Khutbah Jumat
Haji Wada’
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Mari terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan serta memperbanyak shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ.
Beliau ﷺ bersabda,
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (Muttafaqun ‘Alaih, HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349).
Jama’ah Jumat yang sama mengharapkan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-10 Hijriyah, Rasulullah ﷺ memulai perjalanan haji dari Madinah menuju Makkah bersama sekitar puluhan ribu atau ratusan ribu sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Ini merupakan haji terakhir dan perpisahan, sehingga sangat banyak sahabat yang ikut, dan ingin meneladani langsung tata cara haji beliau. Nabi ﷺ berihram dari Dzul Hulaifah (Bir Ali), dan selama perjalanan, beliau terus mengajarkan manasik haji secara langsung.
Setibanya di Makkah, Rasulullah ﷺ melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji dengan sempurna, termasuk thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, serta melontar jumrah.
Pada hari Arafah (9 Dzulhijjah), beliau menyampaikan khutbah yang sangat agung dan menyentuh, dikenal dengan Khutbah Haji Wada’. Di dalamnya beliau menekankan nilai-nilai keadilan, persaudaraan, kesucian darah, harta, dan kehormatan serta larangan riba dan praktik jahiliyah. Di momen inilah turun ayat penyempurnaan agama,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agamamu.” [Qs. Al-Ma’idah: 3]
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian haji, Rasulullah ﷺ kembali ke Madinah. Haji ini kemudian dikenal sebagai Haji Wada’ (haji perpisahan), karena tidak lama setelah itu pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ke-11 Hijriyah Rasulullah ﷺ wafat.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Itulah secara ringkas tentang perjalanan haji Rasulullah ﷺ, ada banyak pelajaran yang bisa kita petik, di antaranya:
Pertama: Kesempurnaan Islam sebagai Agama
Turunnya ayat “Alyauma akmaltu lakum dinakum…” menandakan bahwa Islam telah sempurna dan sangat cukup sebagai pedoman hidup manusia, dan menunjukkan bahwa syariat Islam sudah tidak membutuhkan tambahan atau perubahan apa pun hingga akhir zaman.
Kedua: Menjaga Hak Asasi Sesama Muslim
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa darah, harta, dan kehormatan setiap Muslim adalah haram untuk dilanggar. Ini menjadi landasan penting dalam menjaga persatuan, kedamaian, dan keadilan dalam masyarakat Islam.
Ketiga: Pentingnya Memuliakan Perempuan dan Menjaga Keluarga
Dalam khutbahnya, Nabi ﷺ berpesan agar kaum laki-laki memperlakukan perempuan dengan baik, karena mereka adalah amanah dari Allah. Ini menekankan pentingnya tanggung jawab dalam rumah tangga dan perlakuan penuh kasih kepada para wanita terutama istri.
Keempat: Penghapusan Riba dan Balas Dendam Jahiliyah
Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa semua praktik riba dan dendam masa jahiliyah dihapuskan. Hal ini menunjukkan semangat Islam dalam menghapuskan kezaliman ekonomi dan sosial serta mengedepankan keadilan.
Kelima: Persamaan Derajat Manusia
Dalam khutbahnya, Nabi ﷺ menegaskan bahwa tidak ada kelebihan antara Arab dan non-Arab, kulit putih dan kulit hitam, kecuali dengan ketakwaan. Ini menanamkan nilai universal bahwa Islam tidak mengenal rasisme dan diskriminasi.
Kaum muslimin rahimakumullah
Keenam: Wasiat untuk Berpegang Teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah
Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara; jika kalian berpegang pada keduanya, kalian tidak akan tersesat: Kitabullah dan Sunnahku.” Ini menjadi wasiat utama dalam menjaga kemurnian akidah dan ibadah.
Ketujuh: Pentingnya Menunaikan Amanah Dakwah
Setelah menyampaikan pesannya, Nabi ﷺ meminta persaksian dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum bahwa beliau telah menyampaikan risalah. Ini mengajarkan bahwa setiap Muslim punya tanggung jawab untuk menyampaikan dan menjaga agama ini.
Kedelapan: Wajibnya Mengikuti Manasik Nabi ﷺ dalam Berhaji
Dalam pelaksanaan hajinya, Rasulullah ﷺ bersabda: “Ambillah dariku manasik kalian.” Ini menunjukkan pentingnya mencontoh langsung tata cara haji Rasulullah ﷺ sebagai bentuk ibadah yang benar dan diterima, tidak boleh diada-adakan dan menganggapnya baik padahal tidak pernah dicontohkan oleh manasik Rasulullah ﷺ, begitupun dengan seluruh ibadah lainnya.
Kesembilan: Isyarat Akan Perpisahan Rasulullah ﷺ
Disebutnya haji ini sebagai haji perpisahan menandakan bahwa Rasulullah ﷺ menyadari wafatnya sudah dekat. Ini mengajarkan pentingnya menyiapkan diri untuk akhir hayat dengan meninggalkan wasiat terbaik dan amal yang bermanfaat, dan wafatnya Rasulullah ﷺ adalah musibah terbesar yang menimpa umat ini, semoga Allah mengumpulkan kita semua bersama beliau di surga firdaus kelak.
Jama’ah Jumat yang berbahagia
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang haji wada’, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di Palestina, dan kebaikan untuk pemimpin kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
