Khutbah Jumat
Perjanjian Hudaibiah
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Mari terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan serta memperbanyak shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ.
Dalam KBBI kata hu.dai.bi.ah disebut sebagai perjanjian yang dilakukan antara Nabi Muhammad ﷺ dengan kaum musyrik Makkah yang terjadi pada tahun keenam Hijriah
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Pada bulan Dzulqa’dah tahun keenam hijriyah terjadi perjanjian antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy yang dikenal dengan sulhul hudaibiah, yang mana hudaibiyah adalah nama sebuah sumur arah barat daya dari kota Makkah dengan jarak sekitar 22 km. Perundingan ini merupakan upaya diplomasi Rasulullah ﷺ untuk meredakan ketegangan antara umat Islam dengan kaum musyrikin Quraisy.
Perjanjian inilah yang disebut oleh Allah Ta’ala sebagai kemenangan yang nyata,
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
“Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata (dari sulhul hudaibiyah itu)” (Qs. Al-Fath: 1)
Kisah ini diawali oleh kehendak Rasulullah ﷺ melaksanakan umrah bersama kaum muslimin dari Madinah menuju Makkah. Mengingat kaum kafir Quraisy tidak akan membiarkan kaum muslimin begitu saja masuk Mekah, maka Rasulullah ﷺ pun terdorong untuk mengajak jumlah yang besar, sehingga pula memanggil orang-orang arab badui pedalaman, namun di antara mereka menolak hingga turun ayat Allah Ta’ala,
سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا ۚ يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا ۚ بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا * بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَىٰ أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَٰلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا
“Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiah) akan mengatakan, “Harta dan keluarga kami telah menghalangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami!” Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allâh jika Dia menghendaki kemudaratan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allâh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang Mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa. [Qs. al-Fath (48):11-12]
Ma’asyiral muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah
Kisah ini sangatlah panjang diceritakan dalam buku-buku sirah nabawiyah, begitu juga fawaidnya yang sangat banyak tidak terbilang jumlahnya, namun pada kesempatan khutbah kali ini, izinkan kami sebagai khatib menyebutkan 5 pelajaran penting, di antaranya:
Pertama: Pilihan Allah Ta’ala selalu yang terbaik.
Tatkala terjadi kesepakatan antara kedua kubu, kaum muslimin merasa kecewa dan ada kecurangan pada perjanjian itu dari pihak kaum kuffar, kaum muslimin menyangka bahwa poin-poin yang terdapat pada sulhul hudaibiyah melemahkan, padahal dari persetujuan itulah mukadimah kemenangan yang besar dan nyata, darinya terhentinya peperangan dalam jangan waktu yang lama sehingga Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya berhasil menyebarkan ilmu dan dakwah, dari sana jugalah batu loncatan Fathu Mekah, dan masih banyak lagi kebaikan dari hasil kesepakatan 2 pihak. Allah Ta’ala berfirman,
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal tidak baik bagi kamu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [Qs. Al-Baqarah: 216]
Kedua: Urgensi musyawarah dan qudwah keteladanan.
Ketika para sahabat belum ada yang mencukur dan memotong rambut, Nabi ﷺ pun masuk mendatangi ummul mukminin ummu salamah radhiyallahu ‘anhaa seraya meminta pendapat bermusyawarah, beliau menyarankan agar Rasulullah ﷺ keluar tanpa berbicara kepada siapapun namun langsung mencukur rambut, sehingga para sahabatpun ikut mencukur karena ketaatan dan kecintaan mereka kepada Rasulullah ﷺ.
Ketiga: Taat kepada pemimpin.
Pada sulhul hudaibiyah kesepakatan yang disetujui oleh Rasulullah ﷺ kalau boleh kata agak menyakitkan sebagian sahabat karena mereka belum mengetahui banyak dampak positif yang ada dari hasil sulh tersebut, namun mereka tetap taat kepada Nabi mereka selain sebagai Rasulullah ﷺ utusan Allah juga sebagai pemimpin mereka yang wajib ditaati.
Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala
Keempat: Sakinah ketenangan pelipur lara penghibur hati yang duka
Allah Ta’ala berfirman,
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah tentara langit dan bumi,dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. [Qs. Al-Fath: 4]
Ayat ini termasuk ayat sakinah yang menjadikan hati kaum muslimin tenang dan tentram dari kejadian sulhul hudaibiyah bahwa janji Allah Ta’ala benar dan agamaNya adalah hak. Dalam ayat lain,
لَّقَدۡ صَدَقَ ٱللَّهُ رَسُولَهُ ٱلرُّءۡيَا بِٱلۡحَقِّۖ لَتَدۡخُلُنَّ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ إِن شَآءَ ٱللَّهُ ءَامِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمۡ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَۖ فَعَلِمَ مَا لَمۡ تَعۡلَمُواْ فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَٰلِكَ فَتۡحُا قَرِيبًا
Sungguh, Allah akan membuktikan kepada rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, jika Allah menghendaki, dalam keadaan aman, dengan menggunduli rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.
هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدُا
Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. [Qs. Al-Fath: 27-28]
Kelima: Kecerdasan dalam menimbang mashalih dan mafasid
Diketahui bahwa pada isi perjanjian tersebut ada mafasid, namun terdapat pula mashalih yang sangat besar, sebagai contoh adalah penolakan Suhail bin Amr sebagai juru bicara kaum Quraisy untuk menandatangani perjanjian tersebut.
Karena teks perjanjian itu diawali dengan kalimat yang berbunyi: “Inilah perjanjian perdamaian yang dilaksanakan antara Muhammad Rasulullah dan Suhail bin Amr”. Suhail menolak kata-kata “Muhammad Rasulullah” dalam kalimat pembuka tersebut dan menuntut agar kata-kata itu diganti dengan “Muhammad bin Abdullah”
Suhail bin Amr mengatakan,
لَوْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ رَسُول اللهِ مَا صَدَدْنَاكَ عَنْ البَيْتِ ولا قَاتَلْنَاكَ
“Kalau kami mengetahui bahwa kamu (Muhammad) adalah Rasulullah, maka kami tidak akan menghalang- halangimu dari Baitullah dan tidak akan memerangimu.”
Rasulullah ﷺ tidak marah, kemudian segera memerintahkan Ali bin Abi Thalib merevisi dengan menghapus kata-kata “Muhammad Rasulullah” dan menggantinya dengan “Muhammad bin Abdullah”. Ali radhiyallahu ‘anhu menjawab,
واللهِ لَا أمْحَاهَا
“Demi Allah saya tidak akan menghapusnya.”
Rasulullah ﷺ juga saat itu tidak marah dan sangat memahami dilema yang dihadapi Ali bin Abi Thalib. Rasulullah ﷺ kemudian berdabda,
أَرِنِي مَكَانَهَا
“Tunjukkan padaku mana yang ada tulisan kata ‘Rasulullah’ itu?”.
Ali kemudian menunjukkan kepada Nabi ﷺ. Setelah ditunjukkan, Rasulullah ﷺ kemudian menghapus sendiri kata-kata itu sesuai dengan tuntutan orang-orang Quraisy yang diwakili Suhail bin Amr.
Setelah tertulisnya poin-poin sulh, dan terjadilah kesepakatan, dibalik perjanjian itu terdapat masalih atau banyak mashlahat yang telah kita sebutkan tadi, dan yang belum kita sebutkan yang sangat banyak pelajarannya karena waktu yang singkat.
Jama’ah Jumat yang berbahagia
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang hidaibiah, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di Palestina, dan kebaikan untuk pemimpin kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
