Khutbah Jumat
Hak Anak
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah
Marilah kita terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan memperbanyak ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ
Hari Anak Nasional diperingati setiap tanggal 23 Juli, ditetapkan melalui Keputusan Presiden No. 44 Tahun 1984, yang bertepatan dengan disahkannya Undang-Undang tentang Kesejahteraan Anak pada 23 Juli 1979. Peringatan ini bertujuan menegaskan komitmen nasional terhadap perlindungan dan pemenuhan hak anak. Meskipun demikian, Hari Anak Nasional bukan merupakan hari libur nasional, sehingga aktivitas belajar dan bekerja tetap berjalan seperti biasa.
Kaum muslimin rahimakumullah
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma:
وَإِنَّ لِوَلَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“… Dan sesungguhnya anakmu memiliki hak atasmu.” (HR. Muslim, no. 1159)
Dalam Islam telah diatur sedemikian rupa terkait persoalan hak anak, dari sejak sebelum dilahirkan, ketika lahir, tatkala masa kanak-kanak dan saat beranjak dewasa. Pada kesempatan jumat kali ini, izinkan kami selaku khatib untuk membawakan beberapa poin terkait hal ini
Poin pertama: Hak anak atas orang tua dimulai sejak sebelum kelahiran yaitu memilih pasangan yang terbaik, agar menjadi ayah shalih dan ibu shalihah untuk sang anak.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. al-Bukhari, no. 4802; Muslim, no. 1466)
Dari Abu Hatim radhiallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ، إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ
“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi” (HR. Tirmidzi no.1085).
Poin Kedua: Hak anak setelah kelahirannya, di antaranya mentahnik, memberi nama baik, aqiqah, dan khitan.
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:
اتَّفَقَ العُلَمَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ تَحْنِيكِ المَوْلُودِ عِندَ وِلادَتِهِ بِتَمْرٍ، فَإِنْ تَعَذَّرَ فَمَا فِي مَعْنَاهُ وَقَرِيبٌ مِنْهُ مِنَ الحُلْوِ، فَيَمْضُغُ المُحَنِّكُ التَّمْرَ حَتَّى تَصِيرَ مَائِعَةً بِحَيْثُ تُبْتَلَعُ، ثُمَّ يُفْتَحُ فَمُ المَوْلُودِ وَيَضَعُهَا فِيهِ لِيَدْخُلَ شَيْءٌ مِنْهَا جَوْفَهُ
Para ulama telah sepakat bahwa disunnahkan mentahnik bayi saat kelahirannya dengan kurma. Jika tidak ada kurma, maka dengan sesuatu yang serupa dan mendekati rasa manis. Caranya, orang yang melakukan tahnik mengunyah kurma tersebut hingga lembut dan cair sehingga mudah ditelan, kemudian membuka mulut bayi dan meletakkannya di dalamnya agar masuk sebagian ke dalam perut bayi. (Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 14/122–123)
Kemudian memberikan nama yang baik kepada anak, seperti: Abdullah, Abdurrahman, Ibrahim atau lainnya.
Dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ
“Sesungguhnya nama yang paling Allah cintai di antara nama-namamu adalah: Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim, no. 2132)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
وُلِدَ لِيَ اللَّيْلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ
“Tadi malam telah lahir bagiku seorang anak laki-laki, dan aku menamainya dengan nama ayahku: Ibrahim.” (HR. Muslim, no. 2315)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
إِنَّ التَّسْمِيَةَ لَمَّا كَانَتْ حَقِيقَتُهَا تَعْرِيفَ الشَّيْءِ المُسَمَّى، لِأَنَّهُ إِذَا وُجِدَ وَهُوَ مَجْهُولُ الِاسْمِ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُقَعُ تَعْرِيفُهُ بِهِ، فَجَازَ تَعْرِيفُهُ يَوْمَ وُجُودِهِ، وَجَازَ تَأْخِيرُ التَّعْرِيفِ إِلَى ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، وَجَازَ إِلَى يَوْمِ العَقِيقَةِ عَنْهُ، وَيَجُوزُ قَبْلَ ذَلِكَ وَبَعْدَهُ، وَالأَمْرُ فِيهِ وَاسِعٌ
“Karena hakikat pemberian nama adalah untuk mengenalkan sesuatu yang dinamai – sebab jika sesuatu telah ada namun belum diketahui namanya, maka tidak bisa dikenalkan – maka boleh menamainya pada hari kelahiran, boleh juga menundanya hingga tiga hari, atau hingga hari akikah, boleh sebelum itu atau sesudahnya. Dalam hal ini, terdapat keluasan (kelonggaran).” (Tuhfah al-Maudūd, hal. 111)
Tentang aqiqah, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ، وَيُحْلَقُ، وَيُسَمَّى
“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, yang disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, no. 2838; dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 4541)
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
عَقَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْحَسَنِ بِشَاةٍ، وَقَالَ: “يَا فَاطِمَةُ، احْلِقِي رَأْسَهُ، وَتَصَدَّقِي بِزِنَةِ شَعْرِهِ فِضَّةً”. قَالَ: فَوَزَنْتُهُ، فَكَانَ وَزْنُهُ دِرْهَمًا أَوْ بَعْضَ دِرْهَمٍ
“Rasulullah ﷺ mengaqiqahi al-Hasan dengan seekor kambing dan bersabda: ‘Wahai Fathimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak seberat timbangan rambutnya.’ Maka Fathimah pun menimbang rambut itu dan ternyata seberat satu dirham atau sebagian dirham.” (HR. at-Tirmidzi, no. 1519; dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi, no. 1226)
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:
أَمَرَهُمْ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ
“Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka untuk menyembelih dua ekor kambing yang sepadan untuk anak laki-laki, dan satu ekor kambing untuk anak perempuan.” (HR. at-Tirmidzi, no. 1513; Abu Dawud, no. 2834; an-Nasai, no. 4212; Ibnu Majah, no. 3163; dishahihkan dalam Shahih at-Tirmidzi, no. 1221)
Tentang khitan, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
الفِطْرَةُ خَمْسٌ – أَوْ خَمْسٌ مِنَ الفِطْرَةِ -: الخِتَانُ، وَالاسْتِحْدَادُ، وَنَتْفُ الإِبْطِ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ
“Fitrah itu ada lima (atau: lima perkara termasuk fitrah): khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan merapikan kumis.” (HR. al-Bukhari, no. 5550; Muslim, no. 257)
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Poin Ketiga: Hak anak dalam pengasuhan dan pendidikan
Allah Ta‘ala berfirman:
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَـٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ یَعِظُهُۥ یَـٰبُنَیَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِیمࣱ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi nasihat kepadanya: ‘Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.'”
(QS. Luqman: 13)
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَلِّمُوا الصَّبِيَّ الصَّلَاةَ ابْنَ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا ابْنَ عَشْرٍ
“Ajarkanlah anak kalian shalat saat berusia tujuh tahun, dan pukullah dia karena (meninggalkan) shalat saat berusia sepuluh tahun.” (HR. at-Tirmidzi, no. 407; Abu Dawud, no. 494)
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:
عَلَى الأَبِ تَأْدِيبُ وَلَدِهِ وَتَعْلِيمُهُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنْ وَظَائِفِ الدِّينِ، وَهَذَا التَّعْلِيمُ وَاجِبٌ عَلَى الأَبِ وَسَائِرِ الأَوْلِيَاءِ قَبْلَ بُلُوغِ الصَّبِيِّ وَالصَّبِيَّةِ، نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَأَصْحَابُهُ، قَالَ الشَّافِعِيُّ وَأَصْحَابُهُ: وَعَلَى الأُمَّهَاتِ أَيْضًا هَذَا التَّعْلِيمُ إِذَا لَمْ يَكُنْ أَبٌ، لِأَنَّهُ مِنْ بَابِ التَّرْبِيَةِ، وَلَهُنَّ مَدْخَلٌ فِي ذَلِكَ، وَأُجْرَةُ هَذَا التَّعْلِيمِ فِي مَالِ الصَّبِيِّ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ فَعَلَى مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ، لِأَنَّهُ مِمَّا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
“Wajib atas ayah untuk mendidik dan mengajarkan kepada anaknya apa yang ia butuhkan dalam urusan agama. Pendidikan ini menjadi kewajiban ayah dan para wali lainnya sebelum anak mencapai usia baligh, baik anak laki-laki maupun perempuan. Hal ini ditegaskan oleh Imam asy-Syafi‘i dan para sahabatnya. Jika ayah tidak ada, maka ibu juga memiliki tanggung jawab dalam pendidikan, karena termasuk dalam tugas pengasuhan. Biaya pendidikan ini diambil dari harta anak, dan jika anak tidak memiliki harta, maka ditanggung oleh orang yang berkewajiban menafkahinya, karena pendidikan ini termasuk kebutuhan pokoknya. Dan Allah Maha Mengetahui.” (Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 8/44)
Poin Keempat: Hak anak dalam nafkah dan keadilan
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhumaa, Rasulullah ﷺ bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
“Cukuplah seseorang dianggap berdosa bila ia menyia-nyiakan orang-orang yang berada dalam tanggungannya (nafkahnya).” (HR. Abu Dawud, no. 1692)
Nabi ﷺ bersabda dalam hadis sahih:
اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ
“Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah di antara anak-anak kalian.” (HR. al-Bukhari, no. 2447; Muslim, no. 1623)
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang hak anak, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di Palestina, dan kebaikan untuk pemimpin kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
