KHUTBAH ‘IDUL FITRI 1441 H
Pelajaran dari Ramadhan Menghadapi Pandemi COVID-19
Oleh : Ust. H. Ardian Kamal, M.Sc Hafizhahullah
اللهُ أَكبَرُ اللهُ أَكبَرُ، لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكبَرُ، اللهُ أَكبَرُ وَللهِ الحَمدُ.
الحَمدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا لِلإِيمَانِ، وَمَنَّ عَلَينَا بِإِدرَاكِ شَهرِ رَمَضَانَ، وَوَفَّقَنَا فِيهِ لِلطَّاعَةِ وَالبِرِّ وَالإِحسَانِ، أَعَانَنَا عَلَى الصَّلاةِ فِيهِ وَالصِّيَامِ، وَيَسَّرَ لَنَا خَتمَ القُرآنِ وَالقِيَامَ، وَأَفَاضَ أَلسِنَتَنَا بِالدُّعَاءِ وَالذِّكرِ، فَلَهُ تَعَالى أَتَمُّ الحَمدِ وَأَوفَى الشُّكرِ،
أَشهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً أَرجُو بِهَا النَّجَاةَ يَومَ النُّشُورِ، وَأُعِدُّهَا لِيَومٍ تُبَعثَرُ فِيهِ القُبُورُ، وَيُحَصَّلُ مَا في القُلُوبِ وَالصُّدُورِ،
وَأَشهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبدُاللهِ وَرَسُولُهُ، وَصَفِيُّهُ مِن خَلقِهِ وَخَلِيلُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الأَمَانَةَ وَنَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَجَاهَدَ في اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى كَشَفَ اللهُ بِهِ الغُمَّةَ،
صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ الغُرِّ المَيَامِينَ، وَمَن سَارَ عَلَى سُنَّتِهِ وَاهتَدَى بِهَديِهِ إِلى يَومِ الدِّينِ.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar ,wa lillaahil hamd
Gema Takbir membahana diseluruh penjuru dunia, di kota maupun di desa, penuh syukur dan haru memasuki hari yang mulia, hari raya Idul fitri, hari raya kaum muslimin, hari kemenangan atas perjuangan melawan hawa nafsu , hari syukur atas taufiq dan karunia Allah subehanahu wata’ala atas segala ketaatan di bulan suci.
Kita bertakbir mengagungkan Allah sebagai wujud syukur yang dengan nikmatnya sempurnalah kebaikan , Allah subehanahu wata’ala berfirman :
وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(Q.S. Al Baqarah:185)
Hari ini, hari dimana wajah-wajah orang beriman memancarkan kegembiraan dan suka cita, bukan karena perginya bulan ramadhan namun atas kewajiban yang telah ditunaikan, amalan yang telah ditegakkan, dan ampunan yang diberikan.
قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Q.S. Yunus: 58)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar ,wa lillaahil hamd
Ma’aasyiral muslimin yang semoga dirahmati Allah Subehanahu wata’ala
Ibadah Ramadhan memberi banyak pelajaran berharga ditengah situasi pandemi COVID-19 yang melanda negeri kita ini.
Pelajaran pertama bahwa kesulitan, ujian dunia bagi orang beriman hanyalah sementara, pasti akan berlalu. Dan beruntunglah bagi mereka yang melewati kesulitan dan ujian tersebut dengan ketaatan.
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Telah hilang dahaga dan telah basah tenggorokan, dan telah tetap pahala Insya Allah”. (H.R. Abu Daud. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani).
Begitupula dengan wabah corona ini, merupakan suat ujian bagi kita semua dan akan berlalu insya Allah. Namun, yang akan beruntung adalah mereka dengan penuh kedisiplinan melaksanakan aturan pencegahan; menggunakan masker, menjaga jarak, rajin mencuci tangan pakai sabun. Mulai hari ini, kita harus siap menjadikannya sebagai budaya baru dalam keseharian kita, selama belum ditemukannya obat dan vaksin corona. Semoga Allah Subehanahu wata’ala segera mengangkat wabah ini.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar ,wa lillaahil hamd
Ma’aasyiral muslimin yang semoga dirahmati Allah Subehanahu wata’ala
Pelajaran kedua bahwa Ibadah puasa adalah ketetapan dari Allah Subehanahu wata’ala atas hambanya yang beriman.
Sudah seharusnya kita menjalaninya dengan penuh ketundukan disertai keikhlasan sebagai hamba Allah subehanahu wata’ala, tanpa mengeluh dan berputus asa. Allah Subehanahu wata’ala berfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, telah ditetapkan bagi kalian kewajiban berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. (Q.S. Al Baqarah: 183)
Demikian halnya dengan virus corona yang menimpa bangsa ini, juga merupakan ketetapan Allah Subehanahu wata’ala yang harus disikapi dengan benar dan ikhlas. Allah Subehanahu wata’ala berfirman :
قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ
Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. ( Q.S. At Taubah : 51)
Maka tidak akan diangkat musibah ini jika kita abai mengikuti apa yang telah ditunjukkan oleh wahyu, bagaimana penanggulangannya berdasarkan Al qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama. Diantara yang perlu kita lakukan adalah
- Bertaubat dan beristihgfar Kepada Allah subehanahu wata’ala
وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ
Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. (Q.S. An Nisa : 79)
Setiap musibah yang menimpa suatu negeri adalah dari kesalahan penduduk negeri tersebut, begitu juga musibah yang menimpa diri kita, disebabkan kesalahan kita sendiri. Segala bentuk kemaksiatan menjadi merupakan sebab utama turunnya bencana dan malapetaka, sudah seharusnya kaum muslimin beserta para pemimpin negeri bersatu padu untuk melakukan pelarangan atas segala bentuk dosa dan maksiat kepada Allah subehanahu wata’ala; Narkoba, Perzinahan , hubungan sesama jenis, Korupsi, Pembunuhan, Riba dll.
