Khutbah Jumat
Indonesia Raya Merdeka
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyirol muslimin jama’ah jumat yang semoga diampuni dan dirahmati Allah Ta’ala.
Mari terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan serta memperbanyak shalawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ.
Pada kesempatan khutbah kali ini, izinkan kami selaku khatib untuk membawakan beberapa hal tentang kemerdekaan negara kesatuan republik indonesia, luar biasanya perjuangan pendahulu kita, dan makna kemerdekaan sesungguhnya, serta cara menjaga kemerdekaan yang telah diraih.
Kaum muslimin rahimakumullah
Betul-betul perjuangan yang sangat dahsyat amat sangat hebat, peperangan, pertempuran dan jihad nenek moyang leluhur kita terdahulu melantunkan seruan merdeka seraya bertakbir mengagungkan Allah yang Maha kuasa.
Pengorbanan para mujahidin indonesia yang begitu luar biasa, mengorbankan harta, darah, pikiran, waktu, tenaga, jiwa, raga, dan semua bentuk pengorbanan mereka juangkan untuk merebut kembali kemerdekaan yang dijajah oleh para biadab dan para pengkhianat bangsa.
Sekiranya bukan karena berkat karunia Allah Ta’ala dan rahmatNya kemudian keinginan luhur para pendahulu kita, maka sampai sekarang kita belum merasakan kenyamanan dan keamanan dalam kehidupan kita di negeri tercinta, mari berterima kasih kepada seluruh leluhur kita, semoga Allah Ta’ala menerima dan membalas terbaik segala juang dan korban yang telah mereka lakukan untuk bangsa ini.
Rasulullah ﷺ bersabda,
لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah siapa yang tidak pintar berterima kasih pada sesama manusia.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi).
Kaum muslimin jama’ah jumat yang berbahagia
Makna kemerdekaan bukanlah kebebasan melakukan apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsu kita, bukanlah kebebasan melakukan dosa dan maksiat kapanpun di manapun, bukanlah kebebasan menghancurkan dan merusak semau kita, bukan!
Namun makna kemerdekaan ketika kita mau dikontrol dan diatur oleh Allah Ta’ala yang telah memberikan nikmat kemerdekaan itu, ketika kita menyembah satu-satunya semata hanya kepada Allah Ta’ala, dan merdeka dari penyembahan kepada selain Allah Ta’ala. Syekh Utsaimin rahimahullah mengatakan,
الْعُبُودِيَّةُ لِلَّهِ هِيَ حَقِيْقَةُ الْحُرِّيَّةِ، فَمَنْ لَمْ يَتَعَبَّدْ لَهُ، كَانَ عَابِدًا لِغَيْرِهِ
“Menjadi hamba Allah, itulah kemerdekaan yang hakiki, karena siapapun yang tidak menghamba kepada Allah, dia pasti menghamba kepada yang selain-Nya..” [Syarah Akidah Wasithiyyah, 365]
Maka siapapun yang menghalangi seorang hamba Allah Ta’ala untuk beribadah kepadaNya maka mereka adalah para penjajah terbesar yang perlu dilawan untuk meraih kemerdekaan beribadah, karena pada hakikatnya tujuan kehidupan kita di dunia ini untuk beribadah kepada Allah Ta’ala hingga ajal menjemput. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. [Qs. Adz-Dzariyat: 56]
وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ
dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu. [Qs. Al-Hijr: 99]
Seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang mulia Rib’iy bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan kepada Rustum panglima Persia dalam perang Al Qadisiyah,
اللهُ ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ العِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ، وَمِنْ ضِيْقِ الدُّنْيَا إِلَى سَعَتِهَا، وَمِنْ جُوْرِ الأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الإِسْلَامِ
Allah telah mengutus kami untuk memerdekakan siapa saja yang dikehendakinya dari penghambaan kepada makhluk kepada penghambaan kepada Allah, dari sempitnya dunia kepada keluasannya, dan dari kezaliman agama-agama kepada keadilan Islam. (al Bidayah wan Nihayah 7/49)
Kaum muslimin rahimakumullah
Tentunya ibadah kepada Allah Ta’ala bukan sekedar ibadah shalat, puasa, zakat dan haji, namun segala aspek kehidupan telah diatur oleh Allah ‘Azza wa Jalla maka itulah yang seharusnya diterapkan dalam berbangsa dan bernegara, dari segi muamalah yang berkah, akhlaq yang mulia, dan hukum yang bijaksana.
Ketika kita semua hanya menjalankan segala perintah Allah Ta’ala dan menjauhi segala laranganNya maka inilah di antara cara menjaga kemerdekaan yang telah diraih, bukankah kaum qurays telah diingatkan Allah Ta’ala agar menyembah kepadaNya dan menggandengkan dengan kenikmatan makanan dan keamanan yang diberikan kepada mereka.
فَلۡيَعۡبُدُواْ رَبَّ هَٰذَا ٱلۡبَيۡتِ
Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka`bah),
الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan. [Qs. Quraisy: 3-4]
Artinya jika mereka tidak menyembah Allah Ta’ala saja, maka mereka akan ditimpakan kelaparan dan ketakutan.
Di antara bentuk penjagaan kemerdekaan ialah perbanyak bersyukur kepada Allah Ta’ala, jangan sampai seperti negeri yang diberikan kepada mereka kemerdekaan lalu mereka kufur sehingga Allah Ta’ala timpakan kepada mereka bencana lapar dan takut.
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat. [Qs. An-Nahl: 112]
Kaum muslimin para penikmat kemerdekaan yang berbahagia
Indonesia raya, merdeka, merdeka! tanahku, negeriku yang kucinta
indonesia raya, merdeka, merdeka!
hiduplah indonesia raya!
Demikian khutbah pertama, masih banyak hal tentang indonesia merdeka, jangan lupa doakan kebaikan untuk saudara-saudari kita di Palestina, semoga Allah mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah, aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
