Khutbah Jumat
Berkat Rahmat Allah
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah
Marilah kita terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menambah kualitas ketaatan seraya memperbanyaknya dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ.
Kalimat “Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa” bukanlah sekadar rangkaian kata puitis yang menghiasi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Namun sebuah pengakuan mendalam, pernyataan syukur, dan penegasan iman bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukan semata hasil jerih payah manusia, bukan pula kebetulan sejarah, melainkan anugerah agung dari Allah Ta’ala.
Di balik perjuangan para pahlawan, di balik strategi dan diplomasi, ada kekuatan tak terlihat yang mengatur segalanya yakni kehendak Allah yang memuliakan bangsa ini dengan kebebasan dan kemerdekaan dari penjajahan. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا ٱلنَّصۡرُ إِلَّا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَكِيمِ
“Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imran: 126)
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Rahmat Allah berarti kasih sayang dan karunia-Nya yang meliputi segala sesuatu. Dalam konteks kemerdekaan, rahmat ini tampak pada banyak hal, di antaranya:
Pertama: Kekuatan persatuan hati di tengah perbedaan suku, bahasa, dan adat, yang memungkinkan rakyat Indonesia bersatu melawan penjajahan, karena persatuan dan solidaritas adalah kunci kemenangan dan kemerdekaan. Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim, no. 2586)
Kedua: Dihadirkannya para pejuang tangguh yang berani mengorbankan nyawa demi bangsa, tanpa mengharap balasan duniawi.
Ketiga: Kesempatan emas yang terbuka pada momen-momen bersejarah, sehingga kemerdekaan dapat diproklamasikan pada saat yang tepat, di hari Jumat di bulan Ramadan.
Seandainya bukan karena rahmat Allah, mungkin kita akan terus tercerai-berai, terjebak dalam konflik internal, atau tetap terikat dalam belenggu penjajahan.
Kemudian kemerdekaan adalah nikmat sekaligus amanah. Nikmat, karena kita terbebas dari kekangan kekuasaan asing yang menghalangi rakyat untuk mengatur kehidupannya sesuai cita-cita.
Amanah, karena kebebasan ini harus digunakan untuk membangun negeri sesuai nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Kemerdekaan akan lestari dan membawa keberkahan jika kita mensyukurinya, bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan pengelolaan yang baik, kebijakan yang adil, dan perilaku rakyat yang bermoral.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Sebagai mayoritas penduduk Indonesia, umat Islam memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi teladan dalam mengisi kemerdekaan. Hal ini dapat diwujudkan melalui beberapa hal, di antaranya:
Pertama: Menjaga persatuan sesuai prinsip ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.
Kedua: Memajukan pendidikan yang membentuk generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Ketiga: Berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang: ekonomi, kesehatan, teknologi, dan kebudayaan, tanpa meninggalkan nilai-nilai syariat.
Keempat: Menegakkan keadilan dan memberantas segala bentuk penindasan, baik dalam skala kecil maupun besar.
Jama’ah jumat rahimakumullah
Kemerdekaan bisa hilang, bukan hanya karena serangan dari luar, tetapi juga dari dalam, seperti: korupsi yang merusak sendi-sendi keadilan, perpecahan akibat ego kelompok dan kepentingan pribadi, kemerosotan moral yang membuat bangsa kehilangan jati diri, ketergantungan pada pihak asing yang membuat keputusan bangsa tidak lagi independen.
Sejarah telah membuktikan bahwa suatu bangsa bisa jatuh bukan karena kekuatan musuh, tetapi karena kelemahan diri sendiri. Menjaga kemerdekaan berarti menjaga akhlak, persatuan, dan kedaulatan.
Selanjutnya, syukur yang benar atas nikmat kemerdekaan mencakup tiga hal:
Pertama: Syukur dengan hati: menyadari bahwa semua ini berasal dari Allah semata.
Kedua: Syukur dengan lisan: memuji Allah, mendoakan para pejuang, dan menyeru kepada kebaikan.
Ketiga: Syukur dengan perbuatan: menggunakan kemerdekaan untuk menegakkan agama, menebar manfaat, dan menghindari perbuatan yang merugikan bangsa.
Kalimat “Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa” seharusnya tidak hanya dibaca dalam teks konstitusi, tetapi dihayati dalam sanubari setiap warga negara. Setiap langkah kita dalam berbangsa dan bernegara harus diawali dengan kesadaran bahwa tanpa rahmat Allah, kita bukanlah siapa-siapa.
Mari kita rawat kemerdekaan ini dengan iman, ilmu, dan amal, agar Allah senantiasa menambah rahmat-Nya dan melindungi bangsa ini dari segala ancaman.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang berkat rahmat Allah kaitannya dengan kemerdekaan, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di Palestina, dan kebaikan untuk pemimpin kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
