Khutbah Jumat
Sya’ban, Jangan Lalaikan
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah
Marilah kita terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menambah kualitas ketaatan seraya memperbanyaknya dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ
Pada hari mulia ini, jumat pertama bulan mulia bulan sya’ban 1447 Hijriah, kita masih diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kesempatan untuk memperbaiki ibadah dan memperbanyak istighfar serta taubat kepada-Nya, sehingga kelak semoga Allah Ta’ala mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah.
Kaum muslimin rahimakumullah
Pada jumat kali ini, izinkan kami membawakan beberapa pelajaran penting seputar bulan Sya’ban:
Pertama: Bulan Sya’ban, bulan yang diapit antara 2 bulan populer, Rajab dan Ramadhan, bulan yang disabdakan oleh Nabi ﷺ sebagai bulan yang banyak dilalaikan manusia, mereka apatis terhadapnya, tidak peduli dan tidak hirau, sedangkan Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling antusias dan semangat beramal di bulan mulia ini, terutama puasa.
عن أُسَامَة بْن زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Dari Usamah bin Zaid dia berkata; Wahai Rasulullah! Aku tidak pernah melihat engkau banyak berpuasa pada bulan bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban? Maka Rasulullah ﷺ menjawab, “Sya’ban adalah bulan yg banyak manusia melalaikannya berada diantara bulan Rajab dan Ramadhan, juga bulan diangkatnya amalan-amalan kepada Allah. Dan aku menyukai jika amalanku diangkat kepada Allah sementara aku dalam keadaan berpuasa” (HR. An-Nasai no. 2357)
Kedua: Disebutkan bahwa Nabi ﷺ berpuasa seakan satu bulan penuh, Ulama menyebutkan bahwa hadits bunda Aiysah radhiyallahu ‘anhaa menjelaskan Nabi ﷺ berpuasa kebanyakan hari pada bulan Sya’ban.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali puasa Ramadan dan aku tidak pernah melihat Beliau paling banyak melaksanakan puasa kecuali di bulan Sya’ban”. (Muttafaqun ‘alaihi, H.R. al-Bukhari 1969 dan Muslim 1156)
Ketiga: Bulan Sya’ban merupakan bulan di mana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaa memilih menqadha puasa Ramadhannya, beliau tidak mendapatkan waktu qadha selain pada bulan Sya’ban karena kesibukan beliau mengurus suaminya tercinta dan termulia Nabi ﷺ.
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ الشُّغْلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari Abu Salamah ia berkata; Saya mendengar Aisyah radhiallahu’anhu berkata, “Aku masih punya utang puasa Ramadan. Tetapi aku belum membayarnya sehingga tiba bulan Syakban, barulah kubayar, berhubungan dengan kesibukanku bersama Rasulullah ﷺ.” (Muttafaqun ‘alaihi, H.R. al-Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146)
Untuk itu, bagi jama’ah yang masih memiliki utang puasa, jangan sampai masuk Ramadhan sedangkan utang puasa belum ditunaikan.
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah
Keempat: Puasa pada bulan Sya’ban ibarat puasa sunnah rawatib qabliyah, sebagai penyempurna puasa wajib Ramadhan jika ada kekurangan, begitu juga puasa di bulan Syawal ibarat puasa sunnah ba’diyah, sebagaimana shalat sunnah rawatib untuk shalat fardhu.
Kelima: Keutamaan puasa di bulan Sya’ban telah disebutkan oleh Nabi ﷺ bahwa Sya’ban bulan diangkatnya amalan-amalan kepada Allah. Dan beliau menyukai jika amalan beliau diangkat sementara beliau dalam keadaan berpuasa.
Keenam: Cukuplah suatu keutamaan meneladani Nabi ﷺ, dan kita tidak termasuk hamba-hamba yang lalai di dalam bulan ini. Waktu-waktu yang dilalaikan kebanyakan manusia adalah waktu yang dimanfaatkan oleh Rasulullah ﷺ, maka beribadah di waktu manusia lalai menjadikan ibadah lebih utama. Contohnya beribadah di bulan Sya’ban, shalat tahajjud di waktu manusia tertidur pulas, shalat duha di waktu manusia sibuk bekerja.
