ba’da Isya. Seorang petarung sejati adalah mereka yang merasakan lamanya menunggu proses-proses birokrasi untuk menggolkan proyek dakwah.
Dan semua itu, ternyata adalah bunga-bunga. Yang jika kita telah sampai di puncak, maka ia akan menjadi cerita indah. Menjadi kenangan yang membuat kita menyunggingkan segores senyum. Hingga tetesan air mata tak terasa jatuh membasahi pipi kita saat menostalgiakannya. Aduhai indahnya!. Jika kenangan itu dinostalgiakan saat di jannah-Nya.
Mari buktikan, bahwa kita adalah orang-orang yang pantas untuk berjuang dan meraih piala kemenangan di akhir lomba. Menjadi penghuni tempat terindah. Bahwa kemenangan diperoleh dengan kerja keras. Dan bahwa dengan api perjuangan, jalan kebahagiaan akan semakin jelas. Dan kehidupan hakiki akan nampak semakin terang.
Diambil dari Buku Api Tarbiyah, karya Syamsuar Hamka