Kaidah ini diambil dari hadits Nabi shallallahu `alaihi wasallam, riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah. Dan diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari secara muallaq dari Aisyah. “Roh-roh itu bagaikan tentara-tentara yang satu. Jika mereka saling kenal, maka mereka akan menyatu dan kapan mereka tidak saling kenal, maka mereka akan berselisih.”
Inti hadits ini, sebagaimana seseorang yang cendrung semodel dengan fisiknya, maka demikian pula dengan roh, akan cendrung dengan orang yang semisal dengannya. Fisik misalnya; pakaian, kulit, sebangsa, Apalagi kalau kita berada di tempat orang banyak, maka kita akan cenderung mencari yang mirip dengan kita. Demikian pula dengan jiwa-jiwa ini, akan cari orang yang se-jiwa, se-akhlak, se-perangai dengannya. Ini dipahmai dari atsar yang pertama kali diangkat oleh syaikh, dari Abdullah bin Abbas, ketika beliau menyimpulkan seorang bahwa orang itu adalah orang yang baik. Yang akan mencintainya. Abdullah bin Abbas pernah bertemu seseorang. Beliau baru ketemu, tapi ia persaksikan pada saudara-saudaranya bahwa orang itu cinta padanya. Dari mana ia tau? Karena saya juga cenderung padanya. Cintanya pada beliau karena roh-roh itu bagaikan tetara-tentara yang satu. Tentara yang seragamnya sama, akan saling bahu membahu, tolong-menolong dan menghadapi yang beda dengan seragamnya. Kita juga telah sebutkan pentingnya ta`arruf. Kadang yang halangi kita bersama saudara karena kita belum saling kenal-mengenal. Mungkin kita kadang pasang jarak dengan saudara kita karena kita belum tau bagaiman ia. Kalau kita tau ia, mungkin kita akan cinta padanya.
Nukilan Ibnu Katsir, sebagaimana Ashabul Kahfi. Tujuh pemuda yang diabadikan kisahnya dalam Alquran. Pemuda yang beriman pada Allah. Mereka dikatakan tujuh pemuda, tapi mereka pada asalnya belum berkumpul bersama, belum kenal satu sama lain. Namun dipersatukan karena mereka seakidah, semanhaj, satu prinsip. Saat berada dalam satu negeri yang dzolim, paksakan kesyirikan. Satu diantara pemuda beruiar untuk jauhi keramaian orang banyak dan selamatkan diri dari kesyirikan. Beliau menyendiri. Ada lagi oranag kedua yang sama denganya saaat melihat keadaan di masyarakatnya. Ia khawatir akan ikut pada kesyirikan itu, akhirya ia berpisah dari mereka. Orang ketiga pun demikian hingga tujuh orang itu berkumpul di bawah naungan pohon hingga sepakat untuk selamatkan diri dan agamanya di dalam gowa hingga Allah namakan mereka Ashabul Kahfi.
Perlunya kita teguh dengan prinsip. Jangan khawatir bahwa kita akan sendniri. Kita akan melihat siapa kawan kita, penolong, dan siap bersama kita. Misalnya berada dalam kampus. Antum maba. Kampus yang sekuler, tidak islami. Awalnya antum menyangka hanya antum yang ikhwah di situ, kebanyakan tidak pakai hijab, tak hidupkan sunnah. Namun kalau tetap iltisam, pegang perinsip, maka antum akan melihat satu persatu orang-orang akan bersama antum. Kadang kumpul saat waktu sholat. Antum lihat, “Wah Fulan in bisa diajak untuk berdakwah”. Kami (pemateri, red) teringat waktu di Unhas dulu. Belum ada masjidnya. Masih koridor MPM teknik yang dijadikan tempat sholat. Selesai kuliah, yang tidak tenang di kelasnya, maka ia pergi lagi ke koroidor dan akhirnya ia melihat ini ikhwah. Ada Ustadz Nasrudidn, Ustadz Sobar, Ustadz Amir Gani, kenalan di koridor teknik. Pusing dengan keadaan di kelas, nanti tenang saat kita di mesjid, di tempat ibadah. Saat di kelas, kayaknya cuma kita yan tak suka ikhtilat atau mau sholat tepat waktu. Namun saat di tempat ibadah, kita tau bahwa Allah juga berikan jiwa yang sama dengan kita yang mau jaga agama ini. Dari Imam Ibnu Katsir ini, beliau ajarkan kita. Awalnya tak kenal, namun akhirnya diabadikan dalam Alquran walau tak disebutkan secara pasti nama mereka di Alquran. Ada beberapa versi tentang nama-nama mereka namun dalam hadits shohih, tak disebutkn secara tegas nama-nama mereka.
