Khutbah Jumat
Belajar Dari Surah Al-Falaq
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِینِ ٱلۡحَقِّ لِیُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّینِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah
Surah an-Falaq adalah surah yang agung, surah yang berada pada urutan 113 dalam al-Quran. Apa rahasia, apa pelajaran, apa faidah yang bisa kita petik dari surah yang mulia ini, surah yang memiliki 5 ayat ini?
Jama’ah kaum muslimin rahimakumullah
Mari kita mulai,
أَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّیۡطَـٰنِ ٱلرَّجِیمِ
Aku berlindung kepada Allah Ta’ala dari godaan setan yang terkutuk
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ
- Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
- dari kejahatan makhluk-Nya,
وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
- dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ
- dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
- dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.
Berikut beberapa pelajaran penting dari surah mulia ini:
1/ Pertama: Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perintah ini juga berlaku untuk ummatnya agar berlindung kepada Allah Ta’ala yang Maha Melindungi hamba-hamba-Nya, yang Maha Menjaga mereka dari segala apa yang bisa membahayakan.
2/ Kedua: Termasuk di antara sifat Allah Ta’ala adalah Rabbil falaq, yaitu Rabb yang Maha Menguasai dan yang Maha Memiliki falaq. Apa itu al-Falaq? Di dalam buku-buku tafsir, termasuk al-Mukhtashar fi at-Tafsir dan at-Tafsir al-Muyassar bahwa maksudnya adalah waktu subuh. Sedangkan dalam tafsir as-Sa’di dijelaskan bahwa maksudnya adalah apa yang terdapat dalam surah al-An’am ayat 95 dan 96
أي: فالق الحب والنوى، وفالق الإصباح
Allah yang menumbuhkan butir dan biji, dan menyingsingkan pagi.
Allah Ta’ala berfirman,
فَالِقُ ٱلۡحَبِّ وَٱلنَّوَىٰۖ يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَمُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتِ مِنَ ٱلۡحَيِّۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ
Sungguh, Allah yang menumbuhkan butir (padi-padian) dan biji (kurma). Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Itulah (kekuasaan) Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (Q.S. Al-An’am, Ayat 95)
فَالِقُ ٱلۡإِصۡبَاحِ وَجَعَلَ ٱلَّيۡلَ سَكَنٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ حُسۡبَانٗاۚ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ
Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. (Q.S Al-An’am, Ayat 96)
3/ Ketiga: Dengan meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala, mengantarkan kepada sikap optimisme bahwa setelah adanya kegelapan malam datanglah subuh sebagai pembelah malam, sebagai awal cahaya untuk mengingatkan kita bahwa kegelapan malam itu tidaklah selama-lamanya, Begitupun Allah yang Maha menumbuhkan butir dan biji-bijian yang kita tanam.
4/ Keempat: Kita berlindung kepada Allah yang Maha Menguasai Subuh dari apa? Lanjutan ayat-Nya menyebutkan “min syarri maa khalaq” dari kejahatan makhluk yang Allah Maha Menciptakannya. Perlu diperhatikan bahwa saat kita membaca ayat ini, yang semestinya terbenak pertama kali di pikiran kita adalah berlindung dari kejahatan diri kita sendiri karena kita juga termasuk makhluq Allah Ta’ala, sebelum kejahatan makhluq lainnya, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ
Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku, kejahatan setan dan sekutunya.”
(H.R. Abu Dawud 5067)
وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا
“Dan kita berlindung kepada Allah dari segala kejahatan diri-diri kita” (H.R. an-Nasai 3277)
Makhluk yang dimaksudkan adalah semua makhluq ciptaan Allah yang memiliki kejahatan dan keburukan, baik makhluq hidup maupun makhluq tak bernyawa seperti halnya racun sebagaimana yang disebutkan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam tafsir beliau.
