Khutbah Jumat
Bulan Kemerdekaan
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah
Marilah kita terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menambah kualitas ketaatan seraya memperbanyaknya dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ
Bulan ini, bangsa Indonesia kembali memperingati hari kemerdekaannya.
Semarak perayaannya telah terasa jauh hari sebelumnya. Spanduk, bendera, umbul-umbul, dan baliho bertuliskan “Dirgahayu Kemerdekaan” menghiasi sudut-sudut jalan, mengibarkan semangat patriotisme dan cinta tanah air. Setiap langkah di bumi pertiwi seakan mengingatkan kita akan hari bersejarah itu.
Jika kita menengok kembali lembaran sejarah, pada hari Jum’at, 9 Ramadhan 1364 H, Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Hari itu bukanlah hari biasa. Ia terjadi di bulan yang paling suci, dan pada hari yang paling agung dalam sepekan. Betapa besar nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada negeri ini, kemerdekaan yang lahir di tengah keberkahan Ramadhan.
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Namun, hakikat kemerdekaan dalam Islam bukan semata bebas dari penjajahan fisik atau kolonialisme. Kemerdekaan sejati adalah ketika seorang hamba bebas untuk menyembah Allah semata, tanpa terjajah oleh syirik, maksiat, gemerlap dunia, atau lalai dari tujuan hidup. Betapa banyak yang tampak merdeka, namun jiwanya masih terbelenggu. Karena itu, mari kita jadikan momentum kemerdekaan ini untuk memerdekakan hati, membersihkan jiwa, dan mengembalikannya kepada Sang Pencipta, hanya dengan itulah kemerdekaan menjadi hakiki dan penuh berkah.
Maksud dan tujuan utama hidup manusia adalah agar ia benar-benar merdeka dalam ibadah kepada Rabb-nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Kaum muslimin rahimakumullah
Makna kemerdekaan dalam Islam tidak berhenti pada lepasnya suatu negeri dari cengkeraman penjajah. Yang lebih mendasar dari itu adalah terbebasnya jiwa dari segala bentuk perbudakan selain kepada Allah Ta’ala. Perbudakan yang terkadang tidak kasat mata, namun mencengkeram ruh dan akal manusia.
Berikut ini beberapa bentuk penjajahan yang masih melanda sebagian umat, dan kemerdekaan yang semestinya diperjuangkan dalam Islam:
Pertama: Di Bidang Aqidah
Penjajahan dalam bidang aqidah terjadi ketika manusia diperdaya oleh kesyirikan, bid’ah, dan pemikiran yang sesat. Tak sedikit di antara umat ini yang terjerumus dalam penyembahan kepada berhala, dukun, kekuatan gaib, atau pengkultusan tokoh-tokoh tertentu.
Mereka menyekutukan Allah dalam ibadah, dalam doa, bahkan dalam keyakinan. Kemerdekaan sejati di sini adalah ketika seorang hamba hanya tunduk dan menyembah kepada Allah semata, menolak segala bentuk sekutu dan menapaki jalan tauhid sebagaimana diajarkan oleh para nabi dan rasul ‘alaihimussalam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata, ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” (QS. Az-Zumar: 3)
Dalam ayat yang agung ini, Allah Ta’ala mengungkapkan alasan keliru yang dipegang oleh para penyembah selain-Nya. Mereka menyangka bahwa para wali, berhala, atau makhluk-makhluk yang mereka agungkan bisa menjadi perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka tidak menolak keberadaan Allah, namun justru menyembah makhluk sebagai jalan pintas menuju-Nya.
Padahal, semua itu adalah bentuk kesyirikan yang nyata. Mereka terjajah oleh keyakinan yang menyesatkan, yang sejatinya menutup jalan mereka kepada Allah, bukan mendekatkan.
Mereka menggantungkan harap kepada yang tidak memiliki daya, tidak mampu memberi manfaat, tidak pula menolak mudarat.
Inilah bentuk penjajahan paling halus namun paling berbahaya: tatkala hati seorang hamba tidak lagi bergantung kepada Rabb-nya, melainkan kepada selain-Nya. Kemerdekaan sejati adalah ketika hati terbebas dari segala bentuk ketergantungan kepada makhluk, dan hanya bergantung kepada Allah semata yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang Maha Mendengar setiap doa dan permohonan.
