Khutbah Idul Fitri 1447 H/ 2026 M
Memperbaiki Diri, Menguatkan Umat dan Membangun Bangsa
Khutbah Pertama
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا
اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى نَبِيِّنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْنِ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ (9x)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin jama’ah shalat ‘ied yang semoga mendapatkan gelar taqwa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala
Hari ini adalah hari kebahagiaan bagi kaum muslimin setelah Allah mempertemukan kita dengan bulan Ramadan yang penuh berkah. Kita bergembira bukan karena berakhirnya puasa, tetapi karena Allah telah memberi kesempatan kepada kita untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki iman, membersihkan hati, dan memperkuat ketaatan kepada-Nya, serta perlu kita jaga selama sebelas bulan ke depan. Ramadan telah mendidik kita menjadi pribadi yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd
Jamaah shalat ied yang semoga dimuliakan Allah Ta’ala.
Idulfitri bukan hanya momentum kegembiraan pribadi dan keluarga, tetapi juga momentum besar untuk melakukan perbaikan diri, menguatkan umat, dan membangun bangsa. Setelah sebulan penuh ditempa oleh Ramadan, kaum muslimin diajak untuk menjadikan nilai-nilai yang telah dilatih sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Ramadan telah mendidik kita dengan nilai-nilai agung: kejujuran, kesabaran, kepedulian sosial, pengendalian diri, dan keikhlasan. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi utama bagi lahirnya individu yang baik, umat yang kuat, dan bangsa yang bermartabat.
Sesungguhnya, sebuah bangsa tidak akan menjadi baik jika individu-individunya rusak. Sebaliknya, ketika setiap muslim berusaha memperbaiki dirinya dengan iman dan takwa, maka kebaikan itu akan mengalir dan meluas, dari diri, keluarga, masyarakat, hingga bangsa secara keseluruhan.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Kaum muslimin yang berbahagia
Ramadan juga mengajarkan kita makna persatuan dan kebersamaan. Kita melaksanakan shalat berjamaah, berbuka bersama, memperbanyak sedekah, serta merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang kekurangan. Semua itu mengajarkan bahwa kekuatan umat Islam lahir dari ukhuwah, solidaritas, dan kepedulian sosial.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam saat ini, kemiskinan, konflik, ketidakadilan, dan perpecahan, Idulfitri harus menjadi momentum untuk kembali memperkuat ukhuwah Islamiyah dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai dan menyayangi seperti satu tubuh.” (HR. Muslim)
Kaum muslimin rahimakumullah
Membangun bangsa tidak cukup dengan pembangunan fisik semata. Pembangunan yang sejati harus dimulai dari pembangunan iman dan akhlak. Kejujuran dalam bekerja, amanah dalam jabatan, keadilan dalam memimpin, serta kepedulian terhadap masyarakat adalah nilai-nilai Islam yang jika dijaga akan melahirkan kehidupan bangsa yang adil, sejahtera, dan diridhai Allah. Apabila nilai-nilai Ramadan terus kita jaga dan amalkan setelah bulan suci berlalu, insyaallah kita akan menjadi umat yang kuat dan bangsa yang diberkahi oleh Allah Ta’ala.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa lillahil hamd.
Idulfitri juga merupakan momentum untuk memperbaiki hubungan sosial di tengah masyarakat. Islam mengajarkan kita untuk menjaga persaudaraan, mempererat silaturahmi, serta menghilangkan dendam, permusuhan, dan kebencian dari hati kita.
Pada hari yang mulia ini, marilah kita saling memaafkan, memperbaiki hubungan dengan keluarga, tetangga, dan seluruh kaum muslimin. Dengan hati yang bersih, jiwa yang lapang, dan semangat persaudaraan, kita berharap terwujudnya masyarakat yang damai, umat yang kuat, dan bangsa yang lebih baik.
Jamaah shalat ‘Id yang dimuliakan Allah ‘Azza wa Jalla.
Dari bunda Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟ فَقَالَ: لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُتَقَبَّلَ مِنْهُمْ
Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut” (QS. Al-Mu’minun: 60). Apakah mereka itu orang-orang yang meminum khamar dan mencuri? Beliau ﷺ menjawab: “Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq! Namun mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, sementara mereka merasa takut jika amal ibadah mereka tidak diterima.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah).
Hadis ini menjadi pengingat krusial bahwa esensi puasa, shalat tarawih, dan sedekah bukan sekadar rutinitas, melainkan ujian kerendahan hati untuk tetap merasa khawatir jika amalan tersebut belum layak diterima di sisi Allah Ta’ala. Dengan menyadari bahwa para sahabat yang paling taat pun tetap merasa takut, kita diajak untuk menjauhi rasa bangga diri (ujub) atas banyaknya ibadah yang dilakukan dan menggantinya dengan harapan yang tulus serta doa agar seluruh rangkaian ibadah kita di bulan suci benar-benar membuahkan rida-Nya.