Kaum muslimin rahimakumullah
5/ Kelima: Wamin syarri ghãsiqin idzã waqaba, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari segala kejahatan yang ada pada malam hari, dan memang biasanya kejahatan dan keburukan terjadi di saat orang-orang sedang beristirahat, baik itu para pencuri yang beraksi pada waktu malam, para penyihir menghembuskan sihirnya, hewan-hewan mengganggu yang biasanya kita tidak bisa melihatnya secara langsung di malam hari, dan maupun kejahatan makhluq lainnya.
Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,
يَسۡتَخۡفُونَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَلَا يَسۡتَخۡفُونَ مِنَ ٱللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمۡ إِذۡ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرۡضَىٰ مِنَ ٱلۡقَوۡلِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطًا
mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridhai-Nya. Dan Allah Maha Meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan. (Q.S. An-Nisa’, Ayat 108)
Adapun orang-orang beriman mereka beristirahat sejenak, sedikit tidur mereka, namun tidak begadang dengan kesia-siaan, mereka menghidupkan malam-malamnya dalam beribadah kepada Allah Ta’ala,
كَانُواْ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ * وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ
mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). (Q.S. Adz-Dzariyat, Ayat 18)
6/ Keenam: waminsyarrin naffatsati fil ‘uqad, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, disebutkan dalam tafsir al-Wajiz oleh Syaikh Wahbah az-Zuhaili dan tafsir Syaikh Shalih al-Fauzan bahwa yang kebanyakan menjadi penyihir adalah para wanita, meskipun kita juga berlindung kepada Allah Ta’ala dari semua penyihir.
7/ Ketujuh: Mereka para penyihir melakukan itu dengan mengikat mantra-mantra pada tali kemudian meniupnya dengan bantuan setan, dengan hembusan jahat, dari sihir itulah timbul penyakit dan berbagai keburukan dan kejahatan yang menimpa objeknya bagi yang Allah Ta’ala kehendaki.
8/ Kedelapan: Wamin syarri hãsidin idzã hasada, dan dari kejahatan pendengki apabila ia dengki. Syaikh as-Sa’di dalam tafsir ayat ini menjelaskan bahwa maksud dari orang yang hasad adalah
هو الذي يحب زوال النعمة عن المحسود فيسعى في زوالها بما يقدر عليه من الأسباب
“Orang yang suka apabila kenikmatan yang didapatkan oleh orang yang dihasadi itu hilang, maka dia berusaha agar nikmat itu hilang dengan melakukan berbagai macam sebab.” (Tafsir as-Sa’di)
9/ Kesembilan: Hubungan antara sihir dan hasad sangat erat, orang-orang yang melakukan sihir, atau meminta bantuan kepada penyihir biasanya karena adanya hasad yang timbul dari dalam diri mereka, sehingga menginginkan kenikmatan yang didapatkan oleh orang dihasadi itu hilang, dan bahkan berharap dialah yang mendapatkannya, bahkan pula jika dia mendapatkan kecelakaan atau kebinasaan, dia mau jika orang lainpun ikut yang dia rasakan dari kesengsaraan dan kehinaan. Wal’ iyadzubillah
10/ Terakhir: Jangan pernah lupa untuk senantiasa berlindung kepada Allah Ta’ala dari segala keburukan, jika kita mengandalkan diri kita sendiri, maka kita adalah makhluq yang lemah, dan berarti kita telah menyombongkan diri di hadapan Allah Ta’ala Yang Maha Melindungi hamba-hamba-Nya. Kita baca surah ini sebelum tidur, setelah shalat fardhu, pada saat zikir pagi dan petang, dan di waktu lainnya.
Wallahu a’lam
Jamaah Jumat yang berbahagia
Demikian khutbah pertama, semoga Allah Ta’ala menjadikan kita hamba-hambaNya yang senantiasa berada dalam kebaikan
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ وَغَافِرَ الذُّنُوْبِ وَالْخَطِيْئَاتِ
رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ
رَبَّنَا اَتِنَافىِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفىِ الاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ
إِنَّ ٱللَّهَ یَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَـٰنِ وَإِیتَاۤىِٕ ذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ وَیَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَاۤءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡیِۚ یَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia