Luqman menjadi satu nama Surah khusus dalam al-Qur’an. Nama ini diabadikan, tentu bukan sekedar nama biasa. Sebab Luqman al-Hakim adalah sosok fenomenal yang ternyata, dari dialognya dengan anaknya, kita bisa mendapatkan hikmah yang dalam. Hingga sekarang pun, dialog itu juga masih dikaji dalam berbagai majelis dan strata pendidikan.
Padahal, jika kita mengetahui bagaimana penampakan Luqman, mungkin dalam pandangan awam, kita akan sangat berbeda penilaian dengan kekaguman kita dengan wasiatnya. Jamal Abdurrahman, dalam bukunya “Cara Nabi Menyiapkan Generasi”, ia mengutip komentar Mujahid dalam dalam tafsir Ibn Katsir.
“Luqman al-Hakim adalah seorang Hamba Habasyah yang bibirnya tebal dan kedua tumitnya pecah – pecah.”[1]
Kita bisa mengetahui bagaimana penampakan fisik, secara umum seorang ras dari Habasyah (Ethiopia). Bahkan sampai sekarang bangsa itu masih tergolong terbelakang. Apalagi ia adalah seoarng budak. Namun status sosialnya diangkat oleh Allah karena akhlaq yang ia miliki.
Lebih lanjut Jamal Abdurrahman menuturkan,
Dia didatangi oleh seseorang ketika sedang duduk memberikan ceramah di hadapan orang banyak. Dia beratnya kepada Luqman, “Bukankah dulu anda yang meggembala kambing di tempat ini dan ini ?” Luqman menjawab, “Ya”. Orang itu bertanya lagi, “Apa yang membuat anda sekarang mencapai kedudukan ini ?”. Beliau menjawab, “Berbicara yang jujur dan diam dari sesuatu yang tidak perlu”.[2]
Sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa seseorang itu dinilai dari akhlaq yang ia miliki. Semakin tinggi akhlaqnya, maka ia akan semakin tinggi derajatnya di sisi Allah dan di sisi manusia.
Kita juga bisa mengambil 5 hikmah dari seorang Luqman al-Hakim kepada anaknya dalam QS. Luqman: 13-19, seperti berikut:
Wasiat Pertama,
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣
- Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”
Dalam Tafsir Ibn Katsir disebutkan, “Ia berwasiat pada anaknya, yaitu orang yang paling dia rindukan dan paling ia cintai. Dan tepat kalau dia memberikan apa yang paling baik ia miliki. Itulah sebabnya pertama kali ia mewasiatkan agar beribadah kepada Allah Yang Esa dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Kemudian ia mengingatkan, “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar – benar kezhaliman yang besar”, yaitu kezhaliman yang paling besar.
Al-Bukhari berkata, “Dari Abdullah, ia berkata, “Ketika turun ayat,
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ… ٨٢
- Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), (QS al-An’am: 82) Kami bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah di antara kami yang tidak menzhalimi dirinya?”.
Rasulullah Salallahu ‘alahi wasallam bersabda, “Bukan seperti yang kalian katakan, tetapi maksudnya adalah tidak mencampurkan iman mereka dengan kesyirikan. Apakah kalian tidak mendengar perkataan Luqman kepada putranya ?”, Ia berkata, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar – benar kezhalimanyang besar” (HR al-Bukhari, Kitab ahaadits al-Anbiyaa’: 3110)
Wasiat ini adalah wasiat yang paling pertama yang harus dinasihatkan kepada generasi. Dalam kondisi sakaratul maut pun, Ya’qub menasihatkan tauhid kepada anak – anaknya,
أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِيۖ قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبۡرَٰهِۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗا وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٣
- Adakah kamu hadir ketika Ya´qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”
Yang ditanyakan Ya’qub kepada anak – anaknya adalah “Apa yagn engkau akan sembah setelah ku?”. Ya’qub ‘alaihisalam, tidak bertanya, “Apa yang akan engkau makan setelahku ?”.
Wasiat kedua,
Allah berfirman,
وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ١٤
- Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu
Wasiat kedua yang tidak kalah pentingnya adalah taat kepada orang tua. Imam Bukhari meriwayatkan dalam Kitabul Adab dari jalan Abi Bakrah Radhiyallahu ‘anhu, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Sukakah saya beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, ‘Baiklah, ya Rasulullah’, bersabda Nabi. “Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, serta camkanlah, dan saksi palsu dan perkataan bohong”. Maka Nabi selalu megulangi, “Dan persaksian palsu”, sehingga kami berkata, “semoga Nabi diam” [Hadits Riwayat Bukhari 3/151-152 -Fathul Baari 5/261 No. 2654, dan Muslim 87]
Dari hadits di atas dapat diketahui bahwa dosa besar yang paling besar setelah syirik adalah uququl walidain (durhaka kepda kedua orang tua). Dalam riwayat lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa diantara dosa-dosa besar yaitu menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh diri, dan sumpah palsu [Riwayat Bukhari dalam Fathul Baari 11/555]. Kemudian diantara dosa-dosa besar yang paling besar adalah seorang melaknat kedua orang tuanya [Hadits Riwayat Imam Bukhari]
Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan minta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)” [Hadits Riwayat Bukhari (Fathul Baari 10/405 No. 5975) Muslim No. 1715 912)]
Hadits ini adalah salah satu hadits yang melarang seorang anak berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya. Seorang anak yang berbuat durhaka berarti dia tidak masuk surga dengan sebab durhaka kepada kedua orang tuanya, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Dari Abu Darda bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak masuk surga anak yang durhaka, pemimum khamr (minuman keras) dan orang yang mendustakan qadar” [Hadits Riwayat Ahmad 6/441 dan di Hasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Hadits Shahihnya 675]
Oleh karena itu, kita dilarang sama sekali untuk membentak, menbantah bahkan sekedar mengatakan “Ah!” kepada mereka. Hal itu disebutkan Allah,
… إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ٢٣
“… Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kemu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. [Al-Isra : 23]
Syamsuar Hamka (Kepala KB & TK Iman al-Qurbah)
Referensi: Jamal Abdurrahman, Cara Nabi Menyiapkan Generasi, Surabaya: Pustaka eLBA, 2009
[1] Jamal Abdurrahman, Cara Nabi Menyiapkan Generasi, Surabaya: Pustaka eLBA, 2009, hlm. 278
[2] Jamal Abdurrahman, Cara Nabi Menyiapkan Generasi, hlm. 278