Ketahuilah bahwa kita semua adalah hamba Allah kapan pun dan di mana pun berada. Ibadah kepada Allah tidak dibatasi oleh waktu tertentu saja. Kita bukan hamba Allah hanya di bulan Ramadan, tetapi kita adalah hamba-Nya sepanjang hidup kita. Oleh karena itu, semangat ibadah yang telah kita rasakan di bulan Ramadan hendaknya terus kita jaga dan kita lanjutkan sepanjang masa.
Allah Ta’ala berfirman:
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu keyakinan (yaitu ajal).” (QS. Al-Hijr: 99).
Ayat ini mengingatkan bahwa ibadah kepada Allah tidak berhenti setelah Ramadan berlalu. Selama hayat masih dikandung badan, selama nafas masih berhembus, maka selama itu pula seorang hamba diperintahkan untuk terus beribadah kepada Rabbnya.
Imam Bisyr Al-Hafi rahimahullah pernah ditanya tentang orang-orang yang rajin beribadah hanya di bulan Ramadan saja. Beliau menjawab:
بِئْسَ الْقَوْمُ لَا يَعْرِفُونَ لِلَّهِ حَقًّا إِلَّا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَيَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا
“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadan. Sesungguhnya hamba yang saleh adalah orang yang terus beribadah dan bersungguh-sungguh sepanjang tahun.” (Lathā’iful Ma‘ārif, hlm. 313).
Setelah Ramadan pergi, hendaknya semangat ibadah tidak ikut pergi bersamanya. Salat tetap dijaga, tilawah Al-Qur’an tetap dilanjutkan, sedekah tetap dihidupkan, dan ketaatan lainnya kepada Allah tetap dipertahankan. Inilah tanda diterimanya amal seseorang di bulan Ramadan: ketika kebaikan yang dilakukan di bulan itu terus berlanjut setelahnya, meskipun tidak sama jumlahnya, intinya keistiqamahan.
Jamaah shalat ‘Id yang dimuliakan Allah Ta’ala.
Di bulan Syawal ini terdapat amalan yang sangat agung, yaitu puasa enam hari setelah Ramadan. Amalan ini menjadi kesempatan bagi seorang muslim untuk meraih pahala seperti berpuasa selama setahun penuh setelah menyelesaikan puasa Ramadan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim no. 1164).
Hal ini karena setiap satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala. Allah Ta’ala berfirman:
مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَا
“Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat balasannya.” (QS. Al-An‘am: 160).
Dengan demikian, puasa Ramadan selama satu bulan jika dikalikan sepuluh menjadi pahala sepuluh bulan. Kemudian puasa enam hari di bulan Syawal jika dikalikan sepuluh menjadi enam puluh hari atau setara dengan dua bulan. Jika dijumlahkan, semuanya menjadi dua belas bulan, yaitu pahala seperti berpuasa selama satu tahun penuh.
Adapun pelaksanaannya cukup luas dan fleksibel. Puasa Syawal boleh dimulai sejak tanggal 2 Syawal, boleh dilakukan secara berurutan enam hari, dan boleh juga tidak berurutan selama masih di bulan Syawal. Sebagian ulama juga memandang bolehnya mendahulukan puasa Syawal sebelum mengqadha puasa Ramadan. Bahkan sebagian mengatakan niat puasa Syawal juga dapat digabung dengan puasa sunnah lainnya seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Ayyamul Bidh.
Sebagian ulama juga menilai lebih baik jika puasa Syawal dilakukan setelah suasana silaturahmi Idulfitri mulai mereda, agar tidak memberatkan seseorang dalam memenuhi undangan atau menjalin hubungan kekeluargaan. Karena itu ada yang memulainya setelah beberapa hari, misalnya setelah satu pekan dari hari raya, sesuai dengan kondisi masing-masing. Yang terpenting adalah tetap berusaha meraih keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal tersebut.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd
Jamaah shalat ‘Id yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah Ta’ala.
Setelah Ramadan berlalu, marilah kita menjaga ketakwaan dalam setiap peran yang Allah amanahkan kepada kita. Sebagai orang tua, hendaknya terus memperbaiki diri dan menjadi teladan terbaik bagi keluarga; menjadi pendidik dan contoh kebaikan yang akan diikuti oleh anak-anak dan keturunan kita. Sebaliknya, sebagai anak, jangan sampai terlintas sedikit pun keinginan untuk durhaka kepada orang tua. Ingatlah betapa besar pengorbanan mereka: ibu yang mengandung, melahirkan, dan menyusui, bersama ayah yang menjaga dan menafkahi dengan penuh kesungguhan.