Contoh ayat yang jelaskan masalah ini, firman Allah dalam surat an-Nur ayat 26, “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula). Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik.” Seorang yang buruk perangainya akan cenderung dengan yang buruk perangainya. Perempuan yang tidak baik akhlaknya akan suka dengan yang tidak baik akhlaknya. Sebaliknya, laki-laki yang tidak balik akhlaknya akan suka dengan yang tidak baik akhlaknya.
Ini juga jadi dalil, bahwa Muhammad shallallahu `alaihi wasallam dan sahabatnya adalah manusia pilihan. Tak mungkin nabi pilih mereka sebagai pasangannya dan tak mungkin nabi jadikan mereka kawan perjuangannya kalau mereka bukan orang yang terbaik. Ini untuk bantah syiah. Orang terburuk bagi mereka adalah sahabat nabi dan wanita terburuk adalah istri nabi. Sebagian ulama berkata, orang yang yahudi lebih baik dari pada orang syiah. Pengikut nabi Musa alaihissalam ditanya, siapa yang terbaik dari ummat musa? Mereka menjawab hawwariyun. Ini makna, ”Jiwa akan dipasangkan dengan jiwa yang baik dan di hari kiamat mereka akan dikumpulkan dengan orang yang sama dengan mereka.” Allah berfirman, “Kamu akan dibagi menjadi tiga. Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga)” (QS. Al-Waqi`ah:7-10). Masing-masing sesuai kelompok dan tingkatannya.
Imam Malik bin Anas radhiallahu `anhu berkata bahwa manusia itu mirip dengan burung. Burung akan bersatu dengan sejenis dengannya. Merpati akan gabung dengan merpati. Gagak dengan gagak, itik dengan itik. Itik akan gabung dengan itik.Hal yang sangat baik dari Abdullah bin Mas`ud tentang hal ini, ”Jangan kamu tanya tentang seseorang ia suka kamu atau tidak. Tapi perhatikan dirimu. Lihat dirimu. Kalau kamu suka sama dia, maka ia pun suka kamu. Jika tidak, maka juga tidak.“
Abu Darda menulis pada Maslamah bin Makhlak, yang saat itu jadi pemimpin di Mesir, “Seorang hamba kalau taat pada Allah, maka Allah akan mencintainya, Allah menjadikan orang tersebut dicintai oleh hamba-hamba yang lain. Jika hamba melakukan maksiat pada Allah, maka Allah akan murka padanya dan jika Allah benci pada hamba, maka Allah juga jadikan hamba lain benci pada orang tersebut.
Sesuai firman Allah dalam hadits kudsi, hadist Jibril, “Allah jika cinta seorang hamba,maka Allah akan panggil Jibril, ”Saya cinta fulan, maka cintai orang itu juga”. Jibril umumkan juga pada penduduk langit, “Allah cinta pada fulan, maka wahai malaikat, cintailah fulan tersebut”, penduduk langit akan cinta padanya. Penduduk bumi juga akan cinta pada orang tersebut”.
Tanda cinta Allah pada seseorang, banyak diketahui saat kita juga cinta pada orang tersebut. Imam Ibnu Abi Bald mengatakan, ”Kalimat tadi, dari Abu Darda nampak bahwa maknanya umum, walau sebenarnya bermakna khusus. “Ia akan dicintai oleh ahlul iman dan orang yang taat tadi akan dibenci oleh ahli maksiat”. Ini sesuai juga dengan sabda nabi dari sahabat Abu Said al-Khudri dalam shohihain. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda, “Mencintai orang anshor adalah tanda keimanan”. Mau ukur keimanan? Ukur cinta kita pada orang Anshor. Dan tentu orang Muhajirin lebih afdhol dari orang Anshor. “Dan membenci mereka (orang Anshor) bagian dari kemunafikan”. Benci orang sholeh, adalah tanda keburukan. Nabi telah sebutkan bahwa sahabat nabi adalah orang memukau, kita juga jadi cinta pada meraka, Namun bagi orang kafir, justru sahabat nabi sangat dibenci. Ini slah satu bukti bahwa roh-roh bagaikan tentara-tentara yang satu.