Kedua: Di Bidang Akhlak
Penjajahan dalam bidang akhlak terjadi ketika seseorang terbelenggu oleh hawa nafsu, melakukan segala sesuatu sesuka hati tanpa peduli pada batasan syariat. Hidupnya tidak lagi dipandu oleh wahyu, tetapi oleh keinginan duniawi yang liar dan tak terkendali.
Tidak mengherankan jika kita menyaksikan kedurhakaan anak kepada orang tuanya kian merajalela, dan sebaliknya, banyak pula orang tua yang mengabaikan bahkan menyakiti anak-anak mereka, hingga ada yang tega membunuh anaknya karena takut tidak mampu menafkahinya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita:
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sungguh, membunuh mereka adalah suatu kesalahan yang besar.” (QS. Al-Isra’: 31)
Inilah bentuk nyata dari penjajahan akhlak: saat belas kasih digantikan kekerasan, saat nafsu mengalahkan nurani, dan saat manusia lupa bahwa akhlak adalah cermin iman.
Kemerdekaan yang hakiki dalam bidang ini adalah terbebasnya jiwa dari cengkeraman hawa nafsu dan kembalinya akhlak kepada tuntunan Ilahi.
Meneladani akhlak Rasulullah ﷺ, menyayangi anak-anak, memuliakan orang tua, menjaga lisan, menahan amarah, dan menebarkan kasih sayang. Inilah tanda-tanda jiwa yang benar-benar merdeka.
Kaum muslimin rahimakumullah
Ketiga: Di Bidang Muamalah dan Ekonomi
Penjajahan dalam bidang muamalah dan ekonomi terjadi ketika sistem hidup masyarakat dikendalikan oleh hawa nafsu, keserakahan, dan tipu daya syaitan. Menyebarlah praktek-praktek batil yang merusak tatanan sosial: perjudian, minuman keras, riba, pencurian, korupsi, hingga pembunuhan demi harta atau kepentingan dunia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar (minuman keras), judi, berhala, dan undian adalah najis termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah: 90)
Adapun tentang riba, Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 130)
Sistem ekonomi yang dibangun di atas riba, judi, dan kebohongan, hanya akan menghasilkan kesenjangan sosial, kemiskinan struktural, dan kerusakan moral.
Oleh karena itu, kemerdekaan yang sejati dalam bidang ekonomi adalah ketika umat ini kembali kepada prinsip muamalah Islam yang jujur, adil, dan berkah.
Transaksi dilakukan dengan kejujuran, bisnis dijalankan dengan amanah, dan harta digunakan untuk membangun, bukan menghancurkan.
Keempat: Di Bidang Waktu dan Gaya Hidup
Penjajahan di bidang ini terjadi ketika waktu yang merupakan nikmat besar dari Allah dihabiskan untuk hal-hal yang sia-sia, bahkan maksiat. Banyak kaum muslimin yang larut dalam hiburan berlebihan, kecanduan media sosial, game, tontonan tak bermanfaat, atau gaya hidup hedonis yang menjauhkan dari ibadah dan amal shalih.
Waktu berlalu tanpa arah, umur habis tanpa makna, sementara kematian semakin mendekat. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Kemerdekaan sejati dalam hal ini adalah saat seorang muslim mampu mengatur waktunya dengan bijak, mengisinya dengan kebaikan, ilmu, ibadah, dan amal produktif. Ia tidak menjadi hamba waktu, tren, atau dunia, tapi menjadikan waktu sebagai kendaraan menuju akhirat.
Kaum muslimin rahimakumullah
Memperingati hari kemerdekaan adalah momentum yang berharga. Namun lebih dari sekadar upacara dan perayaan, kita perlu kembali merenungi: sudahkah kita benar-benar merdeka sebagai hamba Allah? Merdeka dari syirik dan hawa nafsu, merdeka dari riba dan maksiat, merdeka dari hidup tanpa arah?
Kaum muslimin jama’ah jumat rahimakumullah
Demikian khutbah pertama ini, masih banyak hal tentang kemerdekaan, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudara kita di Palestina, dan kebaikan untuk pemimpin kita, semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati setiap kita, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الحَاجَات
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَأَهْلِنَا، وَلِكُلِّ مَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
