Khutbah Idul Fitri 1444 H/ 2023 M
Wasiat Berharga Usai Ramadan
(Khutbah id untuk 2 khutbah. Bagi yang mau 1 khutbah, bisa dicukupkan dengan khutbah pertama)
Khutbah Pertama
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ (9x)
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى نَبِيِّنَا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْنِ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd
Jama’ah shalat ied yang semoga mendapatkan gelar taqwa dari Allah Ta’ala
Mari kita senantiasa terus dan selalu bertaqwa kepada Allah Ta’ala dengan mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, sebagaimana inti hikmah dari diwajibkannya berpuasa. Allah Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa [Qs Al-Baqarah: 183]
Ini jugalah inti hikmah dari semua penyembahan dan ibadah yang diamalkan untuk Allah semata
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Wahai manusia! Sembahlah (beribadahlah) kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa [Qs Al-Baqarah: 21]
Jama’ah shalat ied yang berbahagia
Di hari yang berbahagia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperjumpakan kita semua di tempat penuh kebahagiaan ini, yang semoga juga Allah tempatkan kita kelak di surga firdausNya kebahagiaan yang abadi, tidak ada kekhawatiran dan kesedihan di dalamnya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Bagi orang yang berpuasa akan merasakan dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.” (HR. Muslim no. 1151)
Di antara penjelasan ulama terkait kebahagiaan ketika berbuka yaitu kebahagiaan saat idul fitri, kita berkumpul bersama merayakan hari raya kita ummat islam, berbahagia bersama, bergembira bersama, menyambung silaturahmi, mempererat ukhuwah persaudaraan, saling memberi selamat dan mendoakan kebaikan.
Begitupun kebahagiaan lainnya saat bertemu di surga kelak dengan berbagai kenikmatan banyaknya apalagi kenikmatan ternikmat saat bertemu melihat wajah Allah Ta’ala. Allah Azza wa Jalla berfirman,
ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ أَنتُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ تُحۡبَرُونَ
“Masuklah kalian ke dalam surga dan pasangan kalian akan digembirakan.” [Qs Az-Zukhruf: 70]
Jamaah shalat ied yang senantiasa berharap dan takut kepada Allah
Suatu kenikmatan terbesar saat Allah Ta’ala mempertemukan kita dengan Ramadan mubarak, kita harap agar semua amalan shalih kita diterima, dan takut, khawatir, serta cemas akan kecelakaan jika Ramadhan pergi namun kita tidak mendapatkan pemaafan dari-Nya. Allah Ta’ala telah menyifati keadaan para Nabi Allah di dalam Al Quran,
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami. [Qs Al-Anbiya’: 90]
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd
Jamaah shalat ied yang semoga dimaafkan Allah Al ‘Afuww
Tentunya semua kita senang dan suka jika Allah Jalla Jalaluhu mengampuni dan memaafkan kita semua sebagai hamba yang berlumuran dosa dan maksiat. Maka sangat perlu bagi kita sesama hamba saling memaafkan, agar Allah memaafkan kita. Allah Ta’ala berfirman,
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak suka bahwa Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Qs An-Nur: 22]
Jamaah shalat ied yang tidak pernah putus semangat menyembah Rabbnya
Kita semua adalah hamba Allah di manapun berada dan kapan pun waktunya. Kita bukan hamba Allah di bulan Ramadhan saja. Maka menyembah Allah sampai kapanpun, dan di manapun itu. Allah Ta’ala berfirman,
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
Dan sembahlah Rabbmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu. (Q.S Al-Hijr, Ayat 99)
Ketika kita perhatikan diri-diri kita di bulan Ramadhan, ternyata kita bisa untuk puasa berjam-jam, kita mampu untuk shalat berlama-lama, kita dapat membaca al-Quran berjuz-juz, kita sanggup bersedekah secara rutin, dan amalan-amalan kebaikan lainnya.
Mari kita pertahankan di luar bulan Ramadhan, yang demikian itu sebagai tanda diterimanya amalan ibadah Ramadan kita, dan tanda kita benar-benar beribadah hanya kepada Allah Ta’ala, bukan hamba Ramadan. Jangan sampai kita termasuk seburuk-buruk kaum
Imam Bisyr Al-Hafi pernah ditanya tentang orang-orang yang rajin ibadah hanya di bulan Ramadhan, maka beliau menjawab,
بِئْسَ الْقَوْمُ لاَ يَعْرِفُوْنَ للهَ حَقاًّ إِلاَّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَيَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا
“Seburuk-buruk kaum yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan. Sesungguhnya hamba yang saleh adalah yang rajin dan sungguh-sungguh dalam ibadah dalam setahun penuh.” (Lathaiful Ma’arif, hal 313)
Jamaah shalat ied yang dimuliakan Allah Ta’ala
Di bulan Syawal ini ada amalan baik untuk mendapatkan pahala puasa setahun penuh setelah melaksanakan puasa Ramadhan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka yang demikian itu seperti berpuasa sepanjang tahun.” (H.R. Muslim 1164)
Seseorang ketika berpuasa satu hari saja maka pahalanya sama dengan 10 hari. Dalilnya, keumuman ayat Allah Ta’ala tentang setiap kebaikan diganjar dengan 10 kali lipat pahala,
مَن جَاۤءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَا
“Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya.” (Qs Al-An’am, ayat 160)
Berarti Ramadhan selama sebulan, seseorang berpuasa pahalanya dikali 10 sama dengan 10 bulan, dan ditambah 6 hari dikali 10 sama dengan 60 hari atau 2 bulan, semuanya 12 bulan atau satu tahun penuh.