Bagi yang masih lajang, bertakwalah kepada Allah dengan menjaga diri dari segala hal yang belum halal. Jauhi perbincangan yang tidak perlu, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, serta hindari khalwat, ikhtilat, dan segala perkara yang dapat mengantarkan kepada perzinaan. Jika telah mampu, segeralah menikah; jika belum, jagalah diri dengan puasa dan amal saleh lainnya, seraya memohon kepada Allah agar dianugerahi pasangan yang terbaik.
Demikian pula dalam kehidupan rumah tangga. Seorang suami hendaknya memperlakukan istrinya dengan baik, karena ia adalah putri yang telah dibesarkan dengan penuh kasih oleh orang tuanya, dan kini menjadi ibu bagi anak-anaknya serta pendamping dalam kehidupan. Sementara seorang istri hendaknya berbakti dan menaati suaminya selama bukan dalam kemaksiatan kepada Allah.
Adapun dalam kehidupan bermasyarakat, marilah kita menjadi pribadi yang membawa kebaikan: menjadi tetangga yang baik, anggota masyarakat yang kehadirannya dirindukan, serta menjadi orang yang senantiasa mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Dengan demikian, semangat takwa yang kita bangun di bulan Ramadan akan terus hidup dalam kehidupan kita sepanjang tahun.
Jamaah shalat ‘Id yang semoga dirahmati Allah.
Marilah sejenak kita menengadahkan tangan dan memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala, dengan terlebih dahulu memuji-Nya dan bershalawat serta bersalam kepada baginda Rasulullah ﷺ. Tundukkan kepala, renungkan diri kita, hayati keadaan kita, dan mohonkan ampunan kepada Rabb kita.
Ya Allah, Ya Rabb kami, taqabbal minnā terimalah seluruh amal saleh kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Watub ‘alainā terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang bertakwa dan diberkahi di mana pun berada. Jangan jadikan kepergian Ramadan berlalu sementara kami termasuk orang-orang yang rugi dan celaka, tetapi jadikanlah kami termasuk orang-orang yang diampuni dan dimaafkan.
Ya Rabb kami, sayangilah kedua orang tua kami. Jagalah mereka yang masih hidup dan rahmatilah mereka yang telah mendahului kami. Berikanlah kepada kami taufik untuk selalu menjadi anak-anak yang saleh dan berbakti kepada mereka.
Ya Allah, mudahkanlah urusan saudara-saudara kami yang ingin menyempurnakan separuh agamanya. Jadikanlah kami yang telah Engkau karuniai pasangan sebagai keluarga yang Engkau ridhai. Anugerahkanlah kepada yang belum memiliki keturunan anak-anak yang saleh dan salehah. Bantulah kami dalam membimbing anak-anak dan keturunan kami agar menjadi generasi yang membanggakan di dunia dan terlebih lagi di akhirat.
Ya Allah, jadikanlah negeri kami negeri yang aman, tenteram, makmur, dan penuh keberkahan. Jauhkanlah dari berbagai marabahaya dan petaka. Berilah hidayah kepada siapa saja yang telah menzalimi dan merampas hak-hak negeri ini, dan jika mereka tidak mau kembali kepada-Mu maka timpakanlah kebinasaan kepada mereka.
Ya Allah, kuatkanlah para pemimpin kami untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuntunlah mereka kepada kebaikan dan ketakwaan. Anugerahkan kepada mereka para pembantu dan penasihat yang saleh, yang menuntun kepada kebaikan dan membantu menegakkan kebenaran demi kebaikan negeri kami.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin yang tertindas dan terzalimi di berbagai belahan dunia, khususnya di negeri Palestina. Berikanlah kepada mereka pertolongan, kemenangan, keamanan, dan hilangkanlah rasa takut serta kesedihan yang menimpa mereka.
Ya Allah, pertemukanlah kami kembali dengan bulan Ramadan di masa yang akan datang dengan umur yang panjang, kesehatan yang baik, dan kemampuan untuk mengisinya dengan amal saleh. Ampunilah dosa-dosa kami, rahmatilah kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah.
Taqabbalallāhu minnā wa minkum.
Aamiin, aamiin, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
(7x)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَتَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ، وَمِنْ عُتَقَائِكَ مِنَ النَّارِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْمَيِّتِينَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا، وَاجْزِهِمْ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْفِتَنَ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بِلَادَنَا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، رَخَاءً سَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ، وَادْفَعْ عَنْهَا الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا عَزِيزًا، وَفَرِّجْ كُرُوبَهُمْ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ، وَاكْتُبْ لَهُمُ الْعِزَّةَ وَالْكَرَامَةَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