Kata syaikh, ada pun jika kamu bertanya, apa dampak yang jelas, amalan, yang sifatnya aplikatif dalam kehidupan kita, maka telah disebutkan oleh Ibnu Jauzi, “Faedah yang bsia diambil dari hadits ini, adalah kalau seseorang dapatkan pada dirinya selalu mau jauhi orang-orang yang punya keutamaan, kesholehan, kita tak tenang kalau dekat dengannya, maka seharusnya kita mencari apa penyebabnya. Lalu kita berupaya menghilangkan sebab tersebut agar kita bisa menghilangkan sifat tercela pada diri kita. Demikian pula sebaliknya, ”Kalau kita simpati pada ahli maksiat, maka ini menunjukkan kelemahan jiwa kita. Ada soal pada hati kita, maka kita perlu segera hilangkan sifat tesebut. Ini sangat penting, cinta, kepada siapa kita berikan.
Oleh karena itu, dalam Alquran sangat banyak yang Allah ingatkan persoalan cinta ini. Kapan kita benar-benra beriman, maka tak boleh mencitai musuh Allah walau punya hubungan nasab kekerabatan dengan kita. Allah berfirman, bahwa kalian tidak akan mendapati orang yang betul-betul beriman kepada Allah, yang mau saling cinta dengan orang yang menentang Allah dan rasul-Nya walau mereka adalah bapak-bapak mereka (contohnya Abu Ubaidah), anak-anak mereka (contohnya Abu Bakar), atau saudara-saudara mereka (contoh Umar) (QS. Al-Mujadilah:22). Perang badar adalah pertempuran keluarga mukmin dan musyrik. Orang muhajirinyang berhijrah, ada yang berhadapan langsung dengan keluarga dekat: bapak, anak, saudara,dan ada keluarga secara umum. Allah sebutkan mereka sebagai hisbullah.
Allah mengingatkan agar orang beriman tak ada kecendrungan sama sekali dengan mereka. Ini teguran pada Hatib bin Abi Baltaah, sahabat mulia yang ikut perang badar, yang saat perang tabuk menulis surat pada keluarganya di Mekah bahwa Nabi akan mengirim orang untuk melawan mereka. Nabi mengutus Ali dll untuk mencari wanita yang disuruh memgantarkan surat untuk mengambil surat itu.
Akhirnya Hatib bin Abi Balta`ah dipanggil oleh nabi. Saat itu Umar sudah tak sabar. Ia berkata, “Ijinkan aku untuk penggal saja leher orang ini. Ia munafik”. Ia cenderung pada orang kafir, mau membantu ornag kafir. Namun nabi tak langsung vonis beliau sebelum ditanya apa alasannya. Beliau punya sumbangan besar pada perjuangan, dalam perang badar. Allah berkata pada ahli badar: “Wahai orang yang telah kut perang badar, silakan kalian melakuakn apa yang kalian inginkan, aku telah ampuni kalian, (dan diriwayat lain mereka telah pasti masuk surga).”
Jadi nabi mau dengarkan dulu apa alasan Hatib. Beliau sebutkan, “Seluruh sahabat lain punya orang yang melindungi keluarga mereka di sana sedangkan saya tidak.” Maka saya mau surati dulu agar bisa mengungsi dan menjauh agar tak jadi korban peperangan.. Namun ini juga tak diizinkan dan juga termasuk dosa besar. Allah ingatkan pada orang beriman lewat kasus ini. Jadi cendrung saja pada orang kafir, maka ini sudah jadi dosa besar. Andai ia bukan ahli badar, maka nabi akan izinkan Umar radhiallahu `anha untuk penggal lehernya.
Termasuk hal yang sifatnya aplikatif pada hadist kita ini, ulama-ulama mencontohkan persoalan pertemanan. Siapa teman-teman kita? Orang akan pilih teman yang sama dengannya. Kalau kita suka teman yang buruk, maka ini indikasi bahwa kita punya perangai buruk. Tentang seseorang tak usah tanya saipa orang itu, tapi tanya saja, “Siapa temannya?” Tanya saja siapa saja temannya sia A. Kalau orang jahat, maka ia juga orang jahat. Kalau disebutkan nama temannya dan ternyata orang baik, maka taulah kita bahwa ia juga orang baik. Tak mungkin orang mau berteman dengan orang yang berbeda dengannya. Nabi: “Seseorang sangat bergantung agama temannya maka perhatikannlah dengan siapa kamu bergaul.”
