Penulis pernah mendapati seorang siswa di salah satu sekolah islam swasta di Makassar. Seorang anak kelas XI SMA yang sekaligus menjadi ketua OSIS. Ia dalam cerita non formal itu sangat mengeluhkan Pembina OSIS mereka yang menjadikan ruangan OSIS beserta seluruh perangkatnya menjadi ruang kantornya. Dalam keluhannya, ia merasa kegiatan OSIS banyak tidak berjalan karena tidak ada sarana sekretariat sebagai tempat berkumpul dan koordinasi. Yang paling mengagetkan adalah Pembina OSIS mereka seperti tidak respect ketika ketua OSIS ini meminta SK (Surat Keputusan) pengurus segera diterbitkan. “Oh… perlukah…?”, kata Pembina OSIS tersebut.
Fenomena di atas bukan satu-satunya yang pernah terjadi dalam lingkungan sekolah. Betapa banyak guru yang sepantasnya menjadi pendidik, namun hanya menjadikan pekerjaannya seperti profesi penghasil uang, tidak lebih. Mengajar di kelas hanya kesempatan untuk mengejar syarat 24 jam sertifikasi. Berbagai sertifikat pun dikejar-kejar. Tidak ada tujuan yang lain kecuali untuk memenuhi syarat sertifikasi. Kenapa ?, gajinya banyak bahkan sampai dua kali lipat. Akhirnya forum ilmiah dan diskusi seperti seminar, workshop dan lokakarya bertebaran di mana-mana bak jamur di musim hujan. Sampai sekarang pun penulis masih mencari dua lembar sertifikat juara tingkat kabupaten dan nasional saat SMA yang pernah dipinjam oleh guru. Saya tidak tahu untuk keperluan apa. Setahu saya, pada saat itu sementara marak-maraknya sertifikasi. Sepertinya inilah penyakit yang perlu untuk dientaskan. Idealisme pragmatis telah menjadi bayang-bayang pendidikan karakter. Persoalannya sangat susah, karena seperti mencari ujung sebuah lingkaran tali. Tidak tahu di mana harus memulai kebangkitan dunia pendidikan. Dari sistemnya, atau dari gur-gurunya.
Dari deretan fakta di atas, sepertinya penting untuk kita melihat kembali para pendahulu. Sejenak merenungkan bagaimana perjuangan tokoh-tokoh di bidang pendidikan. Mohammad Natsir misalnya, salah satu Pahlawan Nasional. Ia adalah orang yang yakin betul dengan ungkapan Dr. G.J. Nieuwenhuis, Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya. Menurut rumus ini, dua kata kunci kemajuan bangsa adalah guru dan pengorbanan. Maka, awal kebangkitan bangsa harus dimulai dengan mencetak guru-guru yang suka berkorban. Guru yang dimaksud Natsir bukan sekedar guru pengajar dalam kelas formal. Guru adalah para pemimpin, orangtua, dan juga pendidik. Guru adalah teladan. Guru adalah digugu (didengar) dan ditiru (dicontoh). Guru bukan sekedar terampil mengajar bagaimana menjawab soal Ujian Nasional, tetapi diri dan hidupnya harus menjadi contoh bagi murid-muridnya.
Mohammad Natsir adalah contoh guru sejati, meski tidak pernah mengenyam pendidikan di fakultas keguruan dan pendidikan. Hidupnya dipenuhi dengan idealisme tinggi memajukan dunia pendidikan dan bangsanya. Setamat AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung, dia memilih terjun langsung ke dalam perjuangan dan pendidikan. Ia dirikan Pendis (Pendidikan Islam) di Bandung. Di sini, Natsir memimpin, mengajar, mencari guru dan dana. Terkadang, ia keliling ke sejumlah kota mencari dana untuk keberlangsungan pendidikannya. Kadangkala, perhiasan istrinya pun digadaikan untuk menutup uang kontrak tempat sekolahnya.
