Khutbah Jumat
Jangan Putus Asa
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah
Marilah kita terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menambah kualitas ketaatan seraya memperbanyaknya dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ
Seseorang hendaknya selalu optimis dan berharap kebaikan Allah meskipun dalam keadaan sulit. Karena setelah gelapnya malam akan datang terang fajar. Petir dan guntur walaupun menakutkan, tetapi keduanya membawa hujan dan keberkahan.
Ketika datang kabar gembira kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bahwa beliau akan memiliki anak di usia tua, beliau merasa heran seraya berkata:
قَالَ أَبَشَّرْتُمُونِي عَلَى أَنْ مَسَّنِيَ الْكِبَرُ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ
“Benarkah kamu memberi kabar gembira kepadaku, padahal aku telah tua? Kabar gembira apa yang kamu bawa?” Apa jawaban para malaikat kepada beliau?
قَالُوا بَشَّرْنَاكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْقَانِطِينَ * قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ
“Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan kebenaran. Maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang berputus asa.” Ia (Ibrahim) berkata: ‘Siapa yang berputus asa dari rahmat Rabbnya selain orang-orang yang sesat?'” (Qs. Al-Hijr: 54–56)
Begitu juga Nabi Ya’qub ‘alaihis salam, yang kehilangan dua orang anaknya dan penglihatannya selama empat puluh tahun, tetap berharap kepada Allah agar dikembalikan anak-anaknya dan dipertemukan kembali. Beliau berkata kepada anak-anaknya:
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Wahai anak-anakku! Pergilah dan carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya. Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” (Qs. Yusuf: 87)
Allah Ta’ala pun mewujudkan harapan dan cita-cita Nabi Ya’qub. Allah Ta’ala mengembalikan penglihatannya dan anak-anaknya. Keputus-asaan tidak pernah menyentuh hatinya walau sesaat, karena hatinya terhubung dengan Allah, bertawakal kepada-Nya, dan yakin akan kekuasaan serta rahmat-Nya.
Demikian juga kisah Nabi Musa ‘alaihis salam, ketika beliau bersama kaumnya dikejar oleh Firaun dan bala tentaranya. Hingga mereka tiba di tepi laut, sementara Firaun telah mendekat dari belakang, maka orang-orang yang putus asa dan pesimis pun berkata:
إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
“Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!” (Qs. Asy-Syu‘ara: 61)
Namun Nabi Allah Musa, dengan penuh keyakinan, optimisme, dan tawakal, ingin membangun kembali masa depan kaumnya, maka ia berkata:
كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya bersamaku adalah Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Qs. Asy-Syu‘ara: 62)
Allah memerintahkannya untuk memukul lautan dengan tongkatnya, maka laut itu terbelah menjadi dua, dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar. Musa pun berjalan bersama kaumnya di jalan yang kering di dasar laut.
Jama’ah jumat rahimakumullah
Putus asa atau berputus harap adalah penyebab kerusakan dan penyakit hati, dan memiliki berbagai bentuk, di antaranya:
Pertama: Putus asa dari ampunan Allah terhadap dosa
Kedua: Putus asa dari hilangnya kesulitan dan datangnya pertolongan
Ketiga: Putus asa dari perubahan menuju kebaikan, seperti merasa mustahil meraih sesuatu seperti pasangan, keturunan, dan lain-lain
Keempat: Putus asa dari kemenangan Islam, dan hilangnya kehinaan serta kelemahan dari kaum Muslimin
Kaum muslimin rahimakumullah
Adapun dampak buruk dari putus asa terhadap hati adalah bisa menyeret seseorang kepada kekafiran dan kesesatan, sebagaimana firman Allah yang telah kita sebutkan sebelumnya bahwa:
“Siapa yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat?” (Qs. Al-Hijr: 56)
“Tidaklah berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir.”
(Qs. Yusuf: 87)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata:
يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ طَبِيعَةِ الإِنسَانِ، أَنَّهُ جَاهِلٌ ظَالِمٌ بِأَنَّ اللهَ إِذَا أَذَاقَهُ مِنْهُ رَحْمَةً؛ كَالصِّحَّةِ، وَالرِّزْقِ، وَالأَوْلَادِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ، ثُمَّ نَزَعَهَا مِنْهُ، فَإِنَّهُ يَسْتَسْلِمُ لِلْيَأْسِ، وَيَنْقَادُ لِلْقُنُوطِ
“Allah mengabarkan tentang tabiat manusia bahwa ia itu bodoh dan zhalim. Jika Allah memberinya rahmat, seperti: kesehatan, rezeki, anak-anak, dan lainnya, lalu Allah mencabut itu darinya, maka ia akan pasrah dalam keputusasaan dan menyerah dalam keputusasaannya.” (Taisîr al-Karîm ar-Rahmân, karya As-Sa’di)
Di antara dampak buruk lainnya dari putus asa dan berputus harap bahwa merupakan bentuk pendustaan hati terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta merupakan sikap buruk terhadap Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Kaum muslimin rahimakumullah
Putus asa adalah penyakit yang telah menimpa banyak orang, karena berbagai sebab dan latar belakang. Di antara mereka ada yang terjerumus dalam keputusasaan karena jahil terhadap Allah, tidak mengenal luasnya rahmat-Nya, agungnya karunia-Nya, serta keutamaan dan kebaikan-Nya yang melimpah.