Hal yang sama dengan ini adalah persoalan tasyabbuh. Aplikasinya adalah bagaimana kita mau tasyabbuh dalam hal perangai, akhlak, penampilan. Bukan hanya yang paling penting adalah roh kita sama dengan orang baik. Tapi juga penting dalam hal fisik. Untuk mengetahui seseorang, bisa dilihat dengan kecondongannya pada model tertentu, maka begitulah ia. Bila suka model orang kafir, maka begitulah ia. Sebaliknya, kita mau jadi orang sholeh, maka langkah pertama yang ia tempuh adalah mencontohi model orang itu, mungkin mulai dengan pakaiannya. Nabi: “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari mereka.
Pada dasarnya hadists ini berlaku pada hal yang tidak baik. Tapi bisa juga dibawa pada perihal yang baik jika kita mentasyabbui orang-orang sholeh., Syaikh berkata, tasyabbuilah mereka walaupun kalian tidak sama dengan mereka karena ketika kita mau menyerupai orang yang mulia, maka itu sudah suatu kemenangan awal. Insyaallah suatu saat kita bisa sama dengan mereka. Ketika Anas bin Malik dengar sabda nabi, “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”. Anas bin Malik berkata, “Tak ada hadits yang lebih menggembirakan kami selain hadits ini. Memang tak sama amalan kami dengan nabi. Kami tak bisa samai amalan Abu Bakar dan Umar. Tapi kecintaiaan kami pada mereka bisa jadikan kami dikumpulkan dengan mereka. Karena nabi bersabda: “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.””Makna dari perkataan Imam Syafi`i, “Aku cinta orang sholeh walau aku tak sama dengan mereka”. Semoga kecintaatku ini bisa jadi syafaat untuk aku dikumpulkan dengan mereka.
Syaikh menutup dengan doa yang mulia, “Ya Allah, rezkikanlah kami saudara di jalan-Mu yang senangtiasa menunjuki kami pada kebaikan dan senang tiasa mewasiatkan pada kami kebenaran dan kesabaran. Ya Allah, jauhkanlah kami, keluarga kami, anak-anak kami teman yang jahat dan rusak.”
Kesimpulan kaidah:
- Merupakan sunnah Allah dalam penciptaannya, keagungan Allah, bahwa Allah menjadikn setiap makhluk akan cendrung, rindu, tenang, pada orang yang serupa dengannya dalam tabiat, perangai dan akhlaknya
- Tidak mungkin nabi kita, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, memilih untuk jadi sahabatnya dari manusia yang jahat dan manusia yang paling celaka. Mereka adalah manusia pilihan Allah yang memiliki hati yang paling suci, ilmu paling mendalam, dan akhlak terbaik. Yang mau cari contoh yang baik, tak perlu cari orang yang masih hidup, tapi cari orang yang sudah mati. Karena boleh jadi nanti kita akan kecewa kalau cari contoh dari orang yang masih hidup.
- Jika kamu menganggap baik amalan orang yang rusak akhlaknya, maka hendaklah kamu memuroja`ah hatimu, apalagi kalau orang kafir. Disayangkan karena ada pesantren yang memberikan rekomendasi pada Ahok bahwa ia adalah orang baik. Dari mana ia bisa mentazkiyah, padahal diri kita pun tak dapat kita tazkiyah. Adanya pembenaran pada orang yang fasik, maka ini tanda kerusakan pada diri kita.
- Mencintai orang sholeh dan amal sholeh adalah isyarat kebaikan pada seorang hamba. Ini masuk pada kaidah, “Ruh-ruh/jiwa akan menyatu dengan yang sama dengannya”.
Semoga Allah jadikan penampilan kita sama dengan hamba yang sholeh yang semangat melakukan ketaatan dan semoga hati kita senang tiasa diberikan taufik untuk menyerupai hamba yang sholeh.
*) Ditulis oleh Andi Muh. Akhyar, S.Pd., M.Sc.
**) Catatan kajian kitab’ Kawaid Nabawiyah’ setiap malam Rabu oleh ust.Yusron Anshar, Lc.,M.A. @masjid Anas Bin Malik STIBA Makassar