| قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي ۖ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ |
| قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ |
Artinya:
Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”.
Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”.
Penjelasan tadabbur ayat:
Ayat ini mengisahkan tentang orang-orang Yahudi yang enggan berjihad di jalan Allah. Ayat ini juga memberikan gambaran kepada kita tentang karakteristik dan kefasikan orang-orang Yahudi.
Apa yang dimaksud dengan fasik? Fasik adalah keluarnya manusia dari batasan-batasan syariat dan melawan hukum-hukum syariat dengan keburukan dan amal yang diharamkan seperti dosa-dosa besar dan terus menerus melaksanakan dosa-dosa kecil.
Beberapa hal yang dapat ditadabburi dari Q.S Al-Maidah ayat 24-25 tersebut adalah:
- Akan senantiasa ada orang-orang yang melemahkan perjuangan, dan mereka adalah orang-orang fasik.
- Orang-orang fasik itu bukan sekedar perkataannya yang melemahkan. Bahkan kefasikannya saja sudah cukup untuk melemahkan perjuangan.
| Visi dan keinginannya |
| Kefasikan |
| Semangatnya |
| Perkataan |
| Orang-orang Fasik |
| Perbuatan |
Ketinggian visi sangat dipengaruhi oleh kemuliaan dan kebaikan seseorang. Jika ia terjatuh pada kemaksiatan dan dosa, maka hal tersebut akan berpengaruh pada ketinggian visi dan keiinginannya.
Sejarah mencatat bahwa, beragam prestasi (khususnya akhirat) yang dihasilkan oleh seseorang, akan membuat syaithan tidak tenang dan membiarkannya. Sebab jika dibiarkan begitu saja, maka manusia tersebut akan bergerak menuju derajat kemuliaan.
- Semakin tinggi prestasi akhirat, semakin hebat syaithon dan godaannya yang datang untuk merusak prestasi-prestasi akhirat tersebut. hal ini dapat kita lihat dari beberapa kisah maupun hadits yang disampaikan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. yakni:
- Kisah israiliyat, tentang seorang perempuan yang dititipkan pada ahli ibadah (rahib) bernama Barshisha yang kemudian berzina, membunuh, dan pada akhirnya mati dalam keadaa kafir.
Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa ada seorang wanita menjadi pengembala kambing dan ia memiliki empat orang saudara. Suatu saat ia tinggal di shawma’ah (pertapaan rahib atau rumah ibadah seorang biara). Waktu berlalu, akhirnya rahib tadi menghampiri wanita tersebut, hingga ia hamil. Setan pun menghampirinya. Setan berkata kepada rahib tersebut, “Sudahlah bunuhlah dia, lalu kuburkanlah. Engkau adalah orang yang dikenal jujur dan ucapanmu pasti didengar.” Lantas rahib tersebut membunuh wanita tadi, lalu ia menguburkannya.
Diceritakan bahwa setan lantas mendatangi saudara-saudaranya dalam mimpi mereka. Setan berkata kepada mereka dalam mimpi, “Rahib tersebut yang biasanya berada di rumah ibadahnya tega berzina dengan saudara kalian, hingga ia hamil, lantas ia membunuhnya, kemudian menguburkannya di tempat ini dan ini.” Ketika datang pagi, salah seorang dari empat saudara tersebut mengatakan, “Demi Allah, semalam aku telah bermimpi suatu mimpi yang baiknya aku ceritakan kepada kalian ataukah tidak.” Mereka berkata, “Jangan, tetap ceritakan kepada kami.” Lantas diceritakanlah hal tadi. Salah seorang dari mereka berkata, “Demi Allah, aku juga sama telah bermimpi seperti itu.” Salah seorang dari mereka berkata lagi, “Demi Allah, aku bermimpi yang sama pula.” Mereka berkata lagi, “Demi Allah, ini pasti telah terjadi sesuatu.” Akhirnya mereka bergerak dan meminta tolong kepada raja mereka untuk mengatasi rahib tersebut. Mereka lantas mendatangi rahib tadi, kemudian mendudukkannya lantas membawanya pergi.
Kemudian setan mendatangi rahib tadi lantas berkata, “Aku yang telah menjerumuskan engkau dalam kejahatan ini, tentu yang bisa menyelamatkanmu darinya hanyalah aku. Maka sekarang sujudlah padaku dengan sekali sujud, maka aku akan menyelamatkanmu dari masalah besarmu.” Kemudian rahib tadi sujud kepada setan. Ketika raja mereka datang, setan pun berlepas diri dari rahib tersebut. Rahib tersebut tetap dikenakan hukuman atas tindakan kejahatannya, ia pun dibunuh.
