Tadabbur Al Qur’an Q.S an-Naba 24-27
Surah An Naba adalah surah yang ke-78, terdiri dari 40 ayat, terdapat pada juz ke-30 atau Juz ‘Amma dan termasuk kedalam golongan Surah Makkiyyah karena turun di kota Mekkah.
Surah An Naba berarti Berita Besar serta mempunyai nama lain yaitu: ‘Amma Yatasaa alun.
Ayat 28:
وَّكَذَّبُوۡا بِاٰيٰتِنَا كِذَّابًا
Dan mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami.
Ayat 29:
وَكُلَّ شَىۡءٍ اَحۡصَيۡنٰهُ كِتٰبًا
Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu Kitab (buku catatan amalan manusia).
Ayat 30:
فَذُوۡقُوۡا فَلَنۡ نَّزِيۡدَكُمۡ اِلَّا عَذَابًا
Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain azab.
Adapun tadabbur dari Surah An-Naba ayat 28-30 sebagai berikut:
- Pada ayat ke-28, Allah menggambarkan salah satu ciri manusia, yakni senang/senantiasa/gemar melakukan suatu pengingkaran dan kedustaan.
- Allah menyebutkan dan memperlihatkan beragai macam tanda-tanda kekuasaan Allah, tapi tidak mampu menyadarkan orang-orang kafir, tanda tersebut justru tidak membuat mereka sadar tapi semakin jauh (karena berbuat kesyirikan saat terjadi musibah, dst).
- Orang beriman itu cukup dengan satu tanda sudah menjadikan mereka tersadar, musibah yang terjadi hari ini dibeberapa daerah, semoga menjadi penyadar bagi kita untuk pentingnya kembali kepada Allah.
- Pada ayat ke -29 Allah menunjukkan tentang pentingnya Gerakan Literasi (diantaranya membaca dan menulis), ada keterkaitan antara kebiasaan membaca dan menulis dengan kualitas SDM manusia.
- Al Qur’an banyak mengangkat persoalan membaca dan menulis, termasuk pada ayat ke-29.
- Membaca dan menulis merupakan Gerakan Imaniyah, karena banyak ayat dan hadits tentang perintah (minimal anjuran) untuk membaca dan menulis.
- Catatan adalah salah satu senjata yang dapat kita gunakan untuk menghadapi orang-orang yang suka berdusta dan menipu.
- Salah satu ciri penghuni neraka adalah mendustkan ayat-ayat Allah (qauliyah maupun qauniyah). Adapun orang-orang beriman bertambah keimanannya dengan ayat-ayat Allah.
- Para nabi dan para rasul yang Allah utus di muka bumi untuk menyampaikan risalah kenabiannya banyak mendapati pengingkari dari para kaumnya. Padahal mereka mendapatkan mukjizat sebagai bukti kepada para kaumnya.
- Dalam konteks pada da’i/guru/muballigh, maka tidak menutup kemungkinan kita akan mendapati hal serupa (baik besar maupun kecil). Maka kita perlu mempersiapkan diri dan menyikapi penolakan tersebut dengan memperkuat kesabaran kita (sebagaimana para nabi).
- Ayat ini mengingatkan kepada kita untuk menyampaikan kepada para jama’ah/murid kita tentang keutamaan jujur dan bahaya dari berdusta meskipun pada hal-hal yang kecil.
- Seseorang yang terbiasa berdusta atau melakukan pengingkaran pada hal-hal kecil secara tidak sadar mengantarkan mereka melakukan pengingkaran dan pendustaan kepada hal-hal yang lebih besar.
- Orang-orang beriman dengan ayat ini (ayat ke-28) menjadi peringatan bagi dirinya.
- Diantara kebiasaan para penuntu ilmu adalah bermuhasabah, salah satunya adalah dengan catatan-catatan pribadi, apakah amalan yang kita lakukan telah lebih banyak mendekatkan kita kepada keridhoan Allah atau kemurkaan Allah. Kita perlu melakukan evaluasi catatan personal sebelum kita mendapatkan catatan-catatan amal baik dan buruk kita di akhirat kelak.
- Mereka mendustakaan ayat-ayat Allah tentang hari kiamat (yaumul hisab). Akar masalahnya adalah mereka memang tidak percaya dengan datangnya hari kiamat, sehingga mereka tidak mempersiapkan diri mereka. Sekiranya mereka meyakini bahwa yaumul hisab itu benar adanya maka pasti mereka akan beramal untuk mempersiapkan hari tersebut.
- Mereka tidak percaya akan adanya hari kebangkitan, dimana orang-orang yang telah mati dan menjadi tulang belulang bangkit Kembali. Adapun kita orang-orang beriman percaya akan hal tersebut karena banyak bukti yang lain dan tanda kekuasaan Allah yang hadir disekitar kita, bahkan pada diri kita sendiri ada banyak tanda-tanda kekuasaan Allah.
- Terkait dengan berdusta, hal ini merupakan pembeda antara orang beriman dan orang kafir. Ada banyak hadits nabi berkaitan dengan larangan untuk berbohong. Termasuk tidak melakukan kebohongan meskipun niatnya adalah untuk menghibur orang lain.
- Pada ayat ke-30 Allah azza wa jalla memberikan ungkapan “maka rasakanlah!” sebagai bentuk dan ungkapan menghinakan orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah.
- Orang-orang yang berani melakukan pengingkaran kepada ayat Allah terkadang bukan karena mereka tidak tahu, tapi karena memperturutkan hawa nafsunya yang lebih condong kepada pengingkaran kepada Allah.