Ketujuh: Keikhlasan lebih bisa terasa, karena kadang seseorang beramal ketika kebanyakan manusia beramal sebab ikut-ikutan saja
Jama’ah Jumat yang berbahagia
Kedelapan: Pahala lebih besar beramal di bulan Sya’ban karena ibadah lebih berat dilakukan dari biasanya sebab jarangnya manusia lain melakukannya sebagai motivasi.
Kesembilan: Para salaf fokus membaca al-Quran, bahkan dikatakan bulan Sya’ban sebagai bulannya Qurroo (para pembaca al-Quran).
وَكَانَ حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ قَالَ: هَذَا شَهْرُ الْقُرَّاءِ
Dan adalah Habib bin Abi Tsabit apabila Sya’ban masuk, beliau mengatakan, “Ini bulannya Qurroo”.
وَكَانَ عَمْرُو بْنُ قَيْسٍ الْمُلَائِيُّ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ أَغْلَقَ حَانُوتَهُ وَتَفَرَّغَ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
Dan adalah Amr bin Qais al-Mulaiy apabila Sya’ban masuk, beliau menutup tokonya dan fokus membaca al-Quran”. (Lathaiful ma’arif)
Kesepuluh: Persiapan di bulan Sya’ban menuju Ramadhan perlu untuk diperhatikan.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,
وَقَدْ قِيلَ فِي صَوْمِ شَعْبَانَ: إِنَّ صِيَامَهُ كَالتَّمْرِينِ عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ لِئَلَّا يَدْخُلَ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ عَلَى مَشَقَّةٍ وَكُلْفَةٍ، بَلْ يَكُونَ قَدْ تَمَرَّنَ عَلَى الصِّيَامِ وَاعْتَادَهُ، وَوَجَدَ بِصِيَامِ شَعْبَانَ قَبْلَهُ حَلَاوَةَ الصِّيَامِ وَلَذَّتَهُ، فَيَدْخُلُ فِي صِيَامِ رَمَضَانَ بِقُوَّةٍ وَنَشَاطٍ
Dan dikatakan seputar puasa Sya’ban bahwa puasanya sebagai latihan sebelum puasa Ramadhan agar ketika puasa Ramadhan tidak berat terasa dan tidak terbebani. Bahkan menjadi suatu kebiasaan dan telah terlatih berpuasa, telah mendapatkan kenikmatan dan kelezatan puasa Sya’ban sebelumnya, sehingga masuk di bulan Ramadhan dalam keadaan kuat dan semangat. (Lathaiful ma’arif)
Di antara persiapannya adalah:
- Belajar seputar Ramadhan, persiapkan ilmu tentangnya dengan membaca buku, mendengar ceramah audio maupun video, dan bertanya kepada ulama.
- Melatih diri dari sekarang beramal amalan Ramadhan, seperti:
– Perbanyak puasa agar terasa mudah nantinya puasa Ramadhan. Bagi yang memiliki utang puasa, silakan diqadha, dan yang telah lunas atau tidak punya utang puasa, maka silakan perbanyak puasa sunnah.
– Menjaga shalat sunnah, tidak meninggalkan shalat sunnah rawatib, tahajjud, witir, dhuha, dan shalat sunnah lainnya, agar terasa mudah melakukan shalat sunnah khususnya shalat tarawih atau shalat malam di bulan Ramadhan.
– Selalu berinteraksi dengan al-Quran, dengan membaca ayat, terjemahan, dan tafsirnya, serta mentadabburinya, agar di bulan Ramadhan bisa mengkhatamkan lebih dari sekali khataman, dan lebih memahami kandungan al-Quran yang dibaca. Latihan rutin bersedekah, agar di bulan yang dilipatgandakan pahala sedekah kita terbiasa mengeluarkan sedekah secara berkesinambungan.
– Dan amalan lainnya
Allah Ta’ala berfirman,
وَفِي ذَٰلِكَ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَٰفِسُونَ
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba” [Qs. Al-Muthaffifin: 26]
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang Sya’ban, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di tanah air ini, begitupun di Palestina, Sudan dan negeri lainnya, serta kebaikan untuk pemimpin negeri kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
