Perlawanan rakyat Palestina yang dipelopori oleh pejuang Palestina dalam gerakan Fedayan (berasal dari kata Fida yang berarti pengorbanan) yang terkenal antara lain: Al Fatah, Al Saiqoh dan PFLP (Popular Front of Liberation of Palestine) yang kemudian membentuk organisasi Palestina PLO (Palestine Liberation Organization). Pada tahun 1969, PLO dengan pimpinan Yasser Arafat bangkit berjuang untuk merebut kembali Yerusalem dari cengkraman Israel dengan jalan diplomasi dengan dibantu Negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI (Organisasi Konferensi Islam).
Perjalanan Palestina penuh hambatan untuk menjadi negara merdeka. Adapun hambatan tersebut selain berasal dari dalam organisasi pejuang Palestina itu sendiri, juga berasal dari sikap pemerintahan Israel yang belum bersedia menyerahkan Yerusalem kepada bangsa Palestina. Menurut orang Palestina, Palestina tanpa Yerusalem tidak ada artinya. Demikian juga menurut orang Israel bahwa Yerusalem adalah milik orang Yahudi karena di Yerusalem terdapat Dinding Ratapan. Langkah perdamaian sudah dilakukan di Timur Tengah namun masih banyak hambatan. Dengan adanya hambatan tersebut negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah bersatu mendukung untuk mewujudkan Negara Palestina merdeka.
Tahun 1967 Yerusalem secara praktis dikuasai oleh Israel dan memindahkan pusat pemerintahanya dari Tel Aviv ke Yerusalem. Sejak tahun 1980 kota Yerusalem dibagi menjadi dua bagian yakni Yerusalem Timur (tempat beradanya Masjidil Aqsha) dan Yerusalem Barat. Keduanya hanya dibatasi oleh jalan besar yang membelah arah utara dan selatan kota itu.
Sebagaimana diketahui bahwa “Balfour Declaration” 2 November 1917, pihak Inggris telah menjanjikan sesuatu “perumahan nasional” bagi orang-orang Yahudi yang tinggal di Palestina dan di bawah mandate Inggris. Banyak orang-orang Yahudi yang semula bertebaran di seluruh dunia kemudian secara besar-besaran berimigrasi ke Palestina. Inggris ternyata banyak memberikan kesempatan kepada orang-orang Yahudi untuk merealisir tidak saja sebagai “perumahan” tetapi bahkan suatu “Negara Israel” sesuai cita-cita gerakan zionisme internasional. Dengan demikian orang-orang Arab Palestina bukan saja dianaktirikan tetapi bahkan merasa hak-hak mereka atas Palestina semakin terancam. Karena itulah mereka mulai membentuk organisasi guna mempertahankan hak dan tanah air mereka. Sejak itu, merupakan permulaan bangkitnya gerakan Fedayen.
Nama Fedayen berasal dari kata “fida” yang berarti “pengorbanan”. Pengertian pengorbanan di sini dimaksudkan sebagai usaha merebut kembali Palestina dengan mengorbankan jiwa raganya. Jadi tugas Fedayen dapat diartikan sebagai gerakan perjuangan pembebasan Palestina. Adapun geraka Fedayen yang terkenal ada tiga yaitu :
- Al-Fatah
Al-Fatah merupakan singkatan dari Fa-Lastina, Ta-Hya, H-Urrah, yang artinya “Palestina hidup merdeka”. Organisasi Al-Fatah ini pada awalnya didirikan di Kuwait pada tahun 1958. Organisasi tersebut dipimpin oleh Yasser Arafat. Al-Fatah telah mempunyai cabang-cabangnya berupa kesatuan-kesatuan militer dengan nama Al-Asifa dan Khail Ibn Walid yang merupakan tulang punggung gerakan Fedayen. Di samping memiliki 60% dari seluruh pendukung Fedayen, Al-Fatah juga paling banyak dan paling kuat unsur Islamnya. Anggota Al-Fatah terdiri dari berbagai kalangan, antara lain dari mahasiswa, palajar, dokter, insinyur, intelektual dan sebagainya.
Dalam perkembangan selanjutnya, gerakan Fedayen yang didukung oleh organisasi Al-Fatah ini maju pesat dan dapat merubah perimbangan kekuatan yang harus diperhitungkan. Organisasi Al-Fatah yang dasar pejuangnya adalah al-Qur’an dan Hadist mempunyai cabang-cabang di seluruh Negara Arab dan mempunyai perwakilan-perwakilan di luar negeri antara lain di Malaysia, India dan Pakistan. Organisasi ini selain mendapat bantuan finansial dari berbagai Negara Arab juga dapat sumbangan dana dari orang-orang Palestina yang bekerja di luar negeri dengan menyisihkan 10% dari gajinya. Al-Fatah juga memiliki pemancar-pemancar radio khusus, misalnya di Kairo dengna nama “Voice of Al-Fatah”.
- Al-Saiqoh
Al-Saiqoh ini merupakan organisasi pendukung gerakan Fedayen, yang didirikan di Negara Syria oleh Partai Bath pada tahun 1968. Anggota organisasi Al-Saiqoh ini terdiri dari orang-orang Palestina berumur 16 tahun ke atas, di samping para pemuda dari berbagai Negara Arab antara lain Irak, Yordania, Syria, dan lainnya.