Pelaksanaannya boleh langsung besok 2 syawal, boleh berurut harinya dan boleh tidak berurut. Sebagian Ulama memandang bolehnya puasa Syawal sebelum puasa Qadha. Dan niatnya boleh digabung dengan puasa sunnah lainnya seperti: sunnah senin & kamis, begitupun ayyamul bidh.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Jama’ah shalat ied yang semoga selalu dijaga Allah Ta’ala
Sebagai orangtua, mari terus memperbaiki diri dan menjadi suri teladan terbaik bagi keluarga, serta pendidik dan cerminan kebaikan yang patut diikuti dan dicontohi oleh anak keturunan.
Sebagai anak, jangan sampai terbetik di dalam pikiran untuk durhaka kepada orangtua, ingatlah masa kecil saat mereka bersusah payah membesarkan, ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, bersama ayah yang menjaga dan menafkahi.
Sebagai jomblo jomblowati, bertaqwalah kepada Allah, jaga jarak dari apa yang belum menjadi halal bagi anda, jangan mengobrol di dunia nyata maupun maya dengan obrolan yang tidak penting, jangan bersentuhan, jangan berduaan, jangan ikhtilat, karena semua itu penghantar kepada perzinaan. Jika sudah mampu, menikahlah segera, jangan tunda, jika belum, teruslah menjaga diri dengan puasa atau amalan lainnya, semoga Allah membantu segera mendapatkan jodoh yang terbaik.
Sebagai suami, ingatlah bahwa istri anda adalah anak perempuan yang telah dibesarkan orangtuanya dengan baik, jangan berbuat jahat dan kasar, ia adalah ibu dari anak-anak anda, istri anda yang selalu membantu anda dalam mengurus rumah dan kebutuhan sehari-hari.
Sebagai istri, berbaktilah terus kepada suami anda, karena anda akan terus butuh kepada suami anda, jangan menjadi penentang yang bisa membuat anda terjerumus dalam kebinasaan, taatilah selama bukan dalam kemaksiatan.
Sebagai pribadi dalam suatu masyarakat, jadilah sebagai tetangga yang baik, jadilah sebagai masyarakat yang selalu diharapkan kehadirannya, jadilah seorang dai yang selalu mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Jamaah shalat ied yang rahimakumullah
Mari sejenak kita berdoa kepada Allah Ta’ala dimulai dengan memuji segala pujian bagi Allah dan shalawat serta salam kepada baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
Ya Allah Ya Rabb, taqabbal minnaa terimalah amalan shalih kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, watub ‘alaina terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang
Ya Allah, jadikanlah semua kami sebagai hambaMu yang bertaqwa dan diberkahi dimanapun beradaa, buatlah kami dengan kepergian Ramadan seraya kami diampuni dan dimaafkan olehMu, jangan jadikan kami orang-orang yang rugi lagi celaka
Ya Allah, sayangilah kedua orangtua kami, jagalah mereka yang masih hidup, dan rahmatilah mereka yang telah meninggal dunia, berilah kami taufiq untuk senantiasa menjadi anak-anak yang shalih dan berbakti
Ya Allah, mudahkan urusan di antara kami yang ingin menyempurnakan separuh agamanya, dan jadikanlah kami yang telah Engkau karuniai pasangan yang sah menjadi pasangan yang Engkau ridhai. Berikanlah keturunan shalih shalihah bagi yang belum memilikinya, bantulah kami membimbing anak-anak kami, keturunan kami, jadikanlah mereka anak-cucu yang bisa membanggakan kami di dunia terlebih lagi di akhirat.
Ya Allah, jagalah negri kami dari marabahaya dan petaka, bantulah negri-negri kaum muslimin yang terzalimi, teraniaya, tertindas dari berbagai belahan dunia, berikanlah kepada mereka keamanan dan hilangkan kekhawatiran serta kesedihan yang menimpa.
Ya Allah, pertemukan kami selalu dengan bulan ramadan dengan usia yang panjang dan kesehatan yang baik serta amalan yang shalih mengisi kehidupan kami. Ampunilah kami, rahmati kami, matikanlah kami dalam keadaan husnul khatimah.
Taqabbalallaahu minnaa wa minkum
Aamiin, aamiin, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسࣲ وَ ٰحِدَةࣲ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالࣰا كَثِیرࣰا وَنِسَاۤءࣰۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِی تَسَاۤءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَیۡكُمۡ رَقِیبࣰا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