- Kisah 3 orang pertama yang dimasukkan kedalam neraka.
Abu Hurairah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.’
- Hadits Nabi tentang seseorang yang jarakanya dengan Syurga tinggal sehasta.
Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda,…”Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Bad’ul Khalq)
- Kisah tentang paman Rasulullah, Abu Tholib bin Abdul Muthalib, yang tidak mendapatkan hidayah hingga wafatnya beliau.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada pamannya:“Ucapkanlah laa ilaaha illallaah, nanti akan kupersaksikan untukmu di hari kiamat.” Abu Thalib menjawab, Kalau tidak khawatir dicela oleh orang-orang Quraisy. Mereka akan berkata, ‘Abu Thalib mengucapkan itu karena ia panik (menjelang wafat)’. Akan kuucapkan kalimat itu sehingga membuatmu senang.”
Kemudian Allah menurunkan firman-Nya, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak mampu menunjuki orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah-lah yang menunjuki siapa yang Dia kehendaki.’ (QS. Al-Qashash: 56). (Riwayat Muslim dalam Kitab al-Iman, Bab Awwalul Iman Qawlu: laa ilaaha illalllaah, 25)
- Kisah tentang Imam Ahmad yang digoda oleh syaithon di akhir kehidupannya dengan cara memujinya agar beliau menjadi ujub dan bangga dengan prestasi akhirat beliau, namun syaithon tidak berhasil.
Diceritakan oleh Abdullah putra Imam Ahmad, Aku menghadiri proses meninggalnya bapakku, Ahmad. Aku membawa selembar kain untuk mengikat jenggot beliau. Beliau kadang pingsan dan sadar lagi. Lalu beliau berisyarat dengan tangannya, sambil berkata, “Tidak, menjauh…. Tidak, menjauh…” beliau lakukan hal itu berulang kali. Maka aku tanyakan ke beliau, “Wahai ayahanda, apa yang Anda lihat? Beliau menjawab, “Sesungguhnya setan berdiri di sampingku sambil menggingit jarinya, dia mengatakan, ‘Wahai Ahmad, aku kehilangan dirimu (tidak sanggup menyesatkanmu). Aku katakan: “Tidak, menjauhlah…. Tidak, menjauhlah….” (Tadzkirah Al-Qurthubi, Hal. 186)
- Contoh orang-orang yang mau masuk surga. Enggan mentaati perintah Nabinya. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambahwa beliau bersabda, “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga“ (H.R Bukhari)
- Kebaikan itu bisa dipengaruhi oleh orang lain, demikian pula dengan keburukan.
- Seorang mukmin dalam mewujudkan prestasi akhiratnya tidak mengeluh kecuali hanya kepada Allah.
- Tugas seorang mukmin adalah beramal, berkihtiar, berjuang dalam taat kepada Allah, adapun hasil perjuangan itu urusan Allah.
- Lingkungan pembinaan dan keadaan mereka sebelumnya (dijajah oleh firaun) itu sangat berpengaruh terhadap mentalitas perjuangan mereka.
- Janji Allah tidak bisa diyakini dengan orang-orang dengan mentalitas seperti kaum Nabi Musa.
- Keberanian hanya dimiliki oleh orang-orang yang yakin kepada Allah (orang-orang beriman) dan sebaliknya, rasa takut, khawatir, resah hanya untuk mereka orang-orang yang fasik.
- Keyakinan itu berbanding lurus dengan ketaatannya kepada Allah.
- Seorang mukmin tidak pernah lepas dan lelah untuk senantiasa bermunajat kepada Allah (ayat 25)
- Orang-orang yang tidak mengikuti ajakan Rasul, maka mereka akan dihinakan oleh Allah.
- Karakter pembangkang pada diri Bani Israil.
- Sehebat apapun Musa, beliau tetap membutuhkan harun.
- Perjuangan itu tidak membutuhkan kita, tetapi kitalah yang membutuhkan perjuangan, untuk menghindarkan diri dari keterhinaan. Maka terlibatlah, berkontribusilah.
Demkian beberapa tadabbur Q.S Al-Maidah ayat 24 – 25 yang dilakukan pada hari rabu, 17 Juli 2019. Semoga memberikan banyak manfaat bagi para pembaca. Untuk mendapatkan manfaat dan pahala yang lebih besar, silahkan menyebarluaskannya. Barakallahufiikum.