- PFLP (Popular Front for the Liberation of Palestina)
Organisasi ini didirikan pada bulan Oktober 1967 oleh Dr. George Habah yang beragama Kristen. Dasar perjuangan organisasi ini adalah MarxisLeninis dengan tujuan menegakkan kewibawaan Arab di daerah Palestina yang diduduki Israel. Untuk mencapai tujuannya, kelompok Fedayen ini mempergunakan cara-cara perjuangan yang sangat radikal yang dapat disimpulkan dengan kata-kata “pukul Israel dan kepentingan imperealis di manapun mereka berada” yang dimaksud imperealis menurut PFLP adalah Negara Amerika Serikat dan Negara-negara lain yang mendukung Israel.
Diantara ketiga organisasi pendukung gerakan Fedayen yang terkenal tersebut, maka organisasi Al-Fatah adalah yang terbesar dan terkuat, disusul Al-Saiqoh, baru kemudian PFLP. Pada tahun 1964 diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Arab di Kairo dengan tujuan untuk mengembalikan identitas dan status orang-orang Palestina waktu itu diputuskan untuk membentuk organisasi Palestina dengan angkatan perangnya. Dalam tahun itu juga diselenggarakan Kongres pertama orangorang Palestina bertempat di Yerusalem. Kongres berhasil mendirikan “Palestina Liberation Organization (PLO)” yang mempunyai dua badan yaitu dewan nasional dan badan eksekutif. Pada kongres ini juga diputuskan untuk membentuk angkatan perang yang diberi nama “Palestina Liberation Army (PLA)”. Pada waktu itu Yasser Arafat mulai tenar namanya dan dikenal anggota PLO. Kemudian pada waktu sidang dewan nasional pada bulan Februari 1969 Yasser Arafat terpilih sebagai ketua eksekutif PLO di samping masih tetap memegang pimpinan gerakan pembebasan nasional Palestina AlFatah.
Bangsa Palestina kini dapat dikatakan telah mempunyai satu pemerintahan, minimal telah terbentuk suatu pemerintahan di pengasingan.Namun hal tersebut tidak berarti tujuan untuk menjadi sebuah Negara Palestina merdeka tercapai. Dalam mencapai tujuan Negara Palestina merdeka masih membutuhkan perjuangan berat, walaupun pada tanggal 15 November 1988 di Aljazair telah diumumkan pembentukan Negara Palestina merdeka, tetapi bangsa Palestina tetap belum dapat diangkat statusnya sebagai bangsa merdeka. Daerah-daerah yang selama ini dinyatakan sebagai wilayah bangsa Palestina masih dalam penguasaan Israel, sehingga bangsa Palestina dengan PLO sebagai wadah bagi perjuangan Palestina merdeka masih harus bekerja
keras merebut wilayah Palestina dari bangsa Israel. Sejak tahun 1967 daerah yang disebut Tepi Barat Sungai Yordan dan daerah sepanjang Jalur Gaza telah dikuasai Israel, sedangkan pada saat itu daerah tepi barat masih dalam kekuasaan Yordania.
Setelah Yordania menyatakan untuk menyerahkan wilayah tepi barat kepada Palestina, ketika itu Israel berusaha menghalang-halangi dan berusaha mengusai wilayah itu secara penuh. Atas tindakan Israel seperti itu, bagi PLO dan Palestina lainnya, berat untuk menjadikan Jalur Gaza dan Tepi Barat Sungai Yordan sebagai suatu kesatuan untuk berdirinya Negara Palestina merdeka.
Untuk mewujudkan pemerintahan Palestina merdeka, bangsa Palestina memanfaatkan PLO sebagai wadah bagi para pejuang Palestina untuk melawan Israel. Organisasi pembebasan Palestina (PLO) oleh rakyat Palestina telah diakui sebagai satu-satunya organisasi sah untuk memerintah serta menguasai atas keberadaan orang-orang Palestina. Sesuai dengan namanya, PLO memperjuangkan Palestina merdeka dari kekuasaan Israel, serta memperjuangkan berdirinya Negara Palestina yang demokratis, yang memberikan kedudukan yang sama kepada semua penduduknya tanpa membedakan ras atau agama.
PLO adalah suatu organisasi induk yang mencakup hampir semua organisasi gerilya Palestina dan organisasi massal yang diakui juga oleh forum internasional atas prakarsa Amerika Serikat. Pada tanggal 13 September 1993 di Gedung Putih Amerika Serikat telah diselenggarakan pertemuan perdamaian antara Israel dan Palestina. Hasil keputusan dalam pertemuan tersebut secara resmi pihak Palestina mendapatkan hak otonomi atas wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Juga diputuskan bahwa satuan militer Israel secara bertahap harus ditarik mundur dari sejumlah tempat di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Pemerintahan otonomi Palestina dapat dikatakan belum berdaulat penuh, karena wilayah Palestina masih berada dalam pendudukan Israel. Sementara pemerintahan Israel akan mengembalikan wilayah pendudukan tersebut kepada Palestina secara bertahap.
Referensi: Andria Tri Etmaja, Arti Penting Kota Yerusalem bagi Umat Islam, Yogyakarta: UIN SUKA, 2008 (Skripsi)