BOLEHNYA SHOLAT SUNNAH SECARA BERDIRI ATAU DUDUK, DAN BOLEHNYA SEBAGIAN RAKAAT DIKERJAKAN DENGAN BERDIRI DAN SEBAGIAN RAKAAT DIKERJAKAN DENGAN DUDUK*)**)
Dari Aisyah radhiallahu `anha, Beliau berkata: “Aku tidakpernah melihat nabi shallallahu `alaihi wasallam membaca sesuatu pada waktu sholat lail dalam keadaan duduk hingga nanti setelah beliau tua barulah beliau sholat dalam keadaan duduk. Dan jika masih ada bacaan dari suratnya itu, hingga; 30 atau 40 ayat, beliau berdiri maka beliau sempurnakan 30 atau 40 ayat sisa itu lalu beliau rukuk.
Dari Aisyah radhiallahu `anha bahwa rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, beliau dulu pernah sholat dalam keadaan duduk. Beliau membaca bacaan sholat dalam keadaan duduk. Dan jika masih tersisa dari bacaan al qurannya sekitar 30 atau 40 ayat, maka beliau berdiri untuk sempurnakan bacaan tersebut kemudian beliau rukuk dan sujud. Hal yang sama beliau juga lakukan di rakaat ke dua. Dan kalau sudah selesai sholat lailnya, maka beliau melihat, kalau saya dalam keadaan terjaga (terbangun), beliau ajak saya berbicara akan tetapi kalau saya tidur, beliau berbaring menanti adzan subuh.
PENJELASAN
Bab ini tentang hukum sholat sunnah dalam keadan duduk. Kita tau bahwa salah satu rukun sholat yang penting adalah berdiri. Siapa yag sanggup berdiri namun tak berdiri, maka sholatnya batal. Bagi yang tak sanggup, boleh duduk. Ini diantara keringanan dalam Islam. “Agama ini tak akan meberikan keberatan”. Selalu ada solusi dalam Islam. “bertakwalah pada Allah sesuai kemampuan kalian. Dalam hadits riwayat Bukhori, Imron bin Husain mengeluhkan ada penyskit bawasirnya (ambeyen) sehingga sulit bagi beliau berdiri. Maka beliau sampaikan pada nabi. Maka nabi berkata, “sholatlah berdiri, namun kalau tidak sanggup maka silahkan duduk”. Kapan diketahui sanggup atau tidak? Bergantung pada diri. Ini pertanggungjawabannya pada Allah. Mintalah fatwa pada dirimu. Dokter bisa beri usulan, namun kitalah yang paling tau diri kita. Jadi jika tak mampu berdiri, duduk saja dan tau perlu mersa tidak enak. “Kalau tak sanggup, maka silakan sholat berbaring”. Ini hukum untuk sholat wajib. Tak boleh dalam keadaan duduk kecuali daruratnya.
Malam ini kita akan membahas untuk sholat sunnah. Dari judul babnya saja, kita telah paham bahwa untuk sholat sunnah dibolehkan duduk walau kita sanggup berdiri. Dalam hadits Imam Bukhori, juga dari Imron bin Husain, disebutkan bahwa sholatnya orang yang duduk itu pahalanya seperdua orang yang sholat dengan berdiri. Dalam riwayat muslim, dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Pahala orang yang duduk, setengah dari yang berdiri dan yang berbaring setengah dari yang duduk”. Dipahami oleh para ulama bahwa ini bagi sholat sunnah yang orangnya masih bisa berdiri tapi pilih untuk duduk. Sholat sunnah memang punya keringanan dari pada sholat wajib. Diantaranya bolehnya sholat sunnah di atas kendaraan. Dalam sholat sunnah ini juga nabi contohkan, kadang beliau berhenti dibeberapa ayat untuk minta ampun pada Allah, berlindung dari neraka kalau baca ayat tentang neraka. Kalau baca ayat tentang surga, beliau berhenti untuk minta rahmat Allah. Dalam sholat sunnah juga, ada keringanan, utamanya sholat lail dan tahajjud, terutama saat mau perpanjang bacaan setiap bulan Ramadan, bisa sholat dalam keadaan melihat mushab (hanya dalam sholat sunnah, bukan sholat wajib). Ini telah dicontohkan oleh Dzakwan,,maula Aisyah, di depan para istri nabi, diantaranya, di depan Aisyah radhiallahu anha dalam riwayat Bukhori. Dalam keringanan lain juga disebutkan dalam hadist ini, bahwa seseorong boleh memilih untuk sholat duduk walau sholat dengan berdiri tetap lebih afdhol.
Bagaimana dengan seseorang yang ingin sekali berdiri namun tak sanggup dan terpaksa duduk? Untuk orang ini pahalanya bukan setengah, tapi sempurna, insyaAllah. Berdasar hadits umum untuk musafir dan orang sakit dalam HR bukhari, “Kalau seorang hamba sakit atau dalam keadaan musafir lalu tak bisa laksanakan secara sempurna ibadahnya, maka tetap akan tercatat baginya pahala yang sempurna sebagaimana beliau kerjakan saat sehat atau saat muqim”
Yang perlu diperhatikan, Aisyah radhiallahu `anha berkata bahwa saya tidak pernah melihat nabi dalam sholat lail kecuali dalam keadaan berdiri. Artinya, hukum asal sholat lail nabi yang panjang, sampai bengkak kakiknya, yang sahabat Hudzaifah radhiallahu ‘anhu berkata, beliau baca al-Baqorah, an-Nisa, Ali Imron, sampai selesai dalam keadaan berdiri. Bisa bayangkan, al-Baqarah saja sudah 286 ayat. Satu ayat al-Baqarah tak sama dengan 1 ayat dalam juz amma. 176 ayat tambah 200 ayat, semuanya dalam keadaan berdiri. Ini kebiasaan nabi. Tapi ada khilaf ulama, mana lebih afdhol dalam shlat lail, lama berdiri atau lama sujudnya? Yang lebih roji adalah yang panjnag berdirinya, sebagaimana dalam hadist. Kalau panjang berdirnya beliau, maka ruku dan sujud, hampir sama dengan itu. Jadi salah satu sunnah, kalau bacaannya panjang, seperti dalam sholat lail dan tarawih, jangan rukuk dan sujudnya pendek. Memanjangkan rukuk dan sujud, selain untuk istirahat, juga tempat berdoa.