Pada 17 Agustus 1951, hanya 6 tahun setelah kemerdekaan RI, M. Natsir melalui sebuah artikelnya yang berjudul Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut, Natsir mengingatkan bahaya besar yang dihadapi bangsa Indonesia, yaitu mulai memudarnya semangat pengorbanan. Melalui artikelnya ini, Natsir menggambarkan betapa jauhnya kondisi manusia Indonesia pasca kemerdekaan dengan pra-kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan, kata Natsir, bangsa Indonesia sangat mencintai pengorbanan. Hanya enam tahun sesudah kemerdekaan, segalanya mulai berubah. Natsir menulis:
“Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau… Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai…Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat serakah… Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang diluar dirinya…”
Peringatan Natsir lebih 60 tahun lalu itu perlu dicermati oleh para elite bangsa, khususnya para pejabat dan para pendidik. Jika ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa besar yang disegani di dunia, wujudkanlah guru-guru yang mencintai pengorbanan dan bisa menjadi teladan bagi bangsanya. Beberapa tahun menjelang wafatnya, Natsir juga menitipkan pesan kepada sejumlah cendekiawan yang mewawancarainya, ”Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia.” Lebih jauh, kata Natsir:
”Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang ”baru”, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat). Tetapi, gejala yang ”baru” ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.”
Kini, sebagaimana dikatakan Natsir, yang dibutuhkan bangsa ini adalah “guru-guru sejati” yang cinta berkorban untuk bangsanya. Bagaimana murid akan berkarakter; jika setiap hari dia melihat pejabat mengumbar kata-kata, tanpa amal nyata. Bagaimana anak didik akan mencintai gurunya, sedangkan mata kepala mereka menonton guru dan sekolahnya materialis, mengeruk keuntungan sebesar-besarnya melalui lembaga pendidikan.
Pendidikan karakter adalah perkara besar. Ini masalah bangsa yang sangat serius. Bukan urusan Kementerian Pendidikan semata. Presiden, menteri, anggota DPR, dan para pejabat lainnya harus memberi teladan. Jangan minta rakyat hidup sederhana, hemat BBM, tapi rakyat dan anak didik dengan jelas melihat, para pejabat sama sekali tidak hidup sederhana dan mobil-mobil mereka – yang dibiayai oleh rakyat – adalah mobil impor dan sama sekali tidak hemat.
Pada skala mikro, pendidikan karakter ini harus dimulai dari sekolah, pesantren, rumah tangga, juga Kantor Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama. Dari atas sampai ke bawah, dan sebaliknya. Sebab, guru, murid, dan juga rakyat sudah terlalu sering melihat berbagai paradoks. Banyak pejabat dan tokoh agama bicara tentang taqwa; berkhutbah bahwa yang paling mulia diantara kamu adalah yang taqwa. Tapi, faktanya, saat menikahkan anaknya, yang diberi hak istimewa dan dipandang mulia adalah pejabat dan yang berharta. Rakyat kecil dan orang biasa dibiarkan berdiri berjam-jam mengantri untuk bersalaman.
Kalau para tokoh agama, dosen, guru, pejabat, lebih mencintai dunia dan jabatan, ketimbang ilmu, serta tidak sejalan antara kata dan perbuatan, maka yakin dan percayalah, Pendidikan Karakter yang diprogramkan Kementerian Pendidikan hanya akan berujung slogan !. Potensi-potensi siswa terkungkung dalam tempurung arogansi guru. Mungkin banyak Lintang-dalam novel laskar pelangi- yang memiliki potensi luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari prestasi anak bangsa dalam kompetisi dan olimpiade Asia sampai internasional. Sangat sering mereka menyabet medali emas. Namun, karena dikungkung oleh guru yang totaliter–pragmatis, nasib mereka hanya kembali ke pasar atau keluarga mengurus nafkah dan anak-anak. Karena itu, pendidikan tentu diharapkan bisa menjadi amal jariyah yang mengalirkan pahala hingga ke akhirat nanti.
Syamsuar Hamka