Khutbah Jumat
Penjajah Kejahilan
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا لِلْأَعْمَالِ الْجَارِيَة, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ والبَرَكَاتُ عَلَى خَيْرِ البَرِيَّة، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالذُّرِّيَّة
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَ رْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral muslimin jama’ah jumat yang berbahagia
Alhamdulillah, berkat rahmat Allah yang maha kuasa mengaruniakan kemerdekaan kepada bangsa indonesia sehingga sampai saat ini kita masih merasakan keamanan dan kenyamanan hidup di negeri tercinta.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kemerdekaan bukanlah sebatas merdeka dari para penjajah musuh bangsa, penindas dan penganiaya negeri, namun lebih dari itu, kita perlu merdeka dari kebodohan yang merajalela. Apakah bodoh dari segi aqidah, ibadah, akhlaq, ataupun muamalat.
Saat ini, kita tidak lagi berperang dengan bambu runcing, maupun senjata lainnya, namun perang kita adalah perang melawan kejahilan yang merebak di mana-mana. Sebagian anak bangsa tidak mau peduli dengan pendidikan terutama pendidikan agama, secara khusus agama islam.
Kaum muslimin rahimakumullah
Kalau kita mau perhatikan di dalam al Quran, Allah Ta’ala tidaklah pernah menyuruh nabiNya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam meminta suatu penambahan kecuali ilmu. Allah Ta’ala berfirman,
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” [Qs Tha-Ha: 114]
Kebutuhan terhadap ilmu agama islam lebih dibutuhkan dari pada kebutuhan kepada makanan dan minuman. Imam Ahmad pernah mengatakan,
النَّاسُ إِلىَ الْعِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهُمْ إِلىَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ؛ لِأنَّ المَرْءَ يَحْتَاجُ إِلىَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فِي الْيَوْمِ مَرَّةّ أَوْ مَرَّتَيْن، وَحَاجَتُهُ إِلىَ الْعِلْمِ بِعَدَدِ الْأَنْفَاسِ
“Kebutuhan manusia terhadap ilmu itu melebihi kebutuhannya terhadap makan dan minum. Karena seseorang membutuhkan makanan dan minuman dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun kebutuhannya terhadap ilmu itu sebanyak tarikan nafasnya.” (I’lamul muwaqqi’in libnil qayyim, 2:56)
Bahkan jika kita sebagai orang yang berilmu tetap selalu membutuhkan penambahan ilmu, meskipun hanya sebagai muroja’ah dan mengingatkan kembali memori ilmu yang pernah kita dapatkan, karena manusia tempatnya pelupa perlu untuk selalu saling ingat mengingatkan. Allah Ta’ala berfirman,
وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin. [Qs Adz-Dzariyat: 55]
فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ
“Maka berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat.”
سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ
“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.”
وَيَتَجَنَّبُهَا ٱلۡأَشۡقَى
“Dan orang yang celaka akan menjauhinya” [Qs. Al-A’la: 9-11]
Kaum muslimin jamaah jumat yang berbahagia
Segala gerak gerik butuh ilmu, setiap tindak tanduk butuh ilmu, semua ucapan dan perbuatan butuh ilmu, tidak asal-asalan menganggap sesuatu yang baik menurut perasaan lantas kita langsung mengerjakannya tanpa menanyakan kepada ahli ilmu terlebih dahulu.
Hidup beragama islam ada aturannya, mesti dan harus sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tidak sekedar mengandalkan keikhlasan, meskipun kita menganggapnya baik, maka perlu belajar belajar dan belajar. Makanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak’.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala
Ada banyak sarana dan wasilah mendapatkan ilmu, seperti dengan mendengarkan khutbah secara seksama, mendatangi pengajian-pengajian, menghadiri majlis-majlis ilmu, mendengar ceramah agama, membaca buku-buku islam, mengikuti akun-akun yang postingannya kebanyakan seputar ilmu dan nasehat, dan seterusnya.
Semua fasilitas menuju ilmu sudah sangat mudah, banyaknya aplikasi dan tayangan islami, tersebarnya halaqah-halaqah alquran dan hadis, maraknya majlis taklim, tinggal bagaimana kita melawan penjajah nafsu dan kemalasan berangkat ke medan perang memberantas kebodohan dan kejahilan yang merebak.
Jama’ah jumat yang berbahagia
Termasuk kebodohan ketika membiarkan diri dan anak kita menonton dan menyaksikan hal-hal yang tidak pantas, karena tontonan pada hakikatnya adalah tuntunan yang akan membentuk karakter seseorang, maka tuntunan dan tuntutan terbaik adalah ketika kita banyak menghadiri perkumpulan orang-orang yang mau masuk surga dengan mudah dengan jalan ilmu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka akan Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699)
Demikian khutbah pertama, semoga Allah memberikan kita semua kekuatan dalam memberantas penjajah kejahilan dari diri dan orang lain, serta memasukkan kita semua dalam surgaNya dengan mudah, aamiin
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسࣲ وَٰحِدَةࣲ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالࣰا كَثِیرࣰا وَنِسَاۤءࣰۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِی تَسَاۤءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَیۡكُمۡ رَقِیبࣰا، أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin rahimakumullah
Mari memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّاۤۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡعَلِیمُ
رَبَّنَا تُبۡ عَلَیۡنَاۤۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِیمُ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ
إِنَّ ٱللَّهَ یَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَـٰنِ وَإِیتَاۤىِٕ ذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ وَیَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَاۤءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡیِۚ یَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ
سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِینَ وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
Penulis: Tim Ilmiyah Yayasan Amal Jariyah Indonesia
