Khutbah Jumat
Fasih Baca Al-Quran
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah
Marilah kita terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menambah kualitas ketaatan seraya memperbanyaknya dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ
Viralnya kabar bahwa 58,26 persen guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat SD belum fasih membaca Al-Qur’an seharusnya menjadi bahan muhasabah bersama, bukan sekadar bahan polemik. Angka ini menyentak kesadaran kita bahwa persoalan kefasihan membaca Al-Qur’an bukan hanya masalah individu, tetapi persoalan sistemik yang menyangkut pembinaan, perhatian, dan keberlanjutan pembelajaran Al-Qur’an itu sendiri. Padahal, guru agama memiliki posisi strategis sebagai teladan utama bagi generasi awal umat dalam berinteraksi dengan kitab suci.
Meningkatkan kefasihan membaca Al-Qur’an harus dimulai dari kesadaran bahwa membaca Al-Qur’an dengan benar adalah ibadah yang tidak boleh dianggap remeh. Kefasihan bukan berarti suara harus indah atau bernada tinggi, tetapi membaca sesuai makhraj huruf dan kaidah tajwid semampunya. Rasulullah ﷺ sendiri mendorong umatnya untuk terus membaca Al-Qur’an meskipun terbata-bata, karena di dalamnya terdapat pahala dan proses pembelajaran. Kesadaran ini perlu ditanamkan kembali, terutama di kalangan pendidik, agar tidak muncul rasa malu yang berujung pada menjauh dari Al-Qur’an.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Langkah konkret yang perlu didorong adalah pembinaan berkelanjutan, bukan sekadar pelatihan formal sesaat. Program tahsin rutin, halaqah kecil, pendampingan oleh Ustaz Al-Qur’an yang kompeten, serta budaya saling memperbaiki bacaan harus dihidupkan. Lingkungan yang aman dan suportif sangat penting, agar semua siapa saja di kalangan masyarakat tidak merasa dihakimi, tetapi dibimbing.
Selain itu, masyarakat dan lembaga pendidikan perlu mengembalikan posisi Al-Qur’an sebagai kebutuhan utama, bukan pelengkap. Di rumah, di sekolah, dan di masjid, pembiasaan membaca Al-Qur’an dengan benar harus terus dijaga sejak dini. Jika guru, orang tua, dan lingkungan sama-sama bergerak, maka persoalan kefasihan ini tidak hanya berhenti pada angka statistik, tetapi berubah menjadi gerakan perbaikan bersama. Dengan demikian, Al-Qur’an benar-benar hidup dalam lisan, hati, dan perilaku generasi umat ke depan.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Lebih jauh, peningkatan kefasihan membaca Al-Qur’an menuntut perubahan cara pandang terhadap proses belajar itu sendiri. Banyak orang merasa bahwa belajar Al-Qur’an hanya layak bagi anak-anak, sementara orang dewasa, termasuk guru dianggap sudah “terlambat” untuk memperbaiki bacaan. Cara pandang ini keliru. Justru kemuliaan seorang pendidik terletak pada kerendahan hatinya untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Ketika guru berani duduk kembali sebagai murid Al-Qur’an, di situlah nilai keteladanan sejati lahir dan tertanam kuat di hadapan peserta didik.
Di sisi lain, peningkatan kefasihan tidak bisa dilepaskan dari manajemen waktu dan prioritas. Banyak guru PAI terbebani administrasi, tugas tambahan, dan rutinitas yang menyita energi, sehingga waktu untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an semakin sempit. Karena itu, lembaga pendidikan dan pemangku kebijakan perlu memberi ruang yang nyata bukan simbolik untuk pembinaan Al-Qur’an. Menyediakan waktu khusus tahsin dalam jam kerja, memberi penghargaan bagi guru yang konsisten meningkatkan kualitas bacaan, baik guru Agama maupun guru umum, serta menjadikan kemampuan membaca Al-Qur’an sebagai bagian dari pembinaan profesional adalah langkah yang sangat relevan.