Ada pula yang berputus asa karena berlebihan dalam rasa takut. Rasa takutnya menjadi berlebihan hingga membuatnya putus asa dari rahmat Allah, dan berburuk sangka bahwa Allah tidak akan mengampuninya. Padahal batas rasa takut yang benar adalah yang menghalangi seseorang dari berbuat maksiat. Jika rasa takutnya melebihi itu dan menyebabkan putus asa, maka ia tidak lagi bermanfaat, bahkan menjerumuskan ke dalam dosa, karena itu termasuk buruk adab terhadap Allah, yang rahmat-Nya lebih dahulu daripada murka-Nya, Maha Suci Allah.
Ada pula orang yang terjatuh dalam keputusasaan karena bergaul dengan orang-orang yang pesimis, putus asa, dan menyebarkan rasa putus harap.
Bergaul dan duduk bersama mereka, mendengar ucapan-ucapan mereka, tunduk pada perkataan mereka, dan bersandar pada pemikiran mereka adalah penyebab kuat timbulnya rasa putus asa terhadap rahmat Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Di antara manusia ada yang tertimpa putus asa karena kurangnya kesabaran, ketidakmampuannya menahan ujian, dan tergesa-gesa ingin melihat hasilnya. Sesungguhnya kelemahan jiwa dalam menghadapi cobaan, ketidaksanggupan bersabar, serta terburu-buru dalam mengharap kebaikan adalah penyebab utama putus asa, terlebih ketika waktu terasa panjang dan musibah terasa berat.
Ada pula di antara manusia yang tertimpa putus asa dan keputusasaan karena keterikatan kuatnya pada dunia, bersandar padanya, dan terlalu bergembira saat mendapatkannya, maka ketika ia kehilangan sebagian dari dunia seperti kedudukan, kekuasaan, anak, harta, atau kesehatan ia pun bersedih dan menyesal secara berlebihan.
Jama’ah jumat rahimakumullah
Optimisme membawa banyak kebaikan dalam hidup seseorang, apa pun kondisi dan keadaannya. Dengan sikap optimis, hidup terasa lebih segar, semangat meningkat, dan kita menjadi lebih produktif. Optimisme juga membuat seseorang kuat menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan.
Orang yang optimis akan lebih mudah kembali kepada Allah dan meninggalkan dosa. Ia tidak tenggelam dalam penyesalan, tapi bangkit dengan harapan dan semangat baru.
Optimisme juga membuat hati tenang. Seorang mukmin tidak takut kehilangan rezeki, tidak cemas menghadapi kematian, karena ia yakin semua sudah ditentukan oleh Allah, dan Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya.
Sikap ini menumbuhkan prasangka baik kepada Allah. Ia bisa melihat ujian sebagai peluang, dan kesempitan sebagai jalan menuju kelapangan.
Bertawakallah kepada Allah. Gantungkan harapan hanya kepada-Nya. Tanamkan sikap positif dalam hidup. Jadilah pribadi yang menyebarkan harapan dan semangat, bukan yang membuat orang lain putus asa.
Siapa tahu, musibah yang kita alami adalah jalan menuju kebaikan yang belum kita sadari. Seringkali, di balik cobaan, ada rahmat yang besar menanti.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Nabi ﷺ adalah orang yang senantiasa melawan keputusasaan, pesimisme, dan membangun kehidupan dengan menanamkan harapan, tak peduli seberat apa pun keadaan.
Barangsiapa merenungkan sirah Nabi ﷺ, pasti akan menemukan bukti nyata akan hal itu. Ketika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, Quraisy mengirim pasukan untuk menangkapnya, dan mereka telah menghalalkan darahnya. Beliau berada di tengah padang pasir, sementara kematian mengintainya setiap saat.
Tiba-tiba datanglah Suraqah bin Malik, salah satu penunggang kuda terbaik Quraisy, mengejarnya. Namun kaki kuda Suraqah terperosok ke dalam pasir, dan saat itu Rasulullah ﷺ memandangnya, lalu berkata dengan penuh keyakinan dan optimisme:
يَا سُرَاقَةُ، لِمَ تَصْنَعْ هَذَا؟ قَالَ: إِنَّ قُرَيْشًا قَدْ وَعَدُونِي بِكَذَا مِنَ الإِبِلِ، قَالَ: أَوَلَيْسَ لَكَ بِخَيْرٍ مِنْهَا؟ قَالَ: وَمَا هُمَا؟ قَالَ: سِوَارَا كِسْرَى
“Wahai Suraqah, kenapa engkau melakukan ini?” Ia menjawab, “Quraisy menjanjikan kepadaku sekian banyak unta bila berhasil menangkapmu.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Maukah engkau aku janjikan sesuatu yang lebih baik dari itu?” Ia berkata, “Apa itu?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Gelang-gelang kekuasaan Kisra (raja Persia).” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Kisah Nabi ﷺ bersama Suraqah bin Malik menunjukkan betapa beliau adalah sosok yang penuh optimisme dan jauh dari keputusasaan, bahkan di saat genting saat dikejar musuh yang siap membunuhnya. Dalam kondisi tanpa perlindungan dan berada di tengah padang pasir, beliau justru menjanjikan kepada Suraqah bukan keselamatan duniawi semata, tapi gelang kekuasaan Kisra, raja Persi sebuah janji besar yang tampak mustahil kala itu. Keyakinan ini bukan angan-angan, tapi bentuk keimanan mendalam bahwa pertolongan Allah pasti datang. Optimisme seperti inilah yang mampu mengubah ketakutan menjadi kekuatan, dan ujian menjadi awal kejayaan.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang larangan berputus asa, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di Palestina, dan kebaikan untuk pemimpin kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