Mari kita memohon ampun kepada Allah subehanahu wata’ala agar kita terhindar dari musibah ini.
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (Q.S. Al Anfal: 33).
Tolak bala’ yang paling penting adalah memohon ampunan kepada Allah atas dosa dan segala kesalahan. Sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu ‘anhu: “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Dan tidaklah musibah tersebut diangkat melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)
- Melakukan karantina wilayah dengan tidak membiarkan orang keluar masuk suatu wilayah tanpa aturan yang ketat.
Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah di suatu negeri/daerah, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kelian meninggalkan tempat itu,” (H.R. Bukhari dan Muslim).
- Mengikuti arahan Ulama dan Umara/pemerintah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (Q.S. An-Nisa: 59)
“Dijelaskan dalam Tafsir As sa’di bahwa yang disebut Umara adalah Pemimpin dan Ulama kaum muslimin”. Jika mereka meminta masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan dan tidak berkerumun maka mestinya kita taat, selama yang diperintahkan tidak bertentangan dengan Al qur’an dan Sunnah. Sebab ketidaktaatan kepada umara bisa menimbulkan bencana bagi diri kita dan oran lain.
وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (Q.S. Asy Syura:30)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar ,wa lillahil hamd
Ma’aasyiral muslimin yang semoga dirahmati Allah Subehanahu wata’ala
Pelajaran ketiga dalam ibadah Ramadhan adalah pola hidup sehat, membiasakan diri untuk shalat malam terutama di sepertiga malam terakhir. Berdasarkan informasi medis bahwa hal ini bisa menormalkan hormon kortisol, yang berdampak pada meningkatnya imunitas tubuh seseorang, sehingga tidak mudah terpapar penyakit. Semoga kebiasaan ini bisa terus kita lanjutkan. Allah subehanahu wata’ala berfirman :
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ
Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabb-nya?… .(Q.S. Az-Zumar: 9).
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar ,wa lillahil hamd
Ma’aasyiral muslimin yang semoga dirahmati Allah subhanahu wata’ala
Pelajaran keempat dalam Ibadah Ramadhan untuk menghadapi dampak COVID 19 ini adalah dengan berbagi. Untuk mencapai derajat taqwa, tidak cukup dengan ibadah pribadi saja seperti shalat, puasa, baca Al qur’an dan lainnya. Namun, kita diperintahkan untuk berzakat fitrah yang merupakan ibadah sosial saling berbagi sebagai bagian yang tidak terpisahkan untuk mencapai derajat taqwa tersebut.
وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-baqarah :110)
Umat islam dituntut untuk memperhatikan orang-orang disekitarnya yang tidak mampu, berbagi dengan mereka apalagi dalam situasi seperti sekarang ini, dimana banyak masyarakat terdampak pencegahan, sehingga sulit mencukupi kebutuhannya. Islam mengajarkan kita untuk memberi manfaat seluas luasnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (H.R. Ahmad, Ath-Thabrani, Ad-Daruqutni. dihasankan oleh Syekh Al-Albani).
Mari menjadi pribadi taqwa dengan saling membantu, minimal jangan ada tetangga disekitar kita yang kelaparan, sedangkan kita memiliki kemampuan untuk membantunya. Semoga Allah Subehanahu wata’ala senantiasa mencurahkan rahmatnya kepada kita semua, karena masih saling membantu dan berkasih sayang.
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
وَأَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ؛ يُحْمَدُ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ، وَفِي الْعَافِيَةِ وَالْبَلَاءِ، وَفِي الْأَفْرَاحِ وَالْأَحْزَانِ، وَلَا يُحْمَدُ فِي كُلِّ حَالٍ سِوَاهُ، نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيرًا، وَنَشْكُرُهُ شُكْرًا مَزِيدًا؛ أَفَاضَ عَلَيْنَا النِّعَمَ، وَرَفَعَ عَنَّا النِّقَمَ، وَأَمَرَنَا بِصِيَامِ شَهْرِنَا، وَشَرَعَ لَنَا الْفَرَحَ بِعِيدِنَا
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ:
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar ,wa lillahil hamd
Ma’aasyiral muslimin yang semoga dirahmati Allah subhanahu wata’ala
Di hari yang berbahagia ini kami mengingatkan pada diri kami dan kepada jama’ah sekalian untuk terus mempertahankan amal kebaikan yang biasa kita kerjakan di bulan Ramadhan pada bulan bulan lainnya.
Dan diantara tanda keberhasilan Ramadhan kita adalah saat diri ini mampu menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan dengan keadaan kita sebelum ramadhan.
Kami juga mengingatkan suatu Sunnah yang mulia di bulan syawwal ini yaitu berpuasa Sunnah 6 hari meskipun tidak berurut, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (H.R. Muslim)
Mari kita berdoa kepada Allah Subehanahu wata’ala dengan penuh keyakinan dan ketulusan
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ،
اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِينَ وَٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