YAJI (04/03/2018). Salah satu tanggung jawab kepala markaz di masjid binaan Yayasan Amal Jariyah Indonesia (YAJI) ialah menjalankan program Madrasatul Qurra’, yaitu program pendidikan al-Qur’an untuk anak-anak, remaja, dan dewasa. Markaz Ummu Ali Al-Andas, Kelurahan Waetuo merupakan salah satu markaz yang paling sukses dalam menjalankan program tersebut. Sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian tersebut, maka Dompet Peduli Masjid (DPM), melalui program PECI USTADZ (Peduli dan Cinta Ustadz) memberikan hadiah berupa satu unit laptop.
Ustadz Arwan, selaku kepala markaz sangat bahagia dan bersyukur atas pemberian hadiah tersebut. Pencapaian ini tentunya tidak lepas dari kerja keras beliau dalam mendidik dan mengajar dengan penuh keikhlasan.
Sejak tahun 2015, beliau sudah memulai karirnya sebagai pengajar al-Qur’an. Menurut pengakuannya, metode yang beliau terapkan memang sedikit berbeda dari Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA) di sekitar lingkungannya bahkan pada umumnya. Tak segan-segan, melalui tim Jariyah Channel (JC) beliau membagikan 5 tips dalam membina anak yang semestinya diterapkan di dunia pendidikan al-Qur’an.
Pertama, beliau senantiasa menekankan kedisiplinan dalam hal tajwid sejak awal pembelajaran. Seorang anak yang belum tepat tajwidnya maka tidak boleh melangkah ke bacaan selanjutnya meskipun sudah bisa membaca dengan lancar.
Kedua, selain memberikan tambahan materi hafalan al-Qur’an bagi peserta didiknya, beliau juga senantiasa memberikan motivasi mengenai keutamaan menghafal al-Qur’an. Ini sangat jarang diterapkan di TPA lainnya.
Ketiga, menampilkan hafalan santri di hadapan orang tuanya dalam acara-acara besar, seperti menghafal al-Qur’an, doa ataupun hadits sebagai bukti kepada orang tua bahwa anaknya memiliki progres yang baik selama belajar. Hal ini juga dapat memotivasi santri lainnya untuk lebih bersemangat lagi dalam menghafal. Menariknya, setelah acara berakhir selalu ada orang tua yang mendaftarkan anaknya.
Keempat, ustadz Arwan tidak menitikberatkan pada promosi dan mengajak orang lain agar mendaftarkan anaknya di Madrasatul Qurra’ Ummu Ali, namun lebih fokus pada pembinaan kualitas santri sehingga baginya biarlah masyarakat yang menilai sendiri.
Kelima, senantiasa mendoakan santri agar ditambahkan ilmunya, dimudahkan dalam menuntut ilmu serta mempelajari al-Qur’an dan yang paling utama ialah agar santri bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain menitipkan 5 tips tersebut, beliau juga memesankan agar tetap mementingkan kualitas dibanding kuantitas dalam mengajarkan ilmu.
“Kalau kita memiliki kualitas, bukan asal sekadar bisa mengaji insya Allah orang akan memilih kita meskipun harus membayar infak bulanan sedangkan di tempat lain tidak berbayar”, ungkapnya dengan nada sungguh-sungguh. (*az)