Pemanfaatan teknologi juga dapat menjadi sarana efektif dalam meningkatkan kefasihan. Aplikasi tahsin, rekaman murottal para qari yang terpercaya, serta kelas daring dengan pembimbing yang kompeten dapat membantu guru belajar secara mandiri dan berkelanjutan. Namun teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran guru Al-Qur’an secara langsung. Koreksi bacaan, terutama dalam makhraj dan sifat huruf, tetap membutuhkan talaqqi dan bimbingan manusia.
Akhirnya, viralnya data ini semestinya melahirkan empati dan gerakan perbaikan, bukan cemoohan. Setiap huruf Al-Qur’an yang diperjuangkan untuk dibaca dengan benar adalah amal yang besar di sisi Allah. Jika para guru, apapun jurusannya dibantu untuk semakin dekat dan fasih dengan Al-Qur’an, maka dampaknya akan menjalar luas: lahir generasi yang lebih cinta Al-Qur’an, lebih beradab dalam membacanya, dan lebih kuat menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Dari perbaikan bacaan, akan tumbuh perbaikan iman, akhlak, dan peradaban umat secara perlahan namun pasti.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Berangkat dari itu, kita perlu mengembalikan fokus pada perintah Allah untuk membaca Al-Qur’an dengan benar dan tertib. Allah berfirman:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan, jelas).” (QS. Al-Muzzammil: 4).
Ayat ini bukan sekadar anjuran gaya membaca, tetapi arahan agar bacaan itu terjaga hurufnya, jelas makhrajnya, dan tidak tergesa-gesa sehingga mengubah lafaz.
Nabi ﷺ juga menegaskan kemuliaan belajar dan mengajar Al-Qur’an:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari).
Ini sangat relevan untuk guru: semakin ia memperbaiki bacaan, semakin kuat pula bobot keteladanannya. Dan bagi yang masih terbata-bata, Islam tidak mematahkan semangatnya. Nabi ﷺ bersabda
وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ، وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ، لَهُ أَجْرَانِ
“Yang membaca Al-Qur’an dengan susah payah dan terbata-bata mendapat dua pahala.” (HR. Muslim). Jadi, proses memperbaiki bacaan itu sendiri adalah ibadah, bukan aib.
Karena itu, perbaikan kefasihan perlu dipahami sebagai jalan tahsin yang terus-menerus: sedikit demi sedikit, tetapi konsisten. Prinsipnya sederhana: jangan menunggu “sempurna” baru mulai, sebab Allah menilai kesungguhan. Bahkan Allah mengingatkan:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra‘d: 11).
Maka langkah awalnya adalah keberanian untuk mengakui kekurangan, lalu mengambil sebab: talaqqi kepada ahli, rutin muraja’ah, dan membangun kebiasaan membaca harian.
Para ulama tajwid sejak dulu menekankan pentingnya menjaga kaidah bacaan. Di antara ungkapan yang sangat masyhur dari Imam Ibn al-Jazarī:
والأَخْذُ بالتَّجْوِيدِ حَتْمٌ لَازِمٌ
“Mengambil (menerapkan) tajwid itu kewajiban yang mesti.” (dalam Muqaddimah Ibn al-Jazarī). Maksudnya bukan membebani dengan kesempurnaan yang sulit, tetapi menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an tidak boleh sembarangan; ada adab ilmiah yang harus ditempuh sesuai kemampuan, apalagi bagi orang yang mengajar.
Solusi yang paling sehat adalah membangun budaya tahsin yang rahmah: pembinaan rutin untuk guru, halaqah kecil di sekolah/masjid, dan pendampingan oleh pengajar Al-Qur’an yang mumpuni. Bila perlu, buat target yang realistis: memperbaiki makhraj huruf yang paling sering salah, lalu pindah ke hukum nun-sukun/tanwin, mad, dan seterusnya. Dengan cara ini, isu “angka viral” berubah menjadi gerakan perbaikan yang nyata, yang hasilnya bukan hanya fasihnya lisan, tetapi juga hidupnya Al-Qur’an dalam kelas, rumah, dan masyarakat. Wallahu a’lam.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang hal meningkatkan mutu kefasihan baca al-Quran, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di tanah air ini, begitupun di Palestina, Sudan dan negeri lainnya, serta kebaikan untuk pemimpin negeri kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
