Senyum renyah dari seorang bayi menghias di balik pintu. Keletihan itu hilang seketika. Bekerja seharian bagi seorang Ayah memang membuat letih. Waktu yang panjang, atau mungkin tumpukan tugas yang banyak membuat seorang Ayah terkadang tidak punya banyak waktu lagi untuk bercengkrama bersama anaknya di rumah. Akan tetapi, keletihan itu bisa terbayar dengan senyum renyah dari anak-anak di rumah. Senyum tersebut bisa melepaskan berbagai beban yang kita rasakan bagi seorang ayah. Sehingga kita bisa kembali beraktivitas seperti biasa di keesokan harinya.
Dalam pandangan Islam, peran mendidik anak bukanlah mutlak kewajiban seorang ibu, justru dalam al-Quran lebih banyak menceritakan besarnya peran ayah dalam mendidik anak. Hal tersebut misalnya bisa kita lihat dalam QS. al-Baqarah ayat 132 dan QS. Yusuf ayat 67 yang menceritakan kisah Luqman, Nabi Ya’qub, dan Nabi Ibrahim yang sedang mendidik anaknya.
Selain itu, seorang Psikolog anak, Elly Risman, berpandangan bahwa, peran ayah dan ibu sama pentingnya dalam mengasuh serta mendidik anak. Pengasuhan ayah dan ibu secara seimbang terhadap anak akan membentuk perilaku positif anak.
Di dalam Al-Qur’an terdapat 17 dialog pengasuhan yang tersebar di sembilan surat. ke 17 dialog tersebut terbagi : 14 dialog antara ayah dan anak, 2 dialog antara ibu dan anak, 1 dialog antara kedua orang tua (tanpa nama) dan anak. Kesimpulannya, ternyata al-Qur’an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi istimewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas. Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih banyak. Lebih sering, hingga 14 banding 2.
Oleh sebab itu, dalam urusan keluarga ini hendaknya seorang ayah harus belajar dari Luqman al-Hakim, seorang pemuda yang diabadikan namanya dalam Alqur’an. Sikap-sikap Luqman haruslah dimiliki oleh setiap ayah di dunia ini, agar bisa menjadi ayah yang baik. Tujuan tentu bukan untuk pamer kehebatan, melainkan untuk kepentingan keluarga terutama masa depan anak.
Mari kita perhatikan, bagaimana bahasa Luqman al-Hakim yang diabadikan di dalam al-Qur’an,
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)
Dalam bahasa yang digunakan Luqman kepada anaknya adalah Yaa Bunayya, dimana dalam kosakata Arab, penggunaan kata tersebut menunjukkan panggilan kasih sayang seorang orang tua kepada anaknya. Berbeda dengan panggilan, Yaa Baniyya atau Yaa Ibniy. Jika kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mungkin lebih sepadan dengan kalimat “Wahai Anakku Sayang”.
Ungkapkan Cinta
Dari petikan panggilan tersebut, kita bisa melihat bagaimana Luqman al-Hakim mengungkapkan rasa cintanya kepada anaknya. Panggilan yang mengucapkan secara langsung kecintaan seorang ayah kepada anaknya. Bagi kita masyarakat yang terpengaruh dalam pola hidup modern mungkin melihat bahwa ungkapan dengan menyebut, “anakku sayang” terlalu lebay atau mungkin dianggap menunjukkan kelemahan seorang ayah, yang maskulin. Padahal ungkapan tersebut bukanlah suatu hal yang tabu. Bahkan ungkapan cinta dari seorang ayah kepada anak perempuannya sangat berpengaruh secara psikologis sehingga anak perempuan tersebut akan merasakan mendapatkan perhatian yang cukup dari sang ayah, dan dampaknya, ia tidak lagi membutuhkan perhatian dari lelaki lain yang bukan mahramnya. Apalagi sangat sering kita jumpai, bagaimana seorang anak gadis yang mudah dipermainkan, dan menjual harga diri dan kehormatannya karena ternyata tidak pernah mendapatkan kasih saying dari orang tuanya.
Sikap dan tata cara Luqman dalam mendidik anak sangat perlu untuk dicontoh oleh para ayah tentang bagaimana cara ia mendidik anak, membesarkan anak, dan tentu saja dalam mengurus keluarga. Apalagi jika melihat kondisi generasi muda sekarang yang sangat begitu minim memperhatikan dalam pendidikan keluarga. Menetapkan peran dan kerja masing-masing posisi setiap anggota keluarga menurut jenis kelaminnya.
Dan semua itu bisa terwujud jika seorang ayah memiliki kedekatan emosional dengan anaknya. Dan bukan sebuah hal yang tabu, jika seorang ayah sering mengungkapkan cintanya di depan anaknya. Sebab ungkapan tersebut akan memberi bekas ke dalam jiwa sang anak. Bahwa ia senantiasa dicintai dan disayangi. Sehingga ia akan merasa lebih tenang dan merindukan kebersamaan dalam rumah.
Kita bisa melihat, bagaimana seorang anak yang mendapati kerasnya hidup di masyarakat, dan ikut dalam geng-geng yang tidak bermanfaat. Asosiasi sosial yang buruk serta ikatan organisasi – organisasi ‘liar’. Ada yang ikut dalam aktivitas tersebut justru karena tidak mendapatkan kesenangan dan ketentraman dalam rumah tangganya. Ayah dan ibu yang bertengkar, serta ayah yang hanya memberi nafkah lahir saja. Sementara otak dan jiwanya diserahkan kepada teman – temannya yang juga tidak mendapatkan pendidikan yang baik di keluarga. Oleh karena itu, sebagai ayah, mari kita ungkapkan cinta, “Anakku, aku menyayangimu” (wallahu a’lam bi as-showab).