♻ Pertanyaan❓
Assalamualaikum, ustad saya mau nanya tentang bagaimana sejarah perayaan maulid Nabi dan siapa pelaksana pertamanya.?
Syukran
♻ Jawaban📮
Seluruh ulama sepakat bahwa maulid Nabi tidak pernah diperingati pada masa Nabi shallallahu `alaihi wasallam hidup dan tidak juga pada masa khulafaur rasyidin dan juga tidak dikerjakan oleh tabi’in dan tabiut tabi’in , dan empat imam mazhab, adapun berpuasa senin maka itulah yg menjadi contoh dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam, jika kita ingin bergembira atas kelahiran Nabi dan bukan dengan membuat ajaran yang lain, lantas sudahkan anda berpuasa senin ?
خير النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya (tabiu’t tabi’in)” (HR. Bukhari & Muslim).
Muslim yang terbaik jika meneladani generasi yang terbaik dari ilmu dan amalannya, maka apa yang mereka kerjakan dalam islam telah menjadikan mereka menjadi umat yang terbaik, dan Nabi sudah membatasi zaman yang patut menjadi teladan dalam beragama, dan hal ini tentu ada maksud.
Lalu kapan dimulainya peringatan maulid Nabi dan siapa yang pertama kali mengadakannya?
Al Maqrizy (seorang ahli sejarah islam) dalam bukunya “Al khutath” menjelaskan bahwa maulid Nabi mulai diperingati pada abad IV Hijriyah oleh Dinasti Fathimiyah di Mesir.
Dinasti Fathimiyah mulai menguasai mesir pada tahun 362 H dengan raja pertamanya Al Muiz lidznillah. Di awal tahun menaklukkan Mesir dia membuat enam perayaan hari lahir sekaligus; hari lahir ( maulid ) Nabi, hari lahir Ali bin Abi Thalib, hari lahir Fatimah, hari lahir Hasan, hari lahir Husein dan hari lahir raja yang berkuasa.
Dinasti ini menganut paham Syi’ah Bathiniyah; diantara kesesatannya adalah bahwa para pengikutnya meyakini Al Mahdi sebagai tuhan pencipta dan pemberi rezeki, setelah Al Mahdi mati anaknya yang menjadi raja selalu mengumandangkan kutukan terhadap Aisyah istri Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di pasar-pasar.
Sehingga peringatan Maulid bukan suatu hal yang disyariatkan, namun jika ada yang mengerjakannya dengan pengajian tanpa hal-hal yang lain, maka kita sampaikan untuk bisa membuat pengajiannya rutin dan lebih sering lagi agar sejarah kehidupan Nabi Shallallahu alaihi wasallam bisa diteladani dengan baik.
Salah seorang syekh yang mendukung maulid, Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani yang wafat pada 29 Oktober 2004. Bagi ulama yang akrab dikenal dengan panggilan Syekh Maliki tersebut, masalah boleh ataupun tidaknya peringatan Maulid Nabi adalah persoalan khilafiyah (perbedaan pendapat )
Meskipun begitu beliau mengatakan dalam salah satu pernyataannya :
Menurut Syekh Maliki, keharusan mengenang dan mencintai Rasulullah adalah sepanjang zaman, jika ada yang berpendapat peringatan maulid hanya diperuntukkan di satu waktu, tindakan tersebut dikategorikan sebagai bid’ah.
🔰 Dijawab Oleh
Ust. Ardian Kamal, Da’i Kantor Dakwah Kota Riyadh, Arab Saudi.
📲 *Read & Share*