Rasulullah diangkat jadi nabi dan rasul umur 40 tahun. Hijrah umur 53 tahun. Mulai berjihad umur 55 tahun. dan beliau tetap tekun beribadah di malam harinya. Adapun siangnya banyak berpuasa, dan terus dilakukan hingga menjelang wafat. Beliau istiqomah hingga tua. Kebaikan, kalau sudah dipilih untuk dilakukan,maka jangan tinggalkan walau mungkin kadarnya telah dikurangi. Bahkan jika sanggup, di hari menjelang bertemu Allah, kita menambah dan lebih memperbaikinya. Dalam sebagian riwayat, saat orang banyak menyibukkan dan mencapekkan beliau, lama mengurus umat sejak jadi nabi, bahkan telah ditempa oleh Allah sebelum jadi nabi, dalam 23 tahun urus umat tanpa lelah. Bahkan tak ada kata istirahat kecuali untuk dakwah dan perjuangan, maka barulah di masa tua beliau, menjelang kematian, baru beliau sholat duduk. Tapi lihat sholat dudeknya nabi kata Aisyah?
Selama sholat sunnah, boleh duduk dari awal sampai akhir. Tapi dalam hadits ini, disebutkan, nabi tak pilih duduk sepanjang sholat. Beliau sholat tetap dalam ayat yang panjang, ratusan ayat. Maka di bagian pertama sholat beliau duduk dulu. Ketika tinggal 30 atau 40 ayat, beliau berdiri lagi untuk nikmati ayat al-Qurannya. “ketika tersisa”, kata ini dipahami oleh para ulama bahwa ayat sebelumnya lebih panjang. Makanya Allah mengatakan, “1000 tahun dikurangi 50”, ini masa dakwah nabi Nuh. Jadi sebelumnya, yang beliau baca adalah lebih panjang. Nanti kalau 30 atau 40 ayat baru beliau berdiri untuk sempurnakan. Setelah itu rukuk.
Selain itu, bisa juga dibaca semuanya dalam keadaaan duduk, nanti kalau mau rukuk baru berdiri dan rukuk. Atau jika kita jadi makmun dan imam panjang bacaanya, dan kita tak bisa berdiri, maka tidak mengapa kita pakai tongkat atau bersandar. Syakh bin Baz ditanya, mana lebih bagus, duduk atau berdiri tapi bertopang pada sesuatu? Syaikh bin Baz menjawab, “Bertopang lebih baik”. Boleh juga kalau imam panjang bacaan, kita duduk pakai kursi. Saat imam akan selesai, maka baru berdiri menjelang rukuk. Seorang ulama Madinah, Syaikh Athiyah bin Muhammad Salim, murid terkdekat dari syaikh Amin asy-Syinqithi, beliau duduk dulu, baru menjelang rukuk berdiri.
Boleh juga sebalilknya. pertama kita baca dalam keadaan berdiri, kemudian setelah tidak sanggup kita baru duduk. Bisa duduk sepanjang sholat. Bisa mulai duduk lalu berdiri, bisa juga berdiri dulu lalu disempurnakan dengan berdiri. Baik rakaat satu dan seterusnya.
Hadist kedua, ada faedah tambahan, “Jika nabi sudah sholat maka beliau lihat bagaimana istri beliau”. Kalau dalam keadaan terjaga, maka waktu tersisa sebelum adzan, bisa diskusi ringan antara suami dan istri. Padahal akhir waktu sahur itu adalah waktu terbaik untuk doa, tapi tak mengapa. Ini bukti kedekatan nabi dan istrinya. Di waktu paling afdhol pun beliau bercengkrama dengan istri. Tapi kalau Aisyah masih tidur (biasanya Aisyah dibangunkan saat mau witir, berarti mungkin saat itu Aisyah berjalangan) maka nabi biarkan saja, lalu nabi baring, untuk kembalikan kekuatan, bersiap-siap sholat subuh. Ini bagus agar sholat subuh kembali segar. Jangan sampai sholat tahajjud lama, tapi sholat subuhnya adalah puncak mengantuk. Jangan begini, karena sholat subuh itu tetap labih afdhol. Bahkan setelah sholat sunah fajar pun, kadang nabi baring sejenak agar bisa khusyuk dan segar sholat subuh. Namun, baring, tak berarti tidur.
Ini pentingannya istiqomah dalam ibadah dan manfaatkan malam hari untuk pendekatan diri pada Allah sesuai kemampuan dalam keadaan berdiri atau duduk.
*)Oleh Andi Muh. Akhyar, S.Pd., M.Sc.
**)Catatan kajian rutin kitab Al Lu`lu Wal Marjan, Hadist ke 424 dan 425, oleh Ust. Yusran Anshar, Lc., M.A, setiap malam Jumat @Masjid Umar Bin